HomeREFLEKSIBUKUAbigail Soesana : Empat Generasi Tionghoa dan Dilema Diskriminasi dan Cinta Tanah Air Indonesia

Abigail Soesana : Empat Generasi Tionghoa dan Dilema Diskriminasi dan Cinta Tanah Air Indonesia

BUKU DISKUSI KEBUDAYAAN REFLEKSI 0 1 likes 104 views

 

Kakek adalah Tionghoa “totok” yang berjiwa sosial

Aku terlahir di keluarga Tionghoa dari kakek Njoo Tiek Sien yang dikenal sebagai “totok” (Tionghoa asli), generasi pertama dari RRT (Republik Rakyat Tiongkok) yang mendarat di Indonesia sejak belia. Waktu tiba di Indonesia, kakek masih berumur 14 tahun dan bekerja dari nol membuka toko sembako di kota Lamongan. Sedangkan nenek yang terlahir di Indonesia, dalam kesehariannya mengenakan kain panjang dan kebaya untuk menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

Oleh karena keuletan dan ketekunannya, akhirnya kakek menjadi pengusaha sukses, yang karena anugerah-Nya menjadi orang terkaya ke-2 di kota tempat tinggalnya, namun kakek mengalami kesulitan administratif dalam mengurus pindah kewarganegaraan untuk menjadi WNI (Warga Negara Indonesia). Mama sebagai anak semata wayangnya, di tahun 1968 juga mengalami kesulitan saat mengurus surat ganti nama, karena kewajiban untuk ganti nama yang mulai dicanangkan saat itu. Akhirnya mama yang semula Njoo Kiem Lien berganti nama Indonesia menjadi Lindiawati.

Sekitar tahun 1958 banyak teman Tionghoa mama yang meninggalkan Indonesia dan bersekolah ke RRT. Mama juga sempat mengurus administrasi untuk keperluan bersekolah dan menetap di Tiongkok, namun niat itu diurungkan karena selain tidak mendapat restu dari orangtuanya, mama juga berat hati meninggalkan kota kelahirannya karena merasa bahwa identitas sebagai orang Indonesia melekat kuat di dalam dirinya. Mama berkesempatan menyelesaikan pendidikan SMP Xin Zhong berbahasa Mandarin di Surabaya, namun saat menginjak kelas 1 SMA sekitar 1959-1960 terjadi peristiwa dimana orang-orang Tionghoa banyak yang kembali ke RRT, karena ada semacam peraturan yang mendiskreditkan orang-orang Tionghoa di Indonesia. Mama akhirnya terpaksa kembali ke Lamongan, karena sekolahnya ditutup.

Baca juga : Dibalik terbitnya buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”, Aku berlutut di hadapan Cino Suroboyo

Sejak kecil mama biasa melihat sifat sosial kakek yang suka berbagi dan sangat peduli dengan orang-orang kurang mampu yang dijumpainya dan semuanya adalah orang pribumi. Tidak jarang kakek bukan hanya sekedar menyekolahkan, memberi uang dan biaya hidup orang-orang yang kurang mampu, bahkan memberikan tempat tinggal yang akhirnya menjadi hak milik dari orang-orang yang ditolongnya itu. Menurut mama, kakek waktu itu bagaikan tuan tanah karena memiliki banyak tanah, gudang dan rumah. Semasa penjajahan, kakek beberapa kali memberikan bantuan puluhan sepeda dan dana kepada para tentara Indonesia dan itu dilakukannya sebagai sumbangsih bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Itu sebabnya, kakek menerima secarik surat penghargaan sebagai pejuang. Sebelum meninggal dunia, kakek sempat berpesan kepada mama untuk menyimpan surat penghargaan tersebut agar suatu saat kelak seandainya orang-orang Tionghoa “tergusur” dari bumi Indonesia, maka mama dapat menunjukkan surat tersebut sebagai bukti kecintaan kakek terhadap bangsa dan negara Indonesia.

Semua harta kakek dibagi-bagikan kepada setiap orang yang membutuhkan bantuannya tanpa memikirkan warisan bagi keturunannya kelak, hingga akhirnya ketika kakek meninggal justru situasinya sangat memprihatinkan.  Untuk membeli peti mati kakek pun, sudah tidak ada uang yang tersisa.

 

Aku adalah generasi ketiga

Selain mengenal sosok kakek melalui cerita yang dituturkan oleh mama, sejak kecil aku belajar dari sosok papa yang “membumi alias membaur”. Dalam keseharian papa yang bermarga Liem, juga memiliki pergaulan yang luas, tanpa membeda-bedakan dan ringan tangan membantu banyak orang. Papa Liem Kiem San (Santoso) biasa bergaul dengan siapa saja, mulai dari lapisan masyarakat paling bawah dan yang terpinggirkan hingga kalangan atas, dari latar belakang suku dan agama apapun. Hal ini tentunya mengubah stigma bahwa orang Tionghoa itu eksklusif.

Baca juga : Adven Sarbani : Jadi China Itu Biasa Saja, Apa yang Istimewa ?

Bahkan papa memiliki sahabat seorang muslim keturunan Arab yang termasuk tetangga dekat. Saat sang sahabat ini harus pindah ke kota lain, mama sedang hamil. Papa berjanji untuk memberi nama anaknya dengan nama yang sama dengan nama sahabatnya itu, bila anak di kandungan mama adalah lakilaki. Dan benar ternyata kakak laki-lakiku terlahir dan diberi nama yang sama dengan nama sahabat papa, yaitu Taufik. Menurut papa, hal ini dilakukannya untuk mengenang persahabatan mereka. Itu sebabnya, dalam bergaul aku juga tidak pilih-pilih ras atau agama, aku punya beberapa sahabat baik yang adalah orang pribumi, bahkan beberapa di antaranya yang tidak seagama. Oh ya, kakek dan nenekku dari papa terlahir di Indonesia sehingga sangat fasih berbahasa Indonesia dan justru kurang fasih dalam berbahasa Mandarin.

Diejek karena sebagai orang Tionghoa

Masa kecilku sebagai anak ketiga dari lima bersaudara tinggal di Tuban, kami sering diejek dan diumpat dengan sebutan “Cina”. Sampai-sampai ketika di jalan aku sering merasa was-was dan takut jika bertemu anak-anak pribumi sebaya maupun yang usianya lebih tua dariku, karena mereka biasa bergerombol dan serentak mengeluarkan kata-kata dan ekspresi ejekan. Hanya saja, di lingkungan tempat tinggal kami, semua tetangga baik dan akrab bahkan kami biasa bermain dengan anak-anak tetangga yang mayoritas bukan orang Tionghoa. Mereka memahami perbedaan yang ada, namun mereka biasa saja dan tidak mempermasalahkan perbedaan identitas kesukuan kami.

Saat di bangku SD aku masih ingat ketika ulangan Bahasa Daerah (Bahasa Jawa) ku mendapat nilai bagus, tiba-tiba guruku dengan nada nyinyir berkata kepada teman-teman yang asli Jawa, demikian: “Kalian jangan mau kalah dengan orang Cina”. Saat itu aku merasa bahwa kata-kata tersebut bukan semata-mata untuk memotivasi teman-teman yang pribumi, namun seakan bernada diskriminatif.

Baca juga : Michael Andrew : Kegalauan Identitas Pemuda Tionghoa-Indonesia

Setamat SD, aku ingin bersekolah di SMP negeri namun tanpa dukungan dari orangtua dan kakak, karena ketakutan dan kekuatiran mereka dengan sikon bahwa aku sebagai wanita Chinese yang merupakan minoritas. Tapi ketika SMA aku akhirnya bisa bersekolah di SMA negeri yang merupakan SMA favorit dan unggulan di kotaku. Meskipun orang Tionghoa merupakan minoritas di sana, tapi senang rasanya bisa bersekolah di situ, karena aku berniat mengejar cita-cita untuk studi lanjut kuliah di Universitas Negeri di Surabaya.

Setelah tamat SMA, aku kuliah di Surabaya, selanjutnya mengambil program magister di Bandung. Mei 1998 baru saja terjadi kerusuhan di kota Jakarta, tetapi aku memutuskan tetap berangkat kuliah, sementara yang lain ketakutan dan sebagian lagi heran karena aku dianggap nekad, berhubung situasi penuh resiko.

Saat itu beberapa teman mengingatkan karena aku sebagai wanita etnis Tionghoa dianggap beresiko sehubungan dengan apa yang baru saja terjadi di Jakarta. Sepulang dari kuliah, aku membaca berita dan liputan tentang peristiwa kerusuhan yang disertai dengan penjarahan, penganiayaan, dan pemerkosaan massal terhadap etnis Tionghoa yang membuat hati ini pilu dan ikut merasakan pengalaman traumatis tersebut hingga aku menangis bercucuran air mata ketika  membayangkan penderitaan gadis-gadis dan para wanita yang menjadi korbannya.

Diskriminasi itu tidak bisa aku hindari

Ketika aku kuliah dan kuliah lagi bahkan aku akhirnya menjadi dosen, ada beberapa orang berkata nyinyir dan mengatakan kenapa aku sebagai wanita Tionghoa bukannya berdagang, tapi menjadi dosen. Bahkan ketika aku berniat melanjutkan studi Strata tiga di sebuah Universitas negeri ternama, masih saja muncul stigma yang mengatakan bahwa untuk apa aku kuliah di sana, karena aku menyandang “dua dosa besar”, yaitu sebagai orang Tionghoa dan Kristen.

Ada banyak pengalaman diskriminatif lainnya yang tidak mungkin semuanya aku tuliskan di sini. Namun salah satu di antaranya adalah ketika aku dan suami mengurus akte pernikahan masih saja terjadi diskriminasi, baik dari segi urusan administratifnya maupun biayanya.

Kebetulan waktu itu saksi nikah kami adalah seorang bapak pribumi yang baru saja menikahkan anaknya dan beliau merasa heran dengan adanya perbedaan biaya pengurusan surat catatan sipil. Waktu aku tanyakan ke petugasnya, beliau mengatakan bahwa karena aku adalah WNI keturunan dan bukan pribumi. Bagiku tidak masalah kalau itu merupakan ketentuan administratif dari pihak Pemda, namun hatiku merasa ada sedikit ganjalan, mengapa harus ada perbedaan.

Hati kecilku berkata: “Bukankah aku terlahir sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), hidup di Indonesia, dan cinta tanah air Indonesia”.  Setiap kali aku menyanyikan lagu-lagu wajib tentang Indonesia, aku merasa bangga sebagai WNI dan ketika aku ditunjuk sebagai pemimpin Lagu Indonesia Raya di acara peringatan HUT Kemerdekaan RI aku merasa terharu karena kecintaanku akan bangsa dan negara Indonesia. Namun kecintaanku akan tanah air Indonesia bukan hanya sebatas itu, aku berniat mengabdi bagi bangsa ini melalui dunia pendidikan, walaupun dengan segala keterbatasan yang kumiliki.

Anak-anakku sebagai generasi keempat yang cinta tanah air Indonesia

Kini anakku adalah generasi keempat di Indonesia. Anak bungsu kami, Christofer bahkan memilih masuk SMP negeri, meskipun teman-teman sekolahnya di SD swasta sebelumnya tidak ada satu pun yang memilih SMP negeri. Guru-guru di SD nya sangat mendukung dan senang sekali ketika mengetahui bahwa Christofer masuk di SMP Kawasan (Unggulan).

Dukungan terbesar buat Christofer untuk masuk di SMP negeri terutama dari Ko A Hui, suamiku. Meskipun suamiku juga seorang etnis Tionghoa dari Jambi, namun sudah membaur dan beradaptasi di pulau Jawa ini bahkan mulai agak fasih berbahasa Jawa walaupun dengan logat khas Sumatranya. Suamiku mengatakan bahwa sebagai anak laki-laki, Christofer harus belajar memiliki pergaulan yang luas dan dari latar belakang apapun. Motivasi itu yang memperkuat semangat anak kami dalam menentukan pilihannya untuk melanjutkan studi di SMP negeri.

Ketika kutanyakan kesiapannya sebagai siswa SMP negeri, anakku Christofer menjawab bahwa dia akan belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang beragam latar belakang agama, suku, dan budaya, meskipun dia harus belajar beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang sama sekali baru baginya. Christofer senang sekali saat terpilih sebagai ketua kelas di kelas UP (Unggulan Prestasi) meskipun sebagai orang Tionghoa beragama Kristen yang merupakan minoritas di kelasnya, bahkan di sekolahnya.

Kerinduan mengabdi di Indonesia sebagai bangsa Indonesia

Anak sulung kami, Jennifer bercita-cita menjadi seorang dokter. Meskipun ada banyak peluang studi dengan beasiswa di luar negeri, anakku memilih untuk tetap studi di Indonesia, karena dia ingin mengabdi dan berkarya untuk Indonesia. Bahkan Christofer juga ingin mengikuti jejak kakaknya untuk menjadi dokter dan berbuat bakti bagi bangsa Indonesia melalui dunia medis bahkan kerinduannya ingin menolong banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi untuk menerima layanan kesehatan yang semestinya, tanpa dipungut biaya.

Baca juga : Aan Anshori : Ketakutan dan kesalahpahaman saya terhadap Tionghoa mencair setelah ketemu Gus Dur

Entah benar atau tidak, berita-berita yang didengar oleh anak-anakku bahwa kalau kuliah kedokteran di luar negeri, maka sulit untuk mendapatkan ijin praktik di Indonesia. Padahal mereka ingin membaktikan diri di Indonesia. Itu sebabnya mereka berkomitmen akan kuliah di Indonesia agar bisa berkarya dan mengabdi bagi Indonesia.

Mereka adalah anak-anak yang sejak kecil memiliki rasa cinta akan tanah air Indonesia dan bangga sebagai bagian dari anak-anak muda di Indonesia yang adalah generasi penerus bangsa. Kami mendukung cita-cita anak kami untuk mengabdi di Indonesia sebagai bangsa Indonesia. Kalaupun seandainya mereka ke depan memiliki peluang untuk studi lanjut pascasarjana di luar negeri, mereka tetap akan kembali dan berkarya di Indonesia. Itu sekelumit kerinduan anak-anak kami bagi bangsa ini.

Kerinduan kami adalah bahwa anak-anak kami bisa diterima di kalangan manapun tanpa didiskriminasi karena warna kulit dan keyakinan imannya, karena pada dasarnya kita semua adalah warga negara Indonesia yang samasama mencintai tanah air Indonesia hingga akhir hayat.

* Oleh : Dr. Abigail Soesana, MA., M.Th., M.Si. (Liem Lie Ly). Konsultan Akademik dan Dosen di beberapa PTT/STT, Konselor, Pembicara Seminar, serta Aktivis Kebhinekaan. Bisa dihubungi di  HP/WA : 0895 3206 81276 ; email: sanhui_jc@yahoo.com; Facebook: Fransiska Abigail Susana; IG: abigailsoesana

**Naskah ini diterbitkan dalam buku “Ada Aku di Antara Tionghoa Indonesia”.  Atas kesepakatan, dipublish melalui www.idenera.com  sementara waktu untuk kepentingan kegiatan Bedah Buku yang akan diselenggarakan tanggal 10 April 2018. 

*** Mohon untuk tidak membagikan link dan atau meng-copy sebagian atau seluruh teks ini kerena terikat hak cipta pada penerbit.

  

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *