HomeNARASIKEBUDAYAANAntara Kapiran dan Kanzan Makhfiyyan

Antara Kapiran dan Kanzan Makhfiyyan

KEBUDAYAAN NARASI REFLEKSI 0 1 likes 120 views

Ada satu istilah khusus dalam bahasa Jawa yang menarik untuk ditelisik lebih lanjut. Istilah itu mengacu pada sebuah kondisi yang tak jelas, serba gamang. Suasana yang ditimbulkannya pun sering terasa ngenas—seperti seorang pejalan yang kemalaman dan tak tahu mesti ke mana atau suasana ketika meninggalkan sesosok bayi di tubir jurang.

Dalam bahasa keseharian, orang yang bersangkutan akan dinyatakan sebagai “kapiran.” Secara etik kondisi demikian akan menyebabkan terketuknya rasa iba dari orang lain. Tapi tak selalu demikian, istilah itu juga digunakan sebagai sebentuk peringatan: “Kalau kau tak begini atau begitu, kau akan kapiran.” Nuansa pada kalimat terakhir lebih pada membiarkan daripada menyelamatkan—terserah pada kuasa Tuhan. Orang beragama menyebutnya sebagai “hidayah” yang sejatinya tak bisa diupayakan atau merupakan hak tunggalNya untuk memberikan.

Dengan demikian, saya kira di sini kita berbicara tentang akibat dari suatu sebab. Kenapa orang menjadi kapiran adalah karena ia dalam kondisi yang tak tahu, pada kasus pertama, atau justru tak mau tahu, pada kasus kedua. Keduanya sesungguhnya sama, sama-sama tak tahu, yang secara harfiah—dalam kebudayaan Jawa—dikaitkan dengan mripat (baca: mata) di mana hal ini biasanya dikaitkan pula dengan ma’rifat.

Dalam khazanah tasawuf kita mengenal yang namanya sang kutub pengetahuan, Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Tak sebagaimana sang kutub cinta, Maulana Jalaluddin Rumi, bagi Ibn ‘Arabi tujuan diciptakan manusia pertama-tama adalah untuk mengenalNya, mengetahuiNya, ma’rifat kepadaNya. Maka menurut filosof-sufi asal Andalusia ini, Tuhan diibaratkan sebagai khazanah tersembunyi (kanzan makhfiyyan).

BACA JUGA :   Untuk Adik STM dan Mahasiswa 2019, Jangan Marah Dianggap Cupu Oleh Angkatan Tua

Ada satu hadis qudsi yang terkenal tentang ini: “Al-insanu sirri wa anna sirruhu.” Di sinilah kemudian keonsepsi tentang hijab terurai. Ibn ‘Arabi, Abdul Karim al-Jilli, Syaikh Burhanpuri, Abdurrauf as-Singkeli, yang kemudian di nusantara dielaborasikan lebih lanjut oleh Ronggawarsita, sama-sama mengetengahkan teori tentang martabat ataupun hijab.

Terdapat sebuah kisah perihal pujangga asal Pura Pakualaman, Raden Panji Natarata, yang kelak tenar dengan nama pena Sasrawijaya, tentang ketersingkapan (mukasyafah) atas berbagai hijab di atas. Setelah mengalami perjumpaan yang telat dengan seorang kyai dari Kediri, atau versi lain seorang sanyasin keturunan Majapahit, ia tiba-tiba menanggalkan segala derajat, pangkat, semat dan keramat yang selama ini melekat pada dirinya. Rumah, isteri dan kedua anak perempuannya tak luput untuk ditinggalkannya. Ia hanya ingin belajar mati seperti sesosok pengemis yang telat dijumpainya tersebut.

BACA JUGA :   Nera Academia : Sudah satu tahun kuliah di Warung Mbah Cokro

Kepulauan Bangka dan Bali konon pernah dijelajahinya dalam upayanya untuk belajar mati. Yang menarik, dalam berbagai wilayah yang sempat disinggahinya tersebut ia menulis beberapa karya sastra. Serat Purwacarita Bali adalah buah tangannya selama ia menjelajahi Bali. Adapun Serat Bayanulah merupakan karya sastranya yang berkaitan dengan segala paham ketuhanan yang tak memuaskan dahaga spiritualnya.

Dalam Serat Bayanulah sangat tampak bahwa Natarata melakukan apa yang dalam bidang filsafat dikenal sebagai pendekatan theologia negativa di mana kemampuan mendeskripsikan Tuhan hanya sebatas pada negasi, bahwa Ia bukanlah ini atau itu (datan ika iki). Sebab dalam pendekatan seperti ini setiap deskripsi tentangNya akan jatuh pada sebentuk paradoks referensi diri.

BACA JUGA :   Rully Fitria : Sering berbicara keadilan, bungkam ketika diajak bertindak

Tercatat, hanya di pesantren Sidoresmo, Surabaya, Natarata mendapatkan jawaban atas masalah yang selama ini menggoncangkan jiwanya. Kala itu sang kyai Sidoresmo hanya berujar, “Kalau kau ingin belajar hidup, bergurulah pada orang yang hidup. Tapi kalua kau ingin mati, bergurulah pada orang mati.”

Tak usah saya perinci jawaban yang diperoleh Natarata setelah ngengleng beberapa bulan. Sebab tak pernah ia temukan jawaban itu di kitab mana pun. Tapi yang jelas, apa yang dialami oleh Natarata selama ini, dengan segala keraguan dan kelinglungannya, dengan segala kerendahan dirinya, dengan segala keterbuangannya, adalah sebentuk kapiran yang tersebab terhijab (baca: kafir). Degan segala uraian ini, maka kita patut bertanya, untuk meminjam dan mengelaborasikan sepenggal puisi Gus Mus, “Tuhan, imankah aku?”  

Please share,