HomeREFLEKSIDISKUSINgobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro
nera talk

Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro

DISKUSI KOMUNITAS MITRA KARYA REFLEKSI 0 1 likes 655 views

JUMAT (09/06/17) bertempat  di Warkop Mbah Cokro, Nera Academia kembali menggelar Neratalk dengan judul “Pancasila Masih Ada”. Neratalk merupakan kegiatan rutin Nera Academia yang dikemas sebagai diskusi populer yang dilaksanakan ruang-ruang publik.  Neratalk 2017  mengangkat tema “Ke-Indonesi-an”.  Pada tahun sebelumnya (2016)  #neratalk membahas  “ Penceritaan Sejarah Indonesia”.

Baca juga : Mengenal Nera Academia dan www. Idenera.com

“Diskusi ini bukan kegiatan “latah” karena peristiwa radikalisme yang akhir-akhir ini sering terjadi atau pun karena Bapak Presiden mencanangkan Pekan Pancasila. Kegiatan ini memang sudah direncanakan sejak awal karena pada tahun ini tema yang diangkat adalah Ke-Indonesia-an,” jelas Alfredo, moderator diskusi yang juga  fasilitator Nera Academia dan mahasiswa UKDC Surabaya.

Alfredo, moderator diskusi yang juga fasilitator Nera Academia dan mahasiswa UKDC Surabaya. Foto : Idenera

Diskusi diawali dengan curah gagasan dengan pertanyaan “Adakah yang memasang profil picture  atau membuat atau membuat status dengan #Saya Pancasila, #Saya Indonesia di medsos?”. Ternyata jawabannya beragam, ada yang sengaja memasang karena mau menunjukkan bahwa dirinya juga sadar dan mangamalkan Pancasila, serta sebagai ajakan atau himbauan kepada teman-temannya atau followers untuk sadar Pancasila juga. Ada juga yang tidak.

BACA JUGA :   Menanggapi Meliorisme William James : Kemungkinan Buruk Kehendak Bebas   

“Untuk mengamalkan Pancasila tidak hanya ditunjukkan dengan memasang profil picture  atau membuat atau membuat status dengan hastag Saya Pancasila, Saya Indonesia di medsos” ungkap Leo, mahasiswa yang aktif di OMK SMK Pagesangan Surabaya.

Jhon, mahasiswa Unitomo berpendapat sama “Ada cara lain yang lebih penting, salah satunya ya dengan menghadiri acara seperti ini, berjumpa dengan banyak orang, dan berdiskusi. Karena dengan cara ini menurut saya akan lebih berdampak daripada dengan memasang profile picture  atau membuat atau membuat status dengan hastag Saya Pancasila, Saya Indonesia di medsos,”

Sebagai pemantik  diskusi, Nera Academia memutar film berjudul “DEBAR” yang disutradarai oleh Lya Adonara. Film ini berisi pendapat orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, usia, suku, dan agama tentang Pancasila. Film dokumenter berdurasi 15 menit ini, diproduksi Nera Academia sebagai bahan diskusi di komunitas dan mitra karya.

BACA JUGA :   Rekrutmen Relawan Kelas Tunas, Program pendampingan anak-anak oleh Nera Academia

Film Debar dapat dilihat dengan subscribe ke kanal youtube NERA ACADEMIA

Dalam suasana guyup ditemani suguhan jajanan pasar khas Mbah Cokro, tema yang berat ini jadi ringan.  Semua komunitas diberikan kesempatan bertukar gagasan, juga tidak ketinggalan tamu-tamu Mbah Cokro yang awalnya hanya datang ngopi larut dan terlibat dalam diskusi.

“Saya bersyukur karena adanya peristiwa radikalisme akhir-akhir ini. Mungkin, kalau tidak ada peristiwa tersebut, tidak akan ada yang ingat dan membahas Pancasila yang marak seperti saat ini,” kata Lasmi, seorang guru yang sengaja datang untuk berdiskusi.

Penampilan perkusi oleh Sanggar Alfaz Porong. Foto : Idenera

Selain jadi wadah diskusi, Neratalk juga jadi ajang  kolaborasi komunitas-komunitas orang muda di Surabaya.  Komunitas yang berkolaborasi dengan Nera Academia pada sesi 2017 ini diantaranya PPM (Pelayanan Pastoral Mahasiswa) Surabaya, UKM Seni Rupa UKDC, Warung Mbah Cokro, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Cogito, Lesnika (lembaga Studi Etnika) Surabaya, Pusham Surabaya, Kristen Hijau, Unit Kegiatan Mahasiswa Katolik (UKMK) St. Paulus Unitomo Surabaya, Prajurit Pelangi Surabaya, Sanggar AL-FAZ Porong, Akar Teki Indonesia, LPM Acta Surya Stikosa AWS Surabaya, OMK Sakramen Maha Kudus Pagesangan, Nera Kopi, dan Kaos Kata.

BACA JUGA :   Telah dibuka Pendaftaran Sekolah Ansos 2017

Selain berdiskusi,  setiap komunitas juga menampilkan apresiasi seni.  Sanggar Al-faz dari Porong menyihir tamu dengan permainan perkusi yang rancak. Ada juga penampilan musik akustik dan musikalisasi puisi dari Cogito, Akar Teki Indonesia, GEMA, PPM, OMK SMK, dan Mas Toteng MT seorang penyair dan aktivis  Teater Sapu Lidi Surabaya.

Please share,