HomeREFLEKSIDISKUSIMitos Pertahanan Ruang Nusantara & Pertahanan Ruang Per-Empu-An
Mitos

Mitos Pertahanan Ruang Nusantara & Pertahanan Ruang Per-Empu-An

DISKUSI KEBUDAYAAN NARASI SEJARAH 0 3 likes 859 views

NUSANTARA kita terdiri dari ribuan pulau baik besar maupun kecil, yang secara spasial juga unik. Laut sebagai penghubung dan sekaligus sebagai benteng (Dipantara). Pengetahuan di Nusantara tidak dikembangkan dalam tradisi tulis yang rasional, sangat ketat metode ilmiah dan bersifat empirik, tetapi dikembangkan dalam tradisi lisan yang puitis dan kadang-kadang mistis. Salah satu tradisi lisan yang banyak dipakai di Nusantara adalah cerita rakyat, yang bisa dikategorikan sebagai mitos (mitologi).

Di jaman supermodern seperti sekarang ini, kita memiliki kesempatan yang lebih leluasa untuk mengungkap mitos sebagai salah satu sumber pengetahuan yang “valid” dan “tepercaya”, tentu dengan analisa dan kajian yang lebih mendalam. Mitos dan mitologi bukan lagi sekedar cerita  khayalan atau pengantar tidur belaka, tetapi di dalamnya sebetulnya tersimpan berbagai pengetahuan yang masih tersembunyi yang menunggu untuk digali dan dibongkar, untuk diambil sebagai khazanah baru dalam pengetahuan kita yang selama ini hanya percaya kepada sumber-sumber “rasional”.

Di akhir abad ke 20, banyak para ahli (di berbagai latar belakang bidang pengetahuan) yang mulai beralih mempelajari mitos sebagai alternatif menguak rahasia di masa lalu. Dalam buku yang berjudul Eden in The East (Oppenheimer, 2010), bisa dilihat bagaimana Stephen Oppenheimer membongkar mitos banjir besar yang tersebar di berbagai wilayah di seluruh dunia, yang ternyata bisa menunjukkan titik terang pola persebaran manusia di masa lalu. Bahwa di Nusantara ini dulu pernah berdiri peradaban besar di wilayah Sundaland (Paparan Sunda, sekarang menjadi Laut Jawa) yang kemudian musnah karena banjir besar, dan orang-orangnya menyebar ke berbagai penjuru dunia dan membawa mitos banjir besar yang masih diceritakan orang hingga kini.

Di Nusantara, banyak mitos bertebaran bak jamur di musim hujan, tetapi masih sedikit kalangan arsitektur yang mau membongkarnya. Salah satunya dalam konteks spasial, utamanya tentang ruang pertahanan. Dalam konteks kajian ini, tentang pertahanan ruang Nusantara, bahwa pengetahuan pertahanan tidak diturunkan dalam sebuah buku pertahanan secara lugas dan literal, tetapi dilestarikan melalui mitos.

Mitos-mitos tersebut menunjukkan bagaimana membaca situasi dalam ruang pertahanan secara tepat dan kemudian mengambil posisi yang strategis (menguntungkan), yang bisa digunakan untuk memukul lawan yang ingin merebut atau menguasai ruang di Nusantara, bahkan lawan yang sangat kuat dan hebat sekalipun.

Di sisi lain, ada juga buku dari Josef Campbell berjudul The Hero with A Thousand Faces (Campbell, 1968), yang mengkaji tentang mitos kepahlawanan, yang hampir selalu bersifat phallic (mengutamakan dominasi kekuatan laki-laki) dan heroic (kepahlawanan), yang banyak tersebar di berbagai negara di dunia. Di Nusantara, ternyata berkembang juga mitos yang bersifat sebaliknya, yang justru mengutamakan dan mengidolakan “yang lemah” dan perempuan, seperti terdapat pada mitos Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang. Hal inilah yang menjadi sorotan utama pada kajian ini.

Mitos dan Struktur Mitos :  Mitos, “Melawan” Pengetahuan

 Dalam hal ini, mitos bisa dianggap sebagai pemeraman pengetahuan tentang ruang pertahanan dalam bentuk yang lebih tersamar. Tidak seperti buku-buku militer yang sangat empirik a la Liddle Hart, Clausewitz (dari Eropa) atau Sun Tzu (dari China). Buku-buku itu dibuat dan memang dipakai dalam bidang pertahanan dan militer, untuk memperkuat ruang pertahanan. Untuk buku Sun Tzu, memang bisa diinterpretasi ulang untuk dipakai dalam bidang lain seperti bisnis atau strategi politik, tetapi kedudukannya sebagai buku militer tetap tak akan terbantahkan.

Sedangkan mitos di Nusantara, pengetahuan dikemas hanya berupa cerita yang hampir tak menyinggung pertahanan ruang secara lugas, menjadi semacam “cetak biru” yang tersimpan di alam bawah sadar orang-orang di Nusantara. Tokoh yang dimunculkan pun adalah perempuan yang lemah, bukan laki-laki. Ini ada kaitannya dengan semangat ibuisme di Nusantara. Justru pertahanan yang paling tepat bukanlah pertahanan yang mengandalkan kekuatan atau keperkasaan laki-laki, tetapi dengan kelembutan dan kecerdikan perempuan. Seperti diungkapkan Newberry ((Newberry 2013, hal. 173) :

Kekuatan politik kaum ibu yang mendua ini juga tampak jelas di Indonesia. Madelon Djajadiningrat-Nieuwenhuis menawarkan istilah ibuisme untuk mengemas kombinasi tata nilai kaum priyayi elite dengan tata nilai kaum petite-bourgeois Belanda untuk membentuk ideologi yang mendukung setiap tindakan yang dilakukan seorang ibu dalam keluarga, kelas, atau Negara tanpa mengharap imbalan.

Penggunaan mitos ini merupakan sebuah taktik yang jitu juga. Dengan dibungkus dalam cerita rakyat yang terlihat remeh-temeh (tidak penting) dan informal, maka justru tidak terlihat sebagai buku pertahanan ruang yang formal atau serius, sehingga bisa bertahan dalam sebuah kamuflase pengetahuan selama ratusan atau ribuan tahun. Hanya saja, pemeraman seperti ini membutuhkan pembongkaran yang cermat, untuk memunculkan kembali inti pengetahuan di dalamnya.

BACA JUGA :   Politik Amnesia dan Amnesia Politik dalam Kasus Korupsi di Indonesia

Cerita Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang

Mitos

Ilustrasi kisah Dayang Sumbi. Foto : www. indotale.wordpress.com

Cerita Dayang Sumbi yang berasal dari tanah Sunda maupun cerita Roro Jonggrang dari Jawa Tengah memiliki struktur cerita yang hampir sama. Keduanya memposisikan tokoh perempuan dalam kondisi yang sedang diagresi oleh kekuatan laki-laki yang lebih kuat dan dominan, dan kemudian mencari segala cara yang mungkin agar bisa lepas dari cengkeraman agresor yang lebih kuat tersebut.

Cerita Dayang Sumbi secara ringkas adalah sebagai berikut: Dayang Sumbi, seorang perempuan yang memiliki kecantikan abadi, akan dikawini oleh Sangkuriang yang sakti, yang ternyata adalah anak kandungnya sendiri yang dahulu pernah diusirnya. Kemudian Dayang Sumbi mengajukan permintaan untuk dibuatkan sebuah perahu dan telaga dalam waktu semalam, menjelang fajar esok hari harus sudah selesai. Ternyata Sangkuriang menyanggupi permintaan itu, dalam semalam dia berusaha memenuhi permintaan Dayang Sumbi untuk membuat perahu dan telaga dengan dibantu makhluk halus yang menjadi bawahannya. Dayang Sumbi pun panik, lalu mencari cara agar Sangkuriang gagal menjalankan tugasnya. Lalu Dayang Sumbi meminta penduduk desa untuk membentangkan kain sutera merah di timur, agar terlihat sebagai fajar, dan ayam pun mulai berkokok. Akhirnya gagallah rencana Sagkuriang, dia pun marah dan Dayang Sumbi melarikan diri ke wilayah Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga Jaksi.

Sedangkan cerita Roro Jonggrang sebagai berikut: Diawali dari kedatangan Bandung Bondowoso ke kerajaan Prambanan yang diperintah oleh Prabu Baka. Bandung Bondowoso berhasil menaklukkan Prabu Baka. Putri Prabu Baka yang bernama Roro Jonggrang akan dikawini oleh Bandung Bondowoso. Namun, Roro Jonggrang mengajukan permintaan  kepada Bandung Bondowoso, yaitu meminta untuk dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam. Sebelum fajar terbit esok hari, seribu candi itu harus sudah jadi. Bandung Bondowoso yang sakti menyanggupi permintaan itu, dan dia mengerahkan prajuritnya dari bangsa jin untuk bisa membuat seribu candi dalam semalam. Roro Jonggrang pun akhirnya panik, dan mencari akal agar Bandung Bondowoso gagal melakukan misinya. Lalu Roro Jonggrang memerintahkan dayang-dayang dan pengikutnya untuk membakar jerami dan menumbuk padi di lesung, agar dikira sudah terbit fajar dan hari sudah pagi. Akhirnya, Bandung Bondowoso gagal melaksanakan misinya dan sangat marah, Roro Jonggrang pun dikutuk menjadi batu.

Sekilas terlihat, bahwa mereka (Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang) sejak awal sudah menolak untuk ditaklukkan secara gampang begitu saja oleh pihak yang berusaha menaklukkan mereka. Tetapi, karena posisi mereka lebih lemah dan inferior, maka mereka memakai cara lain atau akal-bulus yang cerdik agar mereka bisa lepas dari kekuasaan dan kekangan para agresornya. Dengan akhir cerita kedua perempuan itu sama-sama dikutuk dan berubah menjadi wujud yang berbeda, Roro Jonggrang dikutuk menjadi batu, sedangkan Dayang Sumbi berubah menjadi setangkai bunga Jaksi.

 Struktur Mitos

Mitos Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi di atas memiliki struktur yang hampir sama. Struktur ini didapat dari analisa urutan peristiwa atau plot cerita di dalam mitos tersebut, yang bisa disusun dalam tabel sebagai berikut:

BACA JUGA :   Orang Helong, 'Betawinya' Kota Kupang

Tabel 1. Struktur Mitos

 

Struktur Dayang Sumbi Roro Jonggrang
Status Calon Permaisuri Raja Putri Raja
Agresor (posisi 1) Sangkuriang Bandung Bondowoso
Tindakan Tunduk, dengan meminta sesuatu yang “tak mungkin”, yaitu dibuatkan telaga dan perahu dalam semalam Tunduk, dengan meminta sesuatu yang “tak mungkin”, yaitu dibuatkan seribu candi dalam semalam.
Agresor (posisi 2) Ternyata agresor punya kemampuan/kesaktian yang luar biasa Ternyata agresor punya kemampuan/kesaktian yang luar biasa
Tindakan Bertindak taktis dengan membentangkan selendang merah, agar ayam jantan berkokok Bertindak taktis dengan membunyikan lesung dan membakar jerami
Akhir Berubah menjadi setangkai Bunga Jaksi Dikutuk menjadi Batu, arca Roro Jonggrang

 Sumber: Hasil Analisa Struktural Mitos

Dengan demikian, struktur mitos terebut makin jelas, dan menunjukkan adanya keajegan (konsistensi) dalam polanya. Struktur tersebut kemudian dicari lagi hubungannya dengan realitas sejarah pertahanan ruang yang akan dibahas pada bagian berikutnya. Perubahan menjadi bentuk lain pada bagian akhir dapat diinterpretasi sebagai sebuah pembebasan, di mana si agresor pada akhirnya tak mampu menjangkaunya lagi, dan itu berarti tak mampu menguasainya.

Pertahanan Ruang: Terbentuknya  Dua Negara Nasional

Dalam konteks ruang pertahanan, tak bisa dilepaskan dari ruang besar yang disebut negara, karena salah satu syarat berdirinya negara adalah adanya wilayah sebagai ruang kekuasaan, yang pembentukannya melalui proses sejarah yang rumit. Ini dikarenakan ruang negara selalu menjadi ajang perebutan kekuasaan antar kekuatan besar, dan harus direbut dan dipertahankan agar bisa menjadi ruang negara yang merdeka, tidak menjadi taklukan atau jajahan dari negara lain.

Terbentuknya dua negara di Nusantara dalam scope nasional, yakni Kerajaan Majapahit dan Republik Indonesia, menunjukkan bahwa mitos pertahanan ruang dari cerita Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang ternyata dipakai (secara sadar atau tak sadar) oleh para pendirinya. Mereka memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang bermain dalam perebutan ruang pertahanan, dan kemudian melakukan manufer yang jitu untuk merebut ruang sendiri dan menjadikannya ruang negara nasional. Mereka berperan sebagai empu yang menguasai skenario perebutan ruang.

Berdirinya Majapahit dan Republik Indonesia

Mitos

Peta Kerajaan Majapahit dan Mahapatih Gaja Madah. Ilustasi : Historiana

Berdirinya Majapahit atau Wilwatikta tak bisa lepas dari skenario yang dijalankan oleh Aria Wiraraja, seorang adipati di Madura, sebagai penyusun skenario berdirinya kerajaan Majapahit. Dengan memanfaatkan kondisi politik yang saat itu sedang genting. Kerajaan Singasari yang pasukannya sedang melakukan misi penaklukan Sumatra (Duta Pamalayu), dalam kondisi lemah, sehingga negara taklukannya, yaitu Kediri berusaha membalas dan menghancurkannya. Setelah Kediri berjaya, datanglah armada China-Mongol dengan kekuatan 20.000 tentara datang untuk menghukum raja Jawa (yang sebenarnya adalah Kertanegara, raja Singasari). Kedatangan armada China-Mongol ini dimanfaatkan untuk memukul mundur Kediri hingga hancur. Lalu, dengan perhitungan yang matang, armada China-Mongol ganti diserang secara mendadak dan mereka kalang-kabut kembali ke negerinya. Akhirnya, Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit pada 10 Nopember 1293.

Para aktifis pergerakan kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Soekarno-Hatta, juga memanfaatkan kondisi di seputar akhir Perang Dunia II yang menguntungkan untuk memproklamasikan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada awalnya – sejak 1596 – Nusantara dikuasai oleh Belanda yang kemudian bernama Hindia Belanda. Pada tahun 1942, Jepang datang, mengalahkan Belanda dan menduduki wilayah Nusantara. Tiga tahun kemudian pada tahun 1945, Jepang menyerah setelah kalah perang melawan Sekutu, dan Belanda (sebagai bagian dari Sekutu) berusaha sekuat tenaga untuk menjajah lagi Indonesia. Akan tetapi, sebelum Belanda berhasil menancapkan kekuasaannya, Indonesia lebih dahulu memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 sebagai negara yang berdaulat.

Perjuangan abad ke 20 – yang berpuncak pada tahun 1945 – tersebut menggantikan sistem perlawanan sebelumnya yang bersifat sporadis di nusa-nusa dalam lingkup Nusantara, sehingga mudah dipatahkan oleh pihak kolonial Belanda yang lebih menguasai keadaan (Lombard, 2008 hal. 77).

BACA JUGA :   Banyak hal baik di balik tidak lulus kuliah tepat waktu

 Struktur Peristiwa

Realitas peristiwa sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit dan Negara Republik Indonesia, ternyata punya struktur yang mirip. Dengan adanya kemiripan struktur kedua peristiwa tersebut, maka seperti ada keajegan peristiwa.

Tabel 2. Struktur Realitas

 

Struktur Majapahit Indonesia
Negara Sebelumnya Singosari Hindia-Belanda
Agresor (1) Daha-Kediri Jepang
Tindakan Tunduk (sementara) Tunduk (sementara)
Agresor (2) China-Mongol Sekutu
Tindakan Taktis, China-Mongol dimanfaatkan untuk menyerang Kediri, lalu diusir. Taktis, Sekutu dimanfaatkan untuk menyerang Jepang, lalu “diusir”
Akhir Penobatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit pada 10 Nopember 1293 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945

 Sumber: Hasil Analisa Struktural Realitas

Dari sinilah, kita bisa menghubungkan struktur peristiwa ini dengan struktur mitos yang sudah dibahas pada subbab sebelumnya. Dengan demikian, terbukti ada kaitan erat antara mitos dan realitas sejarah. Mitos Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang menjadi pemeraman pengetahuan tentang pertahanan ruang yang demikian rapi, tersimpan dalam cetak biru sejarah yang muncul ketika para pelaku sejarah memainkan perannya sebagai empu yang mengendalikan skenario cerita jalannya sejarah.

KESIMPULAN

Ibu Pertiwi, julukan kepada kepulauan Nusantara kita, sebetulnya memiliki jalinan dengan mitos-mitos yang dibahas dalam kajian ini. Ibu Pertiwi adalah jelmaan Dayang Sumbi atau Roro Jonggrang sekaligus, perempuan (per-empu-an) yang memiliki strategi untuk mempertahankan ruang dari upaya penguasaan para agresor yang ingin menjajahnya, dan mendirikan ruang negara yang baru.

Pada masa kehancuran Singasari, Ibu Pertiwi melakukan langkah strategis untuk mengupayakan berdirinya Kerajaan Majapahit yang meliputi Nusantara dan sekitarnya. Pada masa runtuhnya Hindia Belanda, Ibu Pertiwi pun juga melaksanakan strategi untuk lahirnya negara Republik Indonesia yang wilayahnya meliputi Nusantara.

Gerakan G 30 S/PKI tahun 1965 juga berusaha membuat manuver dengan struktur seperti di atas, tetapi gagal karena Suharto ternyata lebih menguasai skenario perebutan ruang pertahanan. Justru Suharto yang memanfaatkan situsai dengan baik. Dia memposisikan PKI sebagai Agresor 1 yang membunuh jendral AD, lalu Agresor 2 (Presiden Sukarno yang berkuasa) berhasil dilumpuhkan juga. Akhirnya terbentuk era Orde Baru (1966 – 1998).

Ternyata ada struktur tersembunyi yang sama antara mitos dan sejarah pertahanan ruang (pertahanan spasial). Mitos pertahanan ruang dalam konteks melawan agresor, sudah dipakai. Akan tetapi dalam konteks mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara masih belum banyak yang digali. Maka perlu dikaji juga mitos-mitos yang lain, yang kemungkinan bisa memberikan strategi untuk menguasai ruang pertahanan dalam bentuk dan konteks yang lain.

Yang menjadi inti dari penguasaaan ruang pertahanan di Nusantara bukanlah kemenangan (win), melainkan keselamatan (slamet) agar senantiasa rahayu bagi semua manusia yang ada di dalamnya. Keselamatan yang tidak hanya berlaku dalam konteks ruang negara saja, tetapi juga sampai konteks ruang terkecil dalam rumah tinggal, seperti disampaikan Newberry (Newberry, 2013 hal. 115): Ada kesinambungan antara rumah, halaman rumah dan masyarakat luas

 

REFERENSI

Campbell, Josef, 1968, The Hero with A Thousand Face, Princeton University Press, Princeton and Oxford

Lombard, Denys, 2008, Nusa Jawa: Silang Budaya, (1) Batas-batas Pembaratan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Newberry, Jan, 2013, Back Door Java; Negara, Rumah Tangga dan Kampung di Keluarga Jawa, KITLV-Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta

Oppenheimer, Stephen, 2010, Eden in The East, Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara (penerj: Iryani Syahrir, Dieni Purwandari, Melody Violine), penerbit PT Ufuk Press, Jakarta

Munandar, Agus Aris, 2012, Mitos dan Peradaban Bangsa, prosiding The 4th International Conference on Indonesian Studies: “Unity, Diversity and Future”, diunduh pada 24 Juni 2014 dari: https://icssis.files.wordpress.com/2012/05/09102012-03.pdf

Widhiantini, Ikhaputri, 2013, Permainan Makna dalam Penulisan Mitos Perempuan Indonesia, prosiding The 5th International Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity and Globalization”, diunduh pada 24 Juni 2014 dari: http://icssis.files.wordpress.com/2013/09/2013-01-23.pdf

Cerita Sangkuriang, download 24 Juni 2014 di: http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/157-Sangkuriang

Cerita Roro Jonggrang, download 24 Juni 2014: http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/151-Roro-Jonggrang

Featured Image : Image courtesy of 2000n.wordpress.com

Hosting Unlimited Indonesia
Please share,