HomeNARASISEJARAHSitus Airlangga, Belahan Jowo

Situs Airlangga, Belahan Jowo

SEJARAH 0 3 likes 499 views

Melewati akhir pekan dengan jalan-jalan Sejarah (JJS)  dari Gapura hingga Petirtaan Belahan jadi pilihan liburan yang menarik. Situs ini berlokasi di sisi timur gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Dikisahkan bahwa situs ini merupakan peninggalan  Raja Airlangga. Tempat ini bagai beberapa kalangan dianggap sebagai salah satu episentrum kepercayaan dan kegiatan keagamaan masa lampau.

Sama seperti tempat serupa dilokasi lain, petirtaan ini jadi daya tarik wisata. Banyak pengunjung datang silih berganti dengan maksudnya sendiri-sendiri. Ada yang datang berdoa dan percaya airnya berhasiat, ngobrol sambil ngopi dan ada pula yang hanya numpang mandi.  Juga ada  yang sekadar berhenti melihat lihat, foto-foto dan sebagainya.

BACA JUGA :   Kampung Adat Tololela: “Hidden Beauty” di Balik Gunung Inerie

Dean MacCannel tahun 1992 menulis: “pariwisata tidak semata sebuah agregasi dari aktivitas-aktivitas komersial semata; ia juga merupakan sebuah pembentukan ideologi sejarah, alam dan tradisi; sebuah pembentukan yang memiliki kekuasaan untuk membentuk kembali budaya dan alam agar sesuai dengan keinginan-keinginannya sendiri.”

Mau diapakan situs seperti ini, sangat bergantung pada relasi kekuasaan yang ada dimasyarakat. Bila pemilik kuasa dipandu aktivitas komersial maka akan eksplotatif. Juga bila pemilik kuasa oposisi dari tradisi dan kebudayaan masa lalu akan destruktif. Pilihan yang terbatas tentunya.

Apakah relasi ini bisa dinegoisasi?. Pesimis bila melihat catatan keretakan hubungan komersialisasi, kepercayaan dominan versus budaya asli dan keselarasan. Seperti hal contoh paling nyata Borobudur. Bikhu Buddha Tibet asal Nepal, Geshe Tenzin Zopa menyentil wisatawan “Mereka hanya menjawab Borobudur itu indah. Tidak menjelaskan Borobudur indahnya seperti apa,”. Ini mau mengatakan wisatawan tidak paham Borobudur.

BACA JUGA :   Driyarkara : Mengkritik, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas preman

Kelompok optimis akan berpendapat “ Bali buktinya bisa mempertahankan kemagisan ditengah komersialisasi”. Nada ini cukup spekulatif karena Bali memeliki relasi kekuasaan yang unik. Bali dikuasai masyarakat Hindu yang dengan sendirinya menjaga keselarasan dengan alam, budaya, agama dan sejarahnya. Dan itu sudah selesai bagi masyrakat Bali.

Boleh jadi di Bali semuanya terjaga selaras dan harmonis. Namun bentangan peninggalan ini dari Sumatra hingga Jawa. Artinya sebagian besar ada di luar Bali.  Apakah ada solusi ?. Ada tentunya, meski minimal. Pengunjung yang melek sejarah, memberi contoh dan mau membagi cerita dibalik situs secara luas (literasi sejarah). Wisatawan yang melek sejarah budaya tentu tidak akan membiarkan batu bata candi diprotoli  untuk membangun sarana ibadat agama lain seperti yang terjadi di situs Airlangga.

BACA JUGA :   S.K. Trimurti, Umi Sardjono dan Ilmu Sejarah yang Androsentris

 

Andre Yuris –NERA ACADEMIA Surabaya.

Please share,