HomeREFLEKSIDISKUSIValiant Ryvanthapala : Kamu berdarah Tionghoa akan sulit jadi ASN
Sekolah Ansos

Valiant Ryvanthapala : Kamu berdarah Tionghoa akan sulit jadi ASN

DISKUSI MITRA KARYA PERSONA REFLEKSI 0 2 likes 504 views

Keadilan membuat segala hal menjadi seimbang, antara hitam dan putih, alpha dan omegayin dan yang ; namun juga kompleks.  Jika salah satu menjadi lebih dominan atau menguasai yang lain maka keseimbangan kehidupan akan goyang dan membuat perdamain, keamanan, dan kebahagian akan menjauh dari kehidupan. Seperti contohnya kelahiran dan kematian, agar tetap seimbang maka proses kematian juga harus ada agar kehidupan dibumi dapat terus berjalan.

Saya bertanya-tanya, Apakah lembaga pemerintahan sudah menjalankan Pancasila?.  Apakah sila ke-2, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,  sudah dengan benar dan merata diamalkan?.

Baca juga : Rully Fitria : Sering berbicara keadilan, bungkam ketika diajak bertindak

Kasus Nenek Minah pada 19 November 2009 jadi contoh betapa banyaknya ketiadakadilan di negara kita.   Jokowi, Presiden RI mengatakan “Ketika negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia mengonsumsi sekitar 70 persen sumber daya dunia, maka ketidakseimbangan global tidak dapat dihindari,” saat berpidato di Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 di Jakarta, Rabu (22/4).

BACA JUGA :   Korupsi E-KTP : Nasihat Agamben Untuk Para Bandit

Ketidakadilan atau kecurangan juga terjadi dalam proses rekrutmen polisi , tentara atau ASN (Aparatus Sipil Negara). Sudah sering dibicarakan bahkan katanya “sudah jadi rahasia umum” kalau “ yang membayar dan ada orang dalam akan diterima”.  Orang memiliki kemampuan dan kapasitas  baik untuk melayani masyarakat malah disingkirkan, hanya karena tidak punya uang, relasi keluarga bahkan gara-gara SARA (suku, agama, ras).  Dalam rektrutmen ASN ada ungkapan begini “kamu yang memiliki darah Tionghoa akan sulit diterima”. Ini hanya satu dari sekian praktik ketidakadilan. Banyak sekali praktik ketidakadilan yang menyusahkan dan menindas  orang yang kecil, miskin dan terpinggirkan.

Adapun ciri-ciri adil menurut The Liang Gie yaitu : tidak memihak (impartial), persamaan hak (equal), berdasarkan hukum (legal), sah menurut hukum (lawfull), layak (fair), wajar secara moral (equitable), benar secara moral (righteous). Terlihat rumit, luas, dan sulit? Ya, benar. Namun kita tetap dapat mewujudkan keadilan ini dikehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :   Mitos Pertahanan Ruang Nusantara & Pertahanan Ruang Per-Empu-An

Dalam kehidupan sosial kita juga harus menerapkan keadilan. Banyak keinginan manusia yang saling berbeda atau bahkan saling bertentangan. Orang kecil tertindas dan orang besar menguasai. Ini kemudian jadi dendam dan anarkisme, juga bisa meluas  pada tidak meratanya pertumbuhan ekonomi, diskriminasi gander, rasialisme dan sebagainya.

Banyak contoh sederhana dari praktik keadilan yang dapat kita lakukan kepada orang lain disekitar kita. Mulai dari mengikuti antrian di kasir supermarket, mendahulukan antrian bagi orang lanjut usia atau yang terlihat sakit di rumah sakit, apotik atau Puskesmas.  Rela untuk memberi juga rela untuk menerima.  Berani menuntut hak bagi diri sendiri juga siap membantu  memperjuangkan hak orang lain, dll. Mulai dari yang sederhana dan saat kita jadi orang  yang berpengaruh maka keadilan itu akan mendampingi kita dan membuat dunia semakin indah.

BACA JUGA :   Pedoman Pemberitaan Media Siber di Indonesia

Baca juga : Dari Timur Pancasila: Spiritualisme Kebangsaan

Walaupun rasanya sulit mewujudkan keadilan di dunia bila sifat buruk manusia masih mendominasi. Dunia kita didominasi kerakusan, ketamakan dan individualisme. Apa yang bisa dilakukan?  kita terus berusaha, berkembang  dan saling mengingat untuk mewujudkannya. Dengan hal sederhana disekitar kita, keluarga, tetangga, dan teman. Juga adil pada lingkungan.  Kasih sayang yang diberikan kepada pacar,  juga  baiknya diberikan  juga bagi alam dan sesama agar  hidup kita harmonis.

* Valiant Ryvanthapala, Partisipan Sekolah ANSOS 2017. Mahasiswa STIKOM Surabaya,  Aktif di Koperasi Mahasiswa Stikom dan Dewan Legislatif Mahasiswa STIKOM.

 ** Tulisan ini merupakan bagian dari proses sekolah Ansos, setiap partisipan menuliskan refleksi pribadinya atas isu keadilan sosial, kesetaraan gender dan kebebasan berekspresi. Atas persetujuan partsipan, tulisan-tulisan mereka akan dipublikasikan secara berkala di www.idenera.com dan disunting seperlunya oleh redaksi.

Please share,