HomeNARASIKEBUDAYAANLOGIKA SESAT “AGAMA KELAS 2”

LOGIKA SESAT “AGAMA KELAS 2”

0 share

Menuliskan ini, agar semua orang belajar sejarah secara utuh dan tidak sombong parah, lalu akhirnya membuat kita terpecah belah.

Logika sesat yang kerap diumbar. Seolah negara ini merdeka hanya karena umat Islam, lalu menganggap yang beragama lain itu sampah. Numpang alias ngontrak pada mayoritas.

Lucunya, kalau seandainya rekaman viral kunjungan GP Ansor Sumut itu betul, bagaimana bisa sekelas pemimpin provinsi dan mantan Pangkostrad terkesan menafikkan peran umat lain dalam perang kemerdekaan, maka apa lagi orang tak berpendidikan. Rekaman audionya dapat didengar pada akun FACEBOOK Batak Viral News atau klik tautan ini. Kesombongan dan sesat sejarah bisa membuat makin payah.

Patut dicatat ya saudari-saudara. Betul, bahwa mayoritas masyarakat nusantara (Catat saat itu belum ada Negara Indonesia) saat perang kemerdekaan adalah pemeluk Islam. Tapi dalam dinamika rapat sebelum proklamasi kemerdekaan dan perang-perang melawan penjajahan, banyak pejuang dan pahlawan nasional yang diakui dalam sejarah Indonesia.

Boleh pakai smartphone anda agar anda juga jadi smart user. Buka google, cek nama pahlawan nasional dari kalangan Hindu atau Kristen. Cek peran umat Kristen, Hindu atau keturunan Tionghoa dalam perang kemerdekaan.

Sebelum negara ini diproklamirkan, dalam rapat persiapan kemerdekaan yang ada perwakilan Muhammadiyah, NU, kalangan nasionalis dan agama lain, mereka itu sudah melihat. Sudah memahami konteks situasi daerah yang akan dijadikan sebagai Negara Republik Indonesia.

BACA JUGA :   Surga dan Agama menurut Gus Dur

Maka coba pikir, kenapa dengan mayoritas beragama Islam, bukan negara agama yang didirikan? Kenapa bahasa Melayu yang lalu menjadi bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa? Kenapa orang Jawa yang juga banyak muslimnya, tidak mengatakan mereka yang paling mayoritas dan berjasa atas kemerdekaan Indonesia?

Sebab kalau dulu negara ini dijadikan negara agama mayoritas, pertama seandainya pun semua Islam, akan sulit juga. Karena ada banyak ormas dan pemahaman Islam. Sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan sendiri.

Faktanya tak semua wilayah itu mayoritas masyarakat beragama Islam. Maka kalau dijadikan negara berbasis agama, dipastikan Maluku, Sulawesi Utara, Sebagian Sumatera Utara, Papua, NTT dan Bali akan jadi negara sendiri. Lalu sesama wilayah lain pun karena terputus akan jadi negara kecil sendiri. PETJAH.

Selain rawan dijajah kembali oleh Belanda, rawan juga saling menjajah diantara sesama bekas jajahan. Lha wong sekarang saja sudah merdeka, masih ada penjajahan atas nama mayoritas kok. Merdeka itu saja tak bisa dipahami cuma merdeka dari kolonialisme, tapi juga dari konyolisme, dunguisme dan rasisme.

BACA JUGA :   Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro

Jadi, jangan pakai logika sesat. Memandang agama lain itu kelas II atau pengkhianat, agama penjajah dan tudingan busuk lainnya. Nanti orang Jawa juga akan membuka sejarah lenyapnya agama dan kerajaan Hindu dan Budha, lalu menuding satu sama lain. Tak baik, tak elok.

Jadi adalah logika bodoh merasa hanya umat Islam yang berjasa atas kemerdekaan Indonesia, lalu yang lain tidak. Sesat, sesat, sesat.

Bahwa mayoritas Islam memerdekakan daerah berbasis Islam ya betul. Paling banyak jumlahnya ikut perang kemerdekaan, bolehlah. Sebaliknya umat Hindu berjasa memerdekakan Bali dari penjajahan, ya betul. Untuk Indonesia, semua terlibat termasuk mayoritas kalangan Islam dengan beragam organisasi dan karakteristiknya.

Baca lagi sejarah, banyak Kristen, Hindu, dan lainnya memerdekakan bangsa ini. Kalau merasa hanya Islam, mungkin negaranya bukan Indonesia. Tetapi Negara Sulawesi Selatan, Negara Sumatera Barat dan lainnya. Karena tak semua wilayah pada perang kemerdekaan mayoritas Islam. Cek NTT, sebagian Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Bali, Sulawesi Utara dan lainnya, pasti akan beda lagi situasinya.

Orang dungu boleh rendahkan agama selain Islam. Itu hak. Islam benar secara mayoritas, ikut berjuang untuk kemerdekaan, boleh. Tapi patut disadari, tanpa umat non muslim, tak ada persatuan Indonesia.

BACA JUGA :   Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Non muslim memang sedikit, tapi merekalah bautnya kalau Republik ini adalah motor elektrik, mereka pakunya kalau ini bangsa ibarat sebuah kursi, mereka lem kalau negara ini perahu kertas. Mereka kecil, cenderung tak kelihatan, tapi perannya mempersatukan. Merekatkan.

Tapi dijamin, kalau wilayah non mayoritas Islam lepas dari Indonesia, dijamin sesama Islam akan bertarung sendiri dan malah berpotensi konflik. Setidaknya dalam menentukan sistem bernegara, kepemimpinan politik dan menentukan banyak hal lain yang tak sepenuhnya sama.

Jangan kira para Kyai dari Muhammadiyah, NU dan pendiri bangsa ini bodoh, saat mereka berdebat panjang dalam mendirikan negara berdasarkan Pancasila. Karena mereka tahu persis, tanpa wilayah yang mayoritas non muslim, Indonesia itu petjah.

Jadi bersyukurlah kita beragam dan punya semangat kebangsaan. Jangan biasakan meninggikan diri sendiri dan menjelekkan orang lain. Berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba menyombongkan kebaikan. Semangat pagi, para sahabat setanah air. Kalian yang bergama, ataupun tidak beragama. Sejauh kita cinta Indonesia dan bersatu dalam kemanusiaan, kita akan bertahan kuat dalam badai zaman.

P. E. A. C. E

Sudah dibaca 2 , Hari ini 1 

Please share,