HomeNARASIFILSAFATDriyarkara : Cinta Kasih Sebagai Dasar Kesatuan Dalam Sosialitas

Driyarkara : Cinta Kasih Sebagai Dasar Kesatuan Dalam Sosialitas

0 share

Dari uraian mengenai sosialitas sebagai ada bersama, dapat diketahui bahwa Driyarkara meletakan fondasi yang kokoh akan kesatuan manusia pada cinta kasih. Sebab cinta kasih mendasari pijakan relasi atau hubungan antara manusia dengan yang lain. Dalam hal ini, ada bersama dengan orang lain berarti berada bersama dengan hormat dan cinta kasih. Driyarkara berpendapat bahwa menurut kodratnya, ada bersama manusia dasarnya adalah cinta kasih, yang apabila dipandang secara umum akan menjadi kemanusiaan. Kemanusiaan atau cinta sesama ini menjiwai setiap bidang kehidupan manusia. Nilai cinta kasih juga menyadarkan seseorang bahwa ia memiliki keterbatasan dan bergantung pada orang lain, sehingga tidak mungkin bahwa seseorang menjadi sebab dari adanya sendiri. Tentu bahwa seseorang manusia berasal dari ada yang tidak terbatas yaitu Tuhan sendiri. Dengan demikian, Driyarkara berpendapat bahwa cinta kasih manusia itu berasal dari cinta yang tak terbatas yaitu Tuhan. Kodrat manusia menurut Driyarkara adalah ada bersama dengan cinta kasih kepada Tuhan.

Dengan demikian, bagi Driyarkara cinta kasih merupakan hal yang fundamental bagi manusia. Kebencian tentu saja menjadi hal yang niscaya dalam hubungan tersebut. Namun, hal itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak melakukan tindakan kasih. Kebencian adalah negasi/peniadaan dari cinta. Benci tidak mungkin ada kalau tanpa adanya cinta kasih.

Baca juga : Driyarkara : Sosialitas Sebagai Tujuan Akhir Dari Pendidikan

Cinta kasih menjadi hal yang mendasar dalam hidup manusia karena hidup manusia itu sendiri merupakan suatu perjalanan panjang. Manusia bukanlah makhluk makhluk ciptaan yang sekaligus selesai utuh terbentuk. Perjalanan manusia sejak lahir, bertumbuh dan berkembang, merupakan suatu proses untuk mencapai kedewasaan. Singkatnya bahwa selagi masih menjalani hidupnya di dunia, manusia sebagai persona selalu dalam proses untuk menjadi pribadi atau persona yang utuh dan sempurna. Menjadi persona atau pribadi yang utuh dan sempurna merupakan kerinduan setiap manusia. Bagaimana manusia dapat merealisasikan kerinduannya tersebut? Menurut Driyarkara hal ini hanya dapat dicapai jika manusia membangun kesatuan dalam hidup bersama dengan sesama yang lain dalam cinta kasih. Cinta kasih menjadikan yang mencintai dan yang dicintai sama-sama menemukan pribadinya, saling mengangkat kemanusiaannya, sehingga melahirkan kesatuan. Driyarkara mencontohkan dengan Cinta Tuhan kepada manusia. Cinta Tuhan terhadap manusia tentu tidak mengurangi yang dicintai. Justru Cinta Tuhan tersebut meninggikan yang dicinta. Itulah cinta yang menyempurnakan.

BACA JUGA :   Crezentiani Trinitas : Kok bisa ya? Dia mahasiswi psikologi, tetapi kok  lesbian?

Cinta kasih memang merupakan suatu istilah yang hidup dan akan selalu menarik untuk dibicarakan karena memiliki intensitas pengaruh yang sangat mendalam bagi seluruh kehidupan manusia. Satu hal yang memang tidak mungkin kita sangkali adalah bahwa manusia diciptakan karena atas dasar cinta dan dalam cinta untuk saling mencinta. Cinta pulahlah yang akhirnya menyatukan manusia dengan sesamanya dalam hidup yang ia jalani. Cinta mengarahkan manusia pada relasi dan komunikasi dengan sesama. Berkomunikasi berarti berhubungan dengan yang lain. Dalam hal ini, Driyarkara mengikuti pendapat Ludwig Binswanger bahwa persona hanya dapat berkembang dalam libendes Miteinander-sein (ada-bersama-dalam-cinta-kasih). Driyarkara sangat menekankan bahwa sebManusia harus cinta kasih kepada sesama kalau tidak begitu, maka dgai manusia, kita harus saling mencintai satu sama lain. Hal karena cinta kasih sebagi dasar kesatuan dalam hidup manusia. Cinta kasihlah yang menyatukan manusia dalam perbedaan, sehingga manusia dapat membangun hidup dan menciptakan keharmonisan.

BACA JUGA :   Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Baca juga : Driyarkara : Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

Driyarkara juga berpendapat bahwa cinta kasih juga menjadi penentu kualitas hubungan manusia dengan sesama. Menurut Driyarkara, selama persona dan cintanya yang murni dan rohani berkuasa dan mengatur, di situ semua cara yang lahir itu baik. Akan tetapi, dimana nafsu yang menjelma di situ ada keburukan, ada kejahatan. Sebab, Persona yang cinta kepada persona lain, dan betul-betul cinta dengan cinta yang baik, yang murni, itu bersifat konstitutif, itu menegakkan dan penyempurnakan yang lain. Dalam cinta yang luhur itu: manusia tidak diobjekkan. Maka dari itu, manusia bertemu dengan manusia, pribadi dengan pribadi. Dua pribadi itu bersatu, menjadi kita. Dua pribadi bersatu, tetapi tidak kehilangan diri sendiri.

Kata Driyarkara cinta kasih tanpa hormat, tanpa menjunjung tinggi, itu tidak mungkin. Cinta itu berarti mengakui dan menghormati sesama manusia sebagai pribadi (persona), dan persona tidak boleh dijadikan objek, tidak boleh disamakan dengan barang. Apabila manusia taat pada prinsip itu, maka hidup bersama merupakan persaudaraan. Namun, keegoisan manusia dapat merusak nilai cinta kasih yang mempersatukan manusia. Menurut Driyarkara, mengamalkan cinta kasih kepada sesama berarti kita taat kepada Tuhan yang merupakan sumber cinta kasih itu sendiri.

Driyarkara juga menegaskan bahwa cinta kasih itu berasal dari Tuhan dan manusia diciptakan dengan cinta yang murni. Oleh karena itu, sebagai ciptaan-Nya manusia harus mengamalkan nilai cinta kasih itu dalam hidup dengan menghormati sesama sebagai ciptaan Tuhan. Manusia tidak boleh saling mengobjekan, melainkan harus saling menghormati, saling menerima sebagai saudara atau keluarga dengan penuh cinta.

BACA JUGA :   Memperebutkan Allah sebagai legitimasi Amanah Rakyat

Baca juga : Driyarkara : Sosialitas Dalam Konteks Masyarakat Indonesia

Ajaran mengenai cinta kasih ini, dipengaruhi juga oleh ajaran Gereja. Gereja sangat menekankan ajaran tentang cinta kasih sebagai hukum yang pertama dan terutama, seperti yang tergambar dalam injil Markus bab 12: 28-34, Mateus 22: 34-40, Lukas 10;25-28, dan masih banyak lagi ayat-ayat kitab suci mengenai cinta yang harus dilakukan oleh cinta kasih. Gereja juga sangat menekankan bahwa pribadi manusia adalah sebagai gambar Allah (Imago Dei). Sebagai gambar Allah, maka ia harus dihargai dan junjung tinggi martabatnya.

* Oleh : Adrianus Aloysius Mite Lamba, Mahasiswa Fakultas filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pernah dimuat di Jurnal Wiweka 2016, atas kerjasama dengan www.idenera.com diterbitkan kembali agar bisa jadi bahan diskusi.

** Footnote dengan sengaja kami tidak cantumkan agar kita berusaha mencari dan membaca buku-buku terkait. Postingan ini sebagai pembuka diskusi.  Seri Pemikiran Tokoh : Driyarkara, akan diposting dalam 7 seri tulisan. 

Bersambung : Relevansi konsep sosialitas

Daftar pustaka :

SUDIARJA, dkk. (eds), Karya Lengkap Driyarkara

MOHAMAD INDRA, Peran Driyarkara terhadap Bangsa: Sebuah Tinjauan Umum terhadap Pemikirannya, FIB UI, Jakarta, 2009, 22.

MUDJI SUTRISNO, Driyarkara. Dialog-Dialog Panjang Bersama Penulis, Obor, Jakarta, 2000

L. KRISTIANO NUGRAHA, “Mencari Eksistensi Manusia

 

Sudah dibaca 2 , Hari ini 1 

Please share,