HomeREFLEKSIDISKUSI313 : Aksi Tempel Stiker Pribumi dan Politikus Demagog
Pribumi

313 : Aksi Tempel Stiker Pribumi dan Politikus Demagog

DISKUSI KEBUDAYAAN NARASI WARGA 0 5 likes 1.1K views

“ Mengapa keturunan Hadrami-Arab menjadi pribumi dan keturunan Tionghoa menjadi non-pribumi? Bukankah keduanya pada jaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda digolongkan sebagai “vreemde oosterlingen atau Timur Asing” yang punya hak dan keistimewaan yang berbeda dengan “pribumi” kulit gelap dan jidat lebar itu?” tulis Made Made Supriatma dihalaman facebooknya (31/032017).[1]

 

Komentar Made ini terkait aksi 313 yang berlangsung di Jakarta, jumat 31 maret 2017.  Aksi 313 ini merupakan unjuk rasa  yang digelar oleh Forum Umat Islam (FUI).  Ada pun tuntutan yang disampaikan para peserta  asksi seperti yang tertera dalam press release  dan konferensi pers 313 Kamis (30/3)  satu diantaranya adalah  Terdakwa penista Alquran, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masih bebas berkeliaran, padahal terdakwa kasus serupa segera ditangkap dan dijeboloskan dalam penjara. Tuntutan aksi 313 ini sama seperti aksi 212 yang juga berisi terkait Ahok. [2]

Namun yang menarik justru bukan soal “ tuntutan menjebloskan Ahok”, namun aksi penempelan stiker “ pribumi” pada kendaraan peserta aksi dan kendaraan yang melintasi tempat aksi. Foto aksi penempelan stiker “pribumi” tersebar di facebook dan twitter.

“Pribumi “lawan katanya  ” non-pribumi”.  Inilah yang menjadi pertanyaan.  Apa dan siapa yang dimaksudkan sebagai pribumi  atau non-pribumi ?.

KBBI menyebutkan Pribumi atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya.  Pribumi  bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). [3]

BACA JUGA :   Adven Sarbani : Jadi China Itu Biasa Saja, Apa yang Istimewa ?

Genetika Manusia Indonesia

Namun apa yang disebut asli atau tulen? Bila kata “Pribumi”  selalu mengandaikan yang ‘asli,’ yang ‘otentik.’ Bila diibaratkan tanaman dia merupakan galur murni. Kalau binatang, dia spesies yang genetiknya belum berubah. Namun adakah yang seperti di dunia ini atau di Indonesia?. Rasa-rasanya sudah sulit ditemukan.

Penelitian genetika membuktikan tak ada pemilik gen murni di Indonesia (bila tidak menyebutnya dengan kata nusantara). Manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika yang awalnya berasal dari Afrika.

Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman membuktikannya melalui studi genetika. Dia melakukan rekonstruksi dari 50.000 tahun pergerakan populasi manusia Nusantara dengan melibatkan 70 populasi etnik dari 12 pulau menggunakan penanda DNA.[4]

Dalam pembentukannya menjadi manusia Indonesia, kata Herawati, secara genetis terdapat empat gelombang migrasi yang berkontribusi. Gelombang awal, nenek moyang datang 50.000 tahun lalu melewati jalur selatan menuju Paparan Sunda yang ketika itu masih menggabungkan Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Malaya.

Penelitian ini  menguak populasi etnik yang mendiami Indonesia bagian barat dan timur memiliki gradasi pembauran genetik. “Nenek moyang penutur Austro-asiatik di Asia Tenggara yang terungkap dari data genomik menunjukkan adanya migrasi Austronesia ke jalur barat yang bercampur dengan penutur Austro-asiatik dan kemudian menetap di Indonesia barat,” ujarnya.

BACA JUGA :   Lewat ‘Surabaya Wani’, Pemuda-Pemudi Surabaya Bersama Memaknai Bhineka

Misalnya, gen manusia Jawa asli ternyata membawa gen Austro-asiatik dan Austronesia. Begitu pula manusia etnis Dayak dan manusia di Pulau Sumatera yang tampak pada etnis Batak Toba dan Batak Karo.

“Pribumi” dalam Sejarah

Dalam sejarah Indonesia,   kata “pribumi” maknanya politis. Pada masa kolonial Belanda, kata “pribumi”  dipakai sebagai istilah bahasa Melayu untuk Inlanders, salah satu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nusantara.

Oleh karena itu, penduduk Indonesia keturunan Cina, India, Arab  dimasukkan dalam kelompok lain yang disebut Vreemde Oosterlingen. Pengelompokan ini kemudian memunculkan perbedaan jabatan, pengupahan/penggajian, larangan penggunaan bahasa Belanda dan sebagainya. Ini dilakukan Belanda untuk mencegah interaksi, pembauran dan persatuan yang sudah mulai terjalin.

Ketakutan Pemerintah Kolonial Belanda bukannya tidak beralasan.  Relasi suku Tionghoa dan suku Jawa sudah dimulai sejak abad ke 5, di pesisir pantai Jawa Timur. Mereka menjalin relasi perdagangan rempah-rempah, dan banyak diantaranya menetap dan berasimilasi dengan penduduk setempat. Bila relasi ini terus menerus menguat, tentu akan mengancam monopoli dagang Belanda. Begitu pula dengan pedagang Arab dan India di pesisir Jawa Barat yang terus akrab dengan penduduk setempat.  Maka untuk memecah belah,  Belanda memberlakukan politik devide et Impera  melalui undang-undang kolonial Hindia Belanda tahun 1854.

BACA JUGA :   Konflik Suriah dan Polarisasinya di Indonesia

Politikus Demagog

Nah, kalau aksi 313 di Jakarta kembali memakai kata “pribumi dan non pribumi” maka mereka  meniru tabiat  penjajah.  Penggunaan kata”pribumi” juga secara tidak sadar melanggengkan penindasan itu sendiri. Bila dulu digunakan Belanda untuk mengina penduduk lokal, malah sekarang dipakai untuk “mengintimidasi” tetangga, teman dan warga Indonesia lainya.

Motif aksi ini juga dipastikan politis. Penggerak aksi ini, dengan sadar memberlakukan politik devide et Impera  untuk mencapai tujuan politiknya. Bila islam pun dilekatkan dengan aksi ini, maka bisa jadi “Islam” hanya di pakai untuk birahi politik para pemangku kepentingan aksi ini.

Politisasi kata “Pribumi” dan intimidasi “Non-Pribumi” inilah yang mesti dilawan. Potensi kerusakan politisasi ini hanya akan mempercepat usia Indonesia. Belum lagi ditambahi bumbu “ agama” yang ibarat cabe rawit yang takarannya kebanyakan dalam masakan.  Cabe “agama” ini akan merusak selera persatuan dan kesejahteraan Indonesia.

Jadi stop tipu-tipu “pribumi non pribumi” untuk menutupi kekurangcerdasan berpolitik. Ketidakcerdasan yang dipentontonkan di ibukota, tayangan televisi dan viral di sosial media hanya merusak citra diri. Tiputapu “pribumi”  ini hanya akan membuat politisi yang didukung,  dikenang dan dikenal  hanya sebagai demagog;  begitu pula tokoh pendukungnya.

Bahan Bacaan :

[1] https://www.facebook.com/m.supriatma/posts/10154703322403533?hc_location=ufi

[2] http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/03/30/onm6jr330-ini-tuntutan-aksi-bela-islam-313

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi

[4] http://historia.id/kuno/manusia-indonesia-adalah-campuran-beragam-genetika/2#detail-article

Featured Image : Foto Facebook  Ryan Panji

Please share,