HomeAKSIMasyarakat yang bersedia radikal setara jumlah pemilih DKI Jakarta

Masyarakat yang bersedia radikal setara jumlah pemilih DKI Jakarta

AKSI LIPUTAN STUDI TEKNOLOGI WARGA 0 8 likes 557 views

ALEX P. SCHMID dari The International Centre for Counter-Terrorism, Netherland menyatakan bahwa proses radikal-isasi dapat menggunakan satu dari tiga bentuk pola; pertama, penggunaan (non-kekerasan) tekanan dan paksaan; kedua, berbagai bentuk kekerasan politik selain terorisme atau; ke tiga, tindakan kekerasan ekstremisme dalam bentuk terorisme dan kejahatan perang.

 

Pola radikalisasi yang disampaikan Schmid, dirasa mampu menjelaskan radikalisme di Indonesia saat ini. Fenomena inilah yang mendorong  Wahid Foundation dan LSI (Lembaga Survey Indonesia)  pada tahun 2016 melaksanakan Survey tentang  Potensi Radikalisme & Intoleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Muslim di sejumlah  propinsi Indonesia.

Survey dilakukan  dengan wawancara  tatap muka dengan 1520 responden,  berusia 17 tahun keatas dan sudah menikah  pada periode  30 maret  s/d 9 april 2016. Wahid Foundation dan LSI menemukan fenomena menarik terkait partisipasi dan kesediaan berpartisipasi dalam tindakan dan gerakan yang mengarah atau menyertakan kekerasan di masyarakat.

Radikal

Sikap terhadap Radikalisme. Dipresentasikan dalam Seminar Surabaya Outlook 2017; Menolak Intoleransi Melawan Radikalisasi, UNAIR Surabaya Jawa Timur, 16 Januari 2017. (Data : Wahid Foundation).

Hasil survey menunjukan ada 0,4 % sudah terlibat radikalisme, 7,7% bersedia radikal, 19,9% tidak punya sikap dan 72 % tidak bersedia radikal.  Bila diproyeksikan dengan 150 juta pemilih muslim nasional maka ada 600 ribu muslim Indoneisa yang pernah terlibat kegiatan radikal dan yang berpotensi atau bersedia radikal 11 juta orang. Sedangkan 108 juta muslim Indonesia menyatakan tidak ikut atau tidak bersedia ikut gerakan radikal.

BACA JUGA :   Pemuda Katolik Surabaya membersihkan Masjid Da’watul Ihsan Gunungsari Surabaya

Bila dibandingkan dengan jumlah pemilih DKI Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2017, maka mereka yang berpotensi atau rentan terhadap radikalisme sosial-keagamaan setara dengan penduduk Ibukota Jakarta dan sekitarnya.

Temuan lain yang menarik  dari survey ini  adalah demografi responden yang pernah melakukan tindakan intoleran menunjukan 50% laki-laki ; 50% perempuan,  66,67% usia 26-40 tahun, 50% SD ; 50 % SLTP,  66,67% pendapatan kurang dari Rp1 juta, 83,33% tinggal di wilayah pedesaan dan mayoritas pengguna media sosial facebook.

Demografi responden yang bersedia melakukan tindakan radikal, 72,82 % laki-laki, 36,89% usia 26-40 tahun, 37,86% SD ; 37,86% SLTA, 42,72% pendapatan lebih dari 2 juta rupiah,  52,43% tinggal di wilayah perkotaan dan  mayoritas pengguna media sosial facebook.

BACA JUGA :   Luntas : Ludruk Nom-noman Jembatan Dunia Tradisional dan Modern

Dari temuan diatas, ada tiga hal yang perlu dicermati ; pertama, terkait pergeseran dari tingkat pendapatan kurang dari satu juta menjadi lebih dari dua juta. Kedua, pergeseran wilayah tumbuh radikalisme yang semula di pedesaan ke perkotaan. Ketiga, tentang penggunaan social media terutama facebook dalam aktivitas radikal.  Tiga hal ini menunjukan bahwa pola gerakan radikal atau rekrutmen agen gerakan radikal akan terus berubah. Pertumbuhan  ekonomi dan inovasi teknologi komunikasi akan jadi faktor penting.

Mengutip www.wahidfoundation.org,   Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid dalam acara “Penguatan Toleransi dan Gerakan Merespon Ekstremisme” di Bogor (1/8/2016) mengatakan “ Indonesia  perlu menyebarkan lebih banyak pesan Islam Damai yang sebenarnya merupakan modal dasar bagi kita dalam berbangsa dan mengelola kehidupan beragama di Indonesia” .

BACA JUGA :   Tidak Mudah Mengembangkan Credit Union di Kota Surabaya

“Karena itu jika ada potensi penguatan intoleransi di Indonesia, itu menjadi peringatan besar bagi kita semua untuk berhati-hati,” ujar Yenny seperti yang dikutip www.kompas.com.

Potensi radikalisme sosial keagamaan dalam survei ini diartikan sebagai partisipasi atau kesediaan berpartisipasi dalam peristiwa-periistiwa yang melibatkan kekerasan atas nama agama. Ini di antaranya diukur dari terlibat perencanaan dan terlibat sweeping hal-hal yang dianggap berbau maksiat, berdemonstrasi menentang kelompok yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam atau melakukan penyerangan rumah ibadah pemeluk agama lain.

Sumber data : 

ALAMSYAH M.DJA’FAR,  Memahami Radikalisme Lewat Survei.   Dipresentasikan dalam  Seminar Surabaya Outlook 2017; Menolak Intoleransi Melawan Radikalisasi, UNAIR Surabaya Jawa Timur, 16 Januari 2017.

Mayoritas Umat Islam Menolak Radikalismehttp://wahidfoundation.org/index.php/news/detail/Mayoritas-Umat-Islam-Menolak-Radikalisme

Survei Wahid Foundation: Indonesia Masih Rawan Intoleransi dan Radikalisme. http://nasional.kompas.com/read/2016/08/01/13363111/survei.wahid.foundation.indonesia.masih.rawan.intoleransi.dan.radikalisme?page=all

Hosting Unlimited Indonesia
Please share,