HomeNARASIFILSAFATDriyarkara : Sosialitas Sebagai Tujuan Akhir Dari Pendidikan

Driyarkara : Sosialitas Sebagai Tujuan Akhir Dari Pendidikan

0 share

Dalam konsep pemikirannya tentang pendidikan, Driyarkara berpendapat bahwa pendidikan merupakan suatu cara untuk memanusiakan manusia muda, yang mana hal ini lebih di kenal dengan istiah hominisasis dan humanisasi. Hominisasi adalah suatu proses bagi manusia untuk menyadari dirinya tidak hanya sebagai makhluk biologis semata, tetapi juga sebagai seorang pribadi atau subjek, yaitu pribadi yang dapat menyadari atau mengerti akan dirinya, menempatkan diri dalam situasinya, mengambil sikap dan dapat menentukan dirinya sendiri. Sedangkan humanisasi adalah suatu proses bagi manusia berdasarkan budinya mengangkat alam menjadi alam manusiawi atau menjadi kebudayaan.

Dari uraian di atas, sangat jelas bahwa tujuan dari pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Proses pemunusiaan ini penting, karena sebagai persona manusia adalah makhluk sosial. Ia selalu ada dan hidup bersama dengan orang lain dan bisa dikatakan bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan sosial. Hal dapat dilihat ketika manusia lahir. Kalau tidak ada orang tua atau keluarga yang merawat, tidak mungkin seorang manusia bisa bertumbuh dan bertahan hidup. Dengan demikian, keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi manusia untuk mendapatkan pendidikan. Sebab, menurut Driyarkara, setiap proses dan peristiwa yang kita alami di mana pun kita berada, hal itu merupakan sebuah proses pendidikan. Proses pendidikan terjadi dalam ada dan hidup bersama. Sebab dalam ada dan hidup bersama, akan ada banyak pengalaman yang dialami manusia yang membuatnya semakin menyadari diri sebagai manusia.

BACA JUGA :   Ekoteologi Leonardo Boff

Baca juga : Hominisasi dan Humanisasi : Tawaran Memanusiakan Manusia dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan sesuatu yang fundamental dalam hidup manusia. Sebab manusia selalu ada dan hidup bersama dengan yang lain. Oleh sebab itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam hidup manusia. Bagi Driyarkara pendidikan mampu mengubah, menentukan, dan membentuk hidup manusia untuk semakin manusiawi. Untuk dapat memanusiakan manusia, maka pendidikan juga harus dilakukan dengan cinta yang murni, yaitu cinta yang mengarah bukan pada diri sendiri, tetapi pada kepentingan yang dicintai yakni yang di didik.

Sebagaimana yang telah dikatakan bahwa pendidikan merupakan pemanusiaan manusia khususnya manusia muda. Oleh karena itu, dalam pendidikan diajarkan nilai-nilai yang mendukung kelangsungan hidup bersama manusia, seperti nilai-nilai moral, budi pekerti, keagamaan, dan sebagainya. Lewat nilai-nilai yang ditanamkan, manusia dapat menjalani hidupnya dalam kebersamaan, melaksanakan kewajibannya, mencintai sesama sebagai saudara atau sahabat, menghormati keluhuran martabat sesama manusia dengan tidak mengobjekkan sesamanya. Nilai-nilai tersebut harus direalisasikan dalam hidup sehingga bisa menjadi suatu karakter yang baik dalam membangun relasi dengan sesama, sehingga dapat tercipta keharmonisan dalam kehidupan dengan sesama.

BACA JUGA :   Anastasius Welerubun : Saat kebhinekaan bangsa kita terancam

Baca juga : Driyarkara : Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

Berkenaan dengan sosialitas sebagai tujuan akhir dari pendidikan dapat kita alami dalam hidup sehari-hari. Tidak jarang bahwa kita diajarkan untuk selalu bersikap ramah, bertutur kata yang sopan, bersikap adil, tanggung jawab, berbicara dan bersikap jujur dan masih banyak lagi contoh lain, yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup kita dalam membangun relasi dengan sesama. Selain itu, kita juga diajarkan untuk memiliki keahlian atau kompetensi sehingga kita bisa bermanfaat bagi sesama dalam hidup kita.

 

* Oleh : Adrianus Aloysius Mite Lamba, Mahasiswa Fakultas filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pernah dimuat di Jurnal Wiweka 2016, atas kerjasama dengan www.idenera.com diterbitkan kembali agar bisa jadi bahan diskusi.

** Footnote dengan sengaja kami tidak cantumkan agar kita berusaha mencari dan membaca buku-buku terkait. Postingan ini sebagai pembuka diskusi.  Seri Pemikiran Tokoh : Driyarkara, akan diposting dalam 7 seri tulisan. 

Bersambung : Cinta Kasih Sebagai Dasar Kesatuan Dalam Sosialitas

Daftar bacaan:

BACA JUGA :   Kelas Tunas Cepu : Belajar Habitus Baru Tentang Menghargai, Menghormati  dan  Mendengarkan

SUDIARJA, dkk. (eds), Karya Lengkap Driyarkara

MOHAMAD INDRA, Peran Driyarkara terhadap Bangsa: Sebuah Tinjauan Umum terhadap Pemikirannya, FIB UI, Jakarta, 2009, 22.

MUDJI SUTRISNO, Driyarkara. Dialog-Dialog Panjang Bersama Penulis, Obor, Jakarta, 2000

L. KRISTIANO NUGRAHA, “Mencari Eksistensi Manusia

BADAN PERENTJANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS), Peraturan – Peraturan, Sekretariat Badan Perentjanaan Pembangunan Nasional Taman Suropati 2 — Djakarta, 1964

Sudah dibaca 3 , Hari ini 1 

Please share,