HomeAKSIMerenungkan Kembali Tuntutan Hukum terhadap ‘Makan Mayit’
seni

Merenungkan Kembali Tuntutan Hukum terhadap ‘Makan Mayit’

AKSI DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN 0 3 likes 928 views

Akhir Februari lalu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Yohana Yambise menuntut kepolisian untuk mengusut karya seni berjudul ‘Makan Mayit’ karya Natasha Gabriella Tontey. Menteri PPPA menilai karya tersebut melanggar norma kesusilaan, kepatutan dan agama. Apabila terbukti, sang seniman akan dikenakan pasal 27 ayat 1 UU ITE dan pasal 282 ayat 3 KUHP tentang kesusilaan.

 

Bersamaan dengan tuntutan tersebut, Menteri PPPA menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan karya tersebut melalui media sosial karena dianggap berkonten negatif.[1] Sebelum menjatuhkan putusan terhadap karya Natasha G. Tontey lebih jauh, mari sejenak mempertimbangkan lebih mendalam karya ini.

 Sebuah Seni Pertunjukan Berjudul ‘Makan Mayit’

‘Makan Mayit’ merupakan judul sebuah pertunjukkan peristiwa makan malam yang diadakan pada Sabtu (25/02) di Footurama Jakarta. Makan malam ini bukan makan malam biasa. Menu vegetarian disajikan dalam cerukan yang dihasilkan dari boneka bayi yang dipotong pada bagian dada dan  perut. Sekitar 15 orang duduk bersama menyantap  sajian tersebut.

Makan malam ini menjadi semakin kontroversial karena dilengkapi menu seperti kue berbentuk bayi, sup yang disajikan dalam kantong penyimpanan ASI,[2] sajian-sajian berbahan dasar ASI dan keringat bayi. Beberapa netizen menanggapi karya seni ini sebagai yang karya yang ‘sakit’ dan  bisa melukai para orang tua yang merindukan kedatangan buah hati.

Efek Mengejutkan sebagai Kekuatan Karya Seni

Jean-Francois Lyotard (1924-1998), seorang filsuf kelahiran Prancis, dalam karyanya The Sublime and The Avant Garde (1985)  menyatakan bahwa pengalaman sublim tidak lagi dihasilkan oleh karya seni yang indah berdasar aturan-aturan tertentu namun karya yang mengejutkan.[3] Sublim merupakan suatu pengalaman khas yang bersifat tak terlupakan, menarik, memunculkan ketakutan dan kekaguman sekaligus, mengherankan dan mengancam jiwa. Pengalaman sublim misalnya bisa kita alami ketika pertama kali naik gunung dan melihat hamparan padang hijau yang sungguh luas dengan latar belakang perbukitan yang berdiri gagah. Serasa diri begitu kecil di tengah belantara yang begitu luas. Demikianlah pengalaman sublim menciptakan ketakutan sekaligus kekaguman.

Di era sebelum modern, diyakini bahwa karya-karya seni yang dapat menciptakan pengalaman sublim hanyalah karya yang patuh pada aturan-aturan keindahan (warna, garis, komposisi) yang baku ala masyarakat aristokrat dan akademi-akademi kesenian. Sejak muncul seni avant-garde (seni pendobrak), kekuatan karya seni terdapat pada kemampuannya untuk menciptakan efek mengejutkan[4]. Efek mengejutkan seringkali hadir dalam karya yang ‘tidak sempurna’ bahkan menjijikan. Terhadap kesenian yang menjijikan ini, masyarakat seringkali mengabaikannya bahkan cenderung menolaknya dan menganggapnya sebagai kesenian yang tak terpahami. Mengapa kebanyakan orang merespon demikian? Sebab karya seni yang menimbulkan efek mengejutkan sesungguhnya membukakan mata banyak orang pada hal yang mengerikan yang terjadi dalam hidup sehari-hari.

BACA JUGA :   Seksisme dan Bias Gender di Ruang Redaksi

Makan Mayit menimbulkan efek mengejutkan pada masyarakat karena seolah-olah mempertontonkan kanibalisme. Natasha G. Tontey dalam suatu wawancara menyatakan bahwa karyanya bermula dari minatnya pada tema ketakutan termasuk ketakutan yang diciptakan oleh orang/kelompok demi kepentingan tertentu.[5] Katakanlah seperti ketakutan terhadap kata ‘komunisme’ yang dibuat oleh Orde Baru demi kepentingan kemapanan kekuasaan.

Untuk mengeksekusi tema tersebut, Natasha bergerak dari peristiwa nyata panti asuhan yang menjual bayi. Hal-hal mengerikan yang diwujudkan dalam Makan Mayit sesungguhnya tidak ada apa-apanya dibanding penjualan bayi; aborsi yang bukan karena alasan kesehatan; penganiayaan bayi; kurangnya fasilitas kesehatan untuk ibu hamil di Indonesia terutama bagian Timur; serta UU perkawinan di Indonesia yang melegalkan batas minimal bagi perempuan untuk menikah adalah 16 tahun (sebagai catatan: usia 16 tahun masih tergolong dini bagi seorang perempuan untuk mengandung sebab rahimnya belum begitu kuat dan bisa menjadi penyebab keguguran).

Dalam hal ini saya sepakat dengan Arman Dhani, seorang penulis yang aktif di media daring, yang menyatakan dalam blog personalnya bahwa pola pikir barbar di masyarakat jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan pertunjukkan Makan Mayit.[6] Natasha serta para performer dalam Makan Mayit tidak menggunakan bayi sungguhan tetapi boneka dan bahan-bahan makanan lain yang tidak mengurangi nyawa seseorang.

BACA JUGA :   Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Seni dengan Efek Mengejutkan Bukan Hal yang Baru di Indonesia

Seni yang begitu mengejutkan karena mengungkapkan kenyataan bukanlah hal baru bahkan sudah dikenal di masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia. S. Sudjojono, seorang pelukis dan kritikus seni, sejak tahun 1940-an sudah menolak gaya melukis mooi indie (Hindia Belanda yang indah) karena gaya tersebut tak bercermin dari cara pandang rakyat sesungguhnya. Mooi Indie lahir dari para turis mancanegara (Belanda, Prancis) dan para kolonial yang menikmati alam Hindia sebagai alam yang eksotis.  Alam Hindia biasanya digambar oleh pelukis Mooi Indie sebagai gunung, jalan dan sawah yang indah serta orang-orang yang cantik dan ‘berpakaian bagus bak lebaran setiap hari’. Sebaliknya, Sudjojono menyarankan untuk menggambarkan alam dan rakyat sebagaimana adanya, sekalipun nampak jelek dan kotor. Di tahun 1979 juga dikenal Gerakan Seni Rupa Baru yang terdiri dari beberapa pelukis muda yang mengkritik ketatnya doktrin-doktrin dalam berkesenian serta kondisi-kondisi sosial politik semasa Orde Baru berkuasa.

Menilik Kembali Tuntutan Hukum terhadap ‘Makan Mayit’

Makan Mayit

Menu makanan sesi perjamuan “Makan Mayit” pada 28 Januari 2017 di Footurama, Kemang Timur, Jakarta. FOTO/elianurvista.com. Sumber : https://tirto.id

Tugas terberat seorang seniman ialah membeberkan kebenaran pada masyarakat. Bagi masyarakat, menerima kebenaran bukanlah hal yang ringan, sebaliknya, sangat berat. Misalnya menerima kenyataan bahwa diri kita pernah melakukan kesalahan, melukai hati orang yang kita cintai, atau kenyataan bahwa bangsa kita pernah terlibat dalam suatu pembantaian massal, dst. Natasha G. Tontey hanya mengingatkan pada kengerian hidup sehari-hari yang biasanya dilewatkan begitu saja.

Sebagai contoh, Makan Mayit diduga melakukan tindakan dehumanisasi karena menggunakan ASI sebagai bahan dasar sajian, tetapi apakah banyak orang juga menaruh perhatian pada perusahaan, pabrik-pabrik dan tempat bekerja lain yang tidak menyediakan ruang laktasi bagi ibu menyusui? Komite Aksi Perempuan dalam aksi hari buruh 1 Mei 2016 menyatakan bahwa banyak perusahaan tidak memberikan  hak maternitas secara penuh pada pekerja perempuan. Para buruh pabrik perempuan yang sedang menyusui harus berulangkali membuang ASI-nya ke dalam toilet karena tidak adanya ruang menyusui (laktasi). Siapa yang peduli dengan nasib buruh perempuan yang terpaksa harus membuang ASI atau menahan berjam-jam untuk menghindari merembesnya ASI ke pakaian kerja mereka?[7] dan yang lebih penting lagi, berapa banyak orang yang juga menaruh perhatian pada tidak terpenuhinya hak ASI bagi anak-anak pekerja perempuan? Barangkali tidak banyak orang.

BACA JUGA :   Luthfi Meutia : Wanita sering menjadi korban kekuasaan

Manakah yang lebih dehumanisasi: ‘membuat sajian berdasar ASI untuk dimakan (bukan dibuang)’ atau ‘tidak menyediakan ruang dan waktu untuk laktasi bagi para pekerja’? Sekali lagi, kita perlu menimbang ‘jauh lebih dalam’ dan ‘lebih jujur’: apakah adil untuk menuntut hukuman bagi orang yang sedang ingin mengungkapkan kebenaran bagi masyarakat?  Si seniman tidak sedang mengurangi atau menghilangkan hak-hak orang lain. Ia hanya berusaha membeberkan hal-hal yang tidak sempat lagi kita pikirkan karena rutinitas kehidupan. Juga refleksi ini terus-menerus perlu kita lakukan agar tidak setiap kali muncul karya seni yang ‘mengejutkan’ buru-buru ditanggapi dengan dakwaan berdasar undang-undang ITE. Seyogyanya UU tersebut tidak  menjadi kekang bagi manusia-manusia muda yang masih ingin terus berkembang dan peka terhadap lingkungannya.

 

[1] PRESS RELEASE Menteri PPPA : Karya Seni #MakanMayit Langgar Norma Kesusilaan, Siaran Pers Nomor: B- 008/Set/Rokum/MP 01/02/2017, dalam http://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/1344/karya-seni-makanmayit-langgar-norma-kesusilaan

[2] “’Makan Mayit’: Wajarkah berfantasi menyantap jabang bayi?”, Senin, 27 Februari 2017 dalam http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39102249

[3] Jean-Francois Lyotard, 1985,  The Sublime and The Avant Garde dalam Clive Cazeaux, 2000, The Continental Aesthetics Reader, Routledge, London, hal 460

[4] Penulis adaptasi dari istilah ‘Shock-Effect’ yang dikemukakan Walter Benjamin dalam karyanya Art In The Age Of Mechanical Reproduction (1936).

[5] “Natasha Gabriella Tontey Bicara Soal Makan Mayit yang Kontroversial”, Selasa, 28 Februari 2017, https://news.detik.com/berita/d-3434385/natasha-gabriella-tontey-bicara-soal-makan-mayit-yang-kontroversial

[6] Arman Dhani, “Mengapa Makan Mayit Penting”, Senin, 27 Februari 2017 dalam http://www.kandhani.net/2017/02/27/mengapa-makan-mayit-penting/

[7] http://www.rappler.com/indonesia/131392-catatan-kelam-buruh-perempuan-2016

Foto by : www.FotosFX.com

Please share,