HomeAKSIAnastasius Welerubun : Saat kebhinekaan bangsa kita terancam

Anastasius Welerubun : Saat kebhinekaan bangsa kita terancam

AKSI KOMUNITAS PERSONA REFLEKSI 0 0 likes 336 views

Ketika dihadapkan dengan beberapa topik pilihan untuk dikembangkan dalam sebuah catatan refleksi, saya kemudian tertarik untuk menulis topik “saya dan SARA (Suku, Agama, Ras)”. Topik ini lalu mengingatkan saya akan sepenggal syair yang pernah lahir dalam kecemasan saya saat kebhinekaan bangsa kita terancam bahaya retak beberapa waktu lalu.

 

Begini bunyinya:

“Anak-anak kebhinekaan bukan jari-jari perbedaan,

Anak-anak kebhinekaan

Sejatinya ialah beragam”

Sepenggal syair ini hadir sebagai lilin harapan yang masih bernyala dan sebagai bentuk keteguhan hati untuk tetap mengakui diri adalah bagian dari keberagaman bangsa.

Menyadari diri sebagai bagian dari keberagaman bangsa ini tentunya tidak lahir begitu saja. Membutuhkan proses untuk lebih terbuka menerima kenyataan sebuah bangsa yang beragam. Inilah yang menjadi refleksi saya. Saya sempat mengalami situasi yang tidak nyaman ketika bersama teman-teman yang berbeda suku di kampus atau di tempat lain, namun kemudian saya menemukan jalan keluar dari ketidaknayaman itu dalam suatu proses yang sering saya sebut proses mengenali.

Maka benarlah pepatah ini “ tak kenal maka tak sayang”. Mengenal ibu pertiwi bukan dengan berdiam diri di kamar atau dalam kesendirian. Mengenali ibu pertiwi bisa dalam literasi dan diskusi atau dengan cara kita bersosial dalam masyarakat. Tentu di sana akan ada dialog-dialog dan komunikasi yang menambah pengetahuan kita tentang ibu pertiwi. Wawasan yang luas dan pengetahuan yang progresif tentang ibu pertiwi akan membangkitkan kecintaan kita terhadap setiap keberagaman yang ada. Kita tak akan mencintai dan menjaga bangsa ini tanpa mengenalnya. Oleh karena itu kita perlu mengenali ibu pertiwi sehingga ketidaknyamanan terkait sara atau golongan tertentu seperti yang pernah saya alami tidak akan pernah terjadi dan keutuhan NKRI akan tetap terjaga.

BACA JUGA :   Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia : Merajut Harapan dan Praksis Solidaritas dalam Narasi

Tentu ini adalah refleksi pribadi saya, itulah mengapa saya memilih menulis tentang “saya dan sara”. Refleksi ini belum berakhir selama saya masih ingin terus mengenal ibunda pertiwi, bumi nusantara, Indonesia.

*Anastasius Welerubun,  Peserta Sekolah Ansos 2017. Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO)  Surabaya Aktif berkegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa Katolik (UKMK) St. Paulus Unitomo.

 ** Tulisan ini merupakan salah satu proses di Sekolah Ansos, dimana peserta diminta memberikan refleksinya  dengan judul; ” Saya dan….(isu yang dipilih)”. Atas persetujuan partisipan akan di publis secara berkala di www.idenera.com.

 

Please share,