Sengsara yang Aneh !

0 10 views share

Dalam hatinya dia selalu bergerumuh. Terbuai kenangan masa lalu: masa yang nyata dan masa yang dibuat-buat. Dia selalu tampak sedih karena lapar. Lapar akan hawa napsu yang menggila di sekitarnya.

Mengapa seorang manusia seperti itu harus ada. Menyengsarakan dirinya dan membuat semua orang mengantuk. Seekor kerbau masih lebih baik dari pada dia. Kerbau bersemangat—belum tentu kalau dia dicambuk dan diludahi pantatnya seperti kerbau dia akan berubah. Sekali lagi aku katakan pada kalian kalau kerbau masih lebih tangguh daripada dia.

Pernah sesaat dia kumat sehabis melahap makan siang. Aku bingung. Apa yang sedang merasuki manusia satu ini. Perut kenyang, hasrat tersalurkan, pipis meluber, tapi tetap saja tak lebih baik dari kerbau. Kalau aku tanya dia menjawab seperti serigala yang tak punya taring. Selalu saja begitu, berlagak waras tapi setengah sakit jiwa; sok kejam ala serigala ompong; bicara seolah sedetik lagi mau mati.

Eyang pernah bercerita kalau setan hanya ada di sore, malam, hingga subuh. Aku ingat dongeng ini ketika aku masih menginjak sekolah dasar sambil Eyang mengelus-elus pantatku yang gemetaran karena takut. Aku takut melihat kolong kursi. Aku bagaikan melihat kegelapan yang terbentang di bawah kursi seluas satu dikali dua meter. Aku bayangkan kalau aku memasukinya aku akan melihat neraka. Waktu itu di kepalaku sudah terbayang bermacam setan yang ada di televisi. Tapi tangan keriput Eyang membuatku seketika tenang.

Dongeng itu nyata. Dia—manusia yang tak sebanding dengan kerbau itu—beraura seperti setan ketika memasuki sore dan malam hari: bibirnya menebal dan meruncing; matanya sayup-sayup seperti kucing jalang; kepalanya selalu menuduk; raut wajahnya menakutkan; suaranya membunuh kesenangan. Kalau sudah begini orang-orang biasanya akan kabur, kecuali aku. Bayangan akan penghuni kolong gelap di bawah kursi muncul kembali.

Pada tahun 1993 dia dilahirkan dari rahim seorang alim kampung. Saat itu tepat bulan puasa. Sebulan mendatang pertanggalan yahudi menunjukan tahun akan berganti. Pada saat itu aku baru berusia tiga tahun sebelas bulan lebih tiga hari. Dia disusui laiknya sapi menyusui anaknya. Dicumbu sepantasnya seorang bayi. Tubuhnya berwarna merah muda kekuningan. Dia di ayun-ayunkan menggunakan kain buatan lokal. Dia menangis sebab dekapan yang terlalu keras.

Tangisan pecah. Pantulannya terdengar hingga ke kamar mandi tetangga. Eyangku—sesaat membersihkan pantatku yang bau tai heran dengan suara tangisannya dan mengamuk, “Anak tetangga kita itu baru berusia dua tahun tapi sudah bisa membuat manusia tua seperti aku ini mengaku dosa untuk kesekian kali. Benar-benar bocah lelaki. ”

Tau-tau pantatku sudah bersih dan bau sabun. Eyang membasuhnya dengan campuran minyak kelapa dan daun pandan yang ditumbuk. Baunya manis. Hanya sedikit lengket dan membuatku risih.

Rumah kami berjauhan. Kalau aku hitung-hitung mungkin berjarak sembilan hingga sebelas rumah. Sembilan atau sebelas rumah itu jarak yang cukup jauh di kampungku. Itu disebabkan rumah-rumah di kampungku memang panjangnya bukan main. Padahal orang kampungku tidak kaya. Hanya saja gengsi yang mungkin membuat mereka terlihat kaya. Mereka rela hanya makan nasi putih dengan air bening berlauk ikan asin, asalkan keturunannya kelak bisa mengangkat derajad orang tua. Entah dengan menjadi maling atau pemurung yang berpendidikan itu tidak penting. Pegangan hidup mereka hanya derajad, derajad, dan derajad. Kebendaan yang harus diukur dengan kebudayaan kampungku, bukan lain.

Aku sudah bisa berpikir ketika Eyang menyuruhku untuk menjadi seperti anak-anak tetangga, khususnya dia yang tak sebanding dengan kerbau itu, untuk menjadi anak yang feodal: diam ketika disuruh diam; bicara ketika tetua menyuruh bicara; tidak tertawa ketika sebuah kentut adalah lucu; menahan diri hingga jidat menyentuh tanah. Aku menuruti semua perkataan Eyang. Bagiku dia segalanya. Manusia yang membasuh pantatku dari tai dengan sabun aroma pandan.

Aku tidak pintar di sekolah dasar. Aku biasa-biasa saja. Berbeda dengan dia. Dia pintar, tinggi, juga berprestasi. Akan tetapi dia sendiri. Aku kadang mengajaknya bermain dengan kumpulanku: anak-anak miskin yang hidup dari gengsi orang tua. Derajad bagi orang tuaku laksana Tuhan. Perbedaannya hanya terletak pada cara menyembahnya. Meskipun keduanya diraih dengan pengorbanan yang tak masuk akal tapi tetap saja mereka menyembahnya dengan perut kelaparan. Tapi dia menolak sadis. Dia menjawab dengan bibirnya yang menebal dan meruncing.

BACA JUGA :   Ceritaku Bareng Abang Ojol

Dia tetap sendiri. Anak yang tangisannya pernah membuat Eyang kaget itu menjadi ‘gelap’. Saat seluruh murid mencurahkan sinar kebahagiaan masa kanak-kanak, dia hanya mondar-mondir mengamati ketiga murid perempuan. Sering aku perhatikan di lapangan gereja yang becek dia mengamati ketiga murid perempuan dengan selingan lolongan anjing liar. Pikirku, dia menyukai salah satu dari ketiga murid itu. Aku sekedar menyamakannya dengan film yang aku tonton dirumah. Jika ada laki-laki menyukai seorang perempuan dia akan mengikuti dan mengamati perempuan itu hingga mata perempuan itu tertutup di atas kasur. Mungkin aku salah, sebab perempuan yang aku tonton di film itu seorang pelacur simpanan para bandar judi dan perwira muda tentara di Barat. Wajar jika semua orang menyukainya dan jadi bernafsu. Tanpa kecuali bocah berusia dua belas tahun.

Aku lima tahun hidup di kota besar dengan rasa pahit usiaku yang menginjak dua puluh tujuh tahun. Keadaannya membuatku tidak tahan berlama-lama. Semua hartaku dari kecil hingga besar—dari yang mahal hingga sakral—lenyap digondol maling-maling yang aku kenal wajahnya, istrinya, ataupun anaknya. Bahkan aku mengenal selembar majalah koleksinya. Maling-maling lainnya pun aku mengenalnya. Salah satunya menulis sajak yang aku kenali dengan jujur:

Aku menuntut untuk kembali. Tapi pada siapa atau pada apa. Demi siapa dan untuk apa. Berapa, siapa, dan apa yang aku hampir lupa. Kalau iya ini setan, mengapa wajahnya begitu nyata? Kalau ini cinta mengapa justru kabur?”

Sajak yang aku ingat betul dari seorang maling rosario bersalib emas, jimat dari Eyang agar aku bebas dari sial. Kesialan bisa datang tanpa ampun ketika sesuatu yang membebaskan dari kesialan itu di maling. Kesialan ke kesialan lain terus membawa pikiranku pada kampung halaman. Aku anggap ini sebagai wahyu dari Tuhan. Tidak lebih tidak kurang ajar.

Aku memutuskan kembali ke Sungai Buaya Putih, tempat aku lahir dan besar bersama dia yang tak sebanding dengan kerbau. Aku menaiki kapal feri selama duabelas jam melewati pulau-pulau kecil. Lalu oper menggunakan kapal klotok selama dua jam. Kenapa pulang selalu lebih terasa menyenangkan daripada pergi. Kata orang, pulang adalah melampiaskan dan pergi adalah mempertahankan. Dan bagiku ini sial: Kenapa bertahun-tahun aku harus pergi meninggalkannya?

Sungai Buaya Putih adalah perkampungan di tepi sungai besar. Kampungku terletak di tengah-tengah berisan kepulauan samudera Hindia. Ia pulau yang paling besar dan paling cantik; paling menggoda dan paling mengenaskan. Dan—Sungai Buaya Putih adalah kampung yang paling panjang di kota Bahlewau. Rumah terakhir saja mendekati lepas pantai yang langsung menuju ke selat Jawa.

Sesampainya di dermaga aku ditunggu oleh Antiku. Dia adalah adik dari Mamakku. Usianya lebih tua dua tahun dariku. Kami seperti adik dan kakak. Atau seperti pasangan muda-mudi kalau orang salah menilai. Bagiku itu wajar saja. Di jaman dulu banyak perjodohan antar tetangga. Anak-anak yang sudah akhil balik dan menstruasi biasanya akan dijodohkan. Tentu—penyebab dari itu adalah soal derajad sosial. Eyang menikah di usia enam belas tahun dengan Babuek yang lebih tua lima belas tahun darinya. Saat itu Babuek adalah seorang polisi. Eyang melahirkan Mamak di usianya yang ke enam belas tahun sebelas bulan. Mamak menikahi Bapak di usia yang sama dengan Eyang. Dua tahun sebelumnya Antiku lahir.

Di perjalanan kerumah aku menyapa dua atau empat tetangga yang aku kenal dengan senyuman biasa. Ini yang aku sayangi untuk aku bunuh ketika aku pergi: jalan kecil dan panjang di bibir sungai, sore yang tenang, air sungai yang bercahaya, langit merah dan bau amis sungai khas kampung Sungai Buaya Putih. Semuanya membuatku melamun memikirkan sesuatu: mungkinkah Tuhan tidak sengaja menjatuhkan sedikit air dari cawan tanah liatNya ke Sungai Buaya Putih ketika asyik melakukan perjamuan kudus dengan para muridnya.

BACA JUGA :   Valiant Ryvanthapala : Kamu berdarah Tionghoa akan sulit jadi ASN

“Apa yang kamu pikirkan, Dus?”, tanya Anti.

“Tidak ada, Anti,” jawabku.

Anti melanjutkan dengan menggeber motor warisan Babuek, “kamu tetap ajah suka melamun.” Aku tidak menaggapinya. Lebih jujurnya aku tidak peduli. Aku terlalu asyik melepaskan semua kenangan di Sungai Buaya Putih.

“Hati-hati, Anti, pean bisa membuat kita jatuh,” tegurku.

Aku teringat Caletus setelah melihat jamban berwarna hijau lumut dengan lampu gantung yang kecil. Aku teringat manusia yang tak sebanding dengan kerbau itu, sebab beberapa meter lagi adalah rumahnya. Jamban itu jamban ‘prasejarah’. Usianya mungkin sudah setua Eyang. Eyang bilang jamban itu adalah jamban pertama di kampung. Dulu dibuat oleh Marsuki, paman buyutku dari Babuek. Kakinya empat terbuat dari kayu ulin. Dindingnya hanya pelempah pisang yang di keringkan. Atapnya terbuka menatap ke langit.

Tanpa sadar aku menanyakan bagaimana kabar Caletus pada Anti. Sekilas aku lihat di kaca spion, raut wajah Anti menampakan senyum yang tanggung. Bibirnya yang merah alami bergerak sebentar ke arah kanan, sebentar disusul ke arah kiri, lalu munculah senyuman yang menggoda pikiranku dengan tanya.

“Aku jarang melihatnya. Dia tidak mau berkumpul dengan orang lain, Dus, selain dengan tiga perempuan kawanmu sewaktu sekolah dasar.” Kata Anti.

Eyang memelukku. Aku sudah ditunggu-tunggu sedari subuh. Anti langsung masuk dan mengunci kamarnya. Eyang memasakanku sayur daun singkong dengan ikan gabus goreng. Aku melahapnya rakus tanpa sendok garpu.

“Kenapa Anti tidak ikut makan?” tanyaku ke Eyang.

“Eyang tidak tahu, Dus. Semenjak Antimu jadi janda, suka-sukanya selalu dalam kamar. Keluar hanya menonton televisi atau pergi ke seberang beli baju.”

“Apa dia tidak mau menikah lagi?”, tambahku—mengusap-usap mulut dengan lap.

“Eyang tidak tahu.”

Dihantam balok oleh mantan suaminya setahun lalu mungkin masih membuat Antiku trauma. Setahun lalu Eyang menelepon, memberitahuku—dengan Bahasa Dayak Sungai Buaya Putih dan Bahasa nasional  yang bercampuran. Aku paham maksudnya tapi susah untuk mengulang. Di hari itu pun mereka pisah. Si mantan suami bangsat pergi ke Timur menambang emas membawa selingkuhannya: pemandu karaoke di warung Madonnna.

Seperti biasa aku bangun siang jam 10. Menelusuri panjangnya rumah Eyang, aku melihat kamar Anti masih tertutup. Hanya jendelanya yang sedikit terbuka. Sekilas aku lihat gantungan pakaian dalam warna hitam yang dijemur di atas kasurnya. Tapi Anti tidak di dalam. Tiba-tiba Anti muncul dibelakangku dengan bau sabun dan wajah serupa kuntilanak. Masih menggunakan handuk ia langsung masuk ke kamar dan menguncinya.

Pikirku dia pasti habis menangis semalaman. Di sekliling matanya menghitam.

Aku keluar membeli rokok dan bedak lokal. Bedak lokal adalah bedak yang bisa mendinginkan kulit wajah. Cuaca di Sungai Buaya Putih selalu panas kalau siang hari. Penduduk wajib menggunakan bedak yang terbuat dari beras itu untuk mendinginkan wajahnya sembari berkegiatan. Entah kenapa semakin tahun Sungai Buaya Putih semakin terasa panas. Kesejukan ketika aku sekolah dasar nyaris tak ada.

Aku bertemu Caletus di toko yang sama. Dia membeli barang yang sama. Dia kaget melihatku. Aku pun juga. Dia melirik takut melihatku. Aku tidak, aku ingin menyapanya. Tapi sengaja aku menunggu dia menyapaku dulu. Pada akhirnya kami berbarengan mengeluarkan suara.

“Kapan datang, Dus?”, tanya Caletus, dan aku juga menanyakan bagaimana kabarnya.

Kami berbincang sebentar membicarakan hal-hal yang baru di Sungai Buaya Putih. Dia menceritakan tentang suatu taman kota yang baru beberapa bulan di bangun oleh pemerintah daerah. Lokasinya di seberang Sungai Buaya Putih. Harus ditempuh dengan perahu penyeberangan. Dia lalu mengajakku.

BACA JUGA :   Menanggapi Meliorisme William James : Kemungkinan Buruk Kehendak Bebas   

“Kapan, Tus?” tanyaku.

“Nanti malam, Kak.” Jawab Caletus. “Aku bekerja di seberang, Kak, membuka warung. Dekat dengan taman kota. Kalau Kakak sempat mampir ajah,” lanjutnya dengan ramah.

Aku kembali kerumah dan Anti sedang duduk di ruang tamu. Ia membolak-balik koran mencari lowongan pekerjaan. Aku duduk berjauhan dengannya.

“Mana bedaknya, Dus?” minta Anti.

Begitu daruratnya bedak beras ini di Sungai Buaya Putih.

“Apa Anti mau bekerja? Apa tidak menikah lagi ajah, mencari pemuda-pemuda pegawai negeri tetangga kita? Aku lihat Anti masih layak seperti dulu lagi.” Tanyaku dengan tawa kecil.

“Memangnya apa yang kamu lihat dan kamu anggap layak, Dus—bokongku, dadaku? atau kulit mulusku?”

“Bukan itu maksudku, Anti.” jawabku kaget. “Aku lihat Anti masih muda dan cantik serta pintar berdandan, siapa tahu pemuda-pemuda tetangga kita tertarik.”

“Dus, aku ini perempuan dan aku janda beranak satu. Dimana harga dirinya di kampung kita ini seorang perempuan yang sudah mejanda menikah dengan perjaka pegawai negeri. Perjaka-perjaka itu lebih akan memilih perawan yang juling matanya ketimbang seorang janda seperti aku—ketimbang kedua orang tua mereka mati menanggung malu dan nafsu anaknya.”

“Tapi, Anti…,” Tiba-tiba Eyang muncul dibalik kelambu dengan wajah bermasker bedak dingin. Aku meninggalkan mereka berdua.

Terdengar dari dapur mereka sedang membicarakan sesuatu. Aku mengaduk teh pelan-pelan. Niatku untuk mendengarkan obrolan Eyang dan Anti. “Apa benar yang aku dengar adalah nama si manusia yang tak sebanding dengan kerbau itu: si Caletus. “Ah, bukan,” batinku.

Aku tak membenci Caletus. Secara manusiawi dia baik. Dia pelajar yang tekun. Pengabdi sejati orang tua. Kalau orang tuanya berkata A dan bukan B, dia mutlak mematuhinya. Hanya saja dia pendiam yang ultrakonservatif: seseorang yang selalu merasa bahwa hidupnya paling menderita di muka bumi. Orang-orang di sekitarnya selalu merasakan hal yang sama kalau-kalau, kebetulan berdekatan dengannya. Anti menceritakan padaku kalau salah satu dari ketiga perempuan teman dekatnya pernah terlihat menangis sambil menutup mukanya dengan kaos kaki. Anti bilang kalau sebelumnya perempuan itu baru saja pergi bersama Caletus ke hilir kampung.

Sesudah itu keempat sekawanan ini sudah jarang terlihat bersama lagi. Seingatku dan dari cerita Anti, Caletus tidak punya teman selain ketiga perempuan itu: perempuan-perempuan yang diamatinya ketika sekolah dasar. Aku sendiri tidak menyangka Caletus dapat berteman baik dengan mereka. Dulu di sekolah aku sendiri malas dekat-dekat dengan mereka. Mereka aneh. Satu sama lain kadang saling menghina tapi tetap berkawan hingga mereka dewasa. Aku curiga Caletus ikut menjadi aneh sebab bertahun-tahun berkawan dengan mereka. Mereka pergi selalu bersama kecuali kalau Caletus mampir ke jamban umum. Dia jantan di tengah-tengah tiga betina. Apa Caletus dan mereka memang cocok?! Entahlah!

Malam itu aku pergi ke tempat Caletus seorang diri. “Ramai sekali, Tus,” tanyaku basa-basi. Dia hanya diam memasang muka aneh. Bentuk wajahnya berbeda dengan ketika kami bertemu pertama kali. Bibir Caletus menebal dan meruncing; kepalanya tertunduk selalu menatap kebawah; matanya menatapku sinis; suaranya membunuh gairah malam mingguku; aurahnya merusak tatanan meja kopiku. Setan yang kubayangkan semasa kecil muncul.

Hampir semua tempat duduk penuh. Aku terpaksa duduk di luar. Aku mengenal salah satu pelanggan. Dia saudaraku jauh, Totok. Dia datang bersama seorang perempuan cantik dan montok. Sepuluh menit aku duduk, Totok dan perempuannya berpamitan pada Caletus. Tapi—lagi-lagi, Caletus tidak peduli dan wajahnya malah menjadi-jadi ketika perempuan cantik dan montok itu menjabat tangannya. “Sialan! Itu Anti. Ada sejarah apa dia dengan Caletus?!” tanyaku dalam hati.

Ilustrasi : Man vector created by freepik – www.freepik.com

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *