HomeREFLEKSIBUKUPesan Am Siki untuk (calon) Pembunuh

Pesan Am Siki untuk (calon) Pembunuh

0 share

“Jangan dibunuh, sekalipun orang itu jahat. Ingat? Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda. Ulangi!.

Ini pesan Am Siki kepada Siprianus Portakes Oetimu  yang kelak jadi Sersan Ipi dalam novel Orang-Orang Oetimu karya Felix Nesi.

Pesan Am Siki ini rasanya sungguh rumit bagi Polisi Ipi. Ia akan sering berhadapan dengan pembunuh, penjahat kelas teri dan kakap, pencuri, preman atau pemabuk bodok. Menangani pencuri, preman dan pemabuk mudah baginya. Ia cukup menghajar mereka dengan ikat pinggang sampai nyonyor. Setelah itu mereka bisanya mengaku dan bertobat? Kalau mereka kambuh lagi tinggal dihajar lagi. Begitu seterusnya.

Bagaimana dengan Pembunuh? Pembunuh sudah pasti pejahat, entah yang sendirian atau berkelompok. Pembunuh adalah orang atau sekumpulan orang yang sadar dan tau untuk apa pembunuhan itu dilakukan. Mereka punya tujuan, entah untuk memperkaya diri, untuk isme-isme dan ada pula yang melakukannya demi eksistensi diri dan kelompok. Makanya ada istilah penjahat perang, bukan preman perang, penjahat kemanusiaan bukan preman kemanusiaan.

Rumit bukan?

Cukupkah Sersan Ipi mengamini sabda dari Golgota yang berbunyi “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Rasanya tidak. Dan tolong jangan buru-buru aman-amini sabda itu. Pembunuh dan pembunuhan ini rumit, tidak semudah itu. Pembunuh sudah tau dan sadar akan perbuatannya. Ia tahu menebas leher itu menyakitkan dan dapat mengakhiri hidup orang lain. Mereka tau dan bahkan yakin-seyakinnya, makanya mereka tampak kesetanan dan tidak merasa bersalah.

BACA JUGA :   Mahasiswa Tak Selalu Benar

Rasanya tidak cukup menghadapai pembunuh dengan mengamini sabda dari Golgota itu. Sabda itu bagus, cuma agak rumit. Mungkin Am Siki dan Sang Sabda itu telah kong-kalingkong membuat kita semua bingung.  Tapi tenang, walaupun bingung tentu kita masih bisa berpikir bukan?. Itu satu kelebihan jadi manusia.

Sebagai mahluk yang berpikir, ada beragam cara menghadapi  seorang atau sekumpulan pembunuh.  Namun sebelum itu ada  tiga (boleh ditambahkan, tapi jangan banyak-banyak) prinsip yang harus dipegang teguh: pertama, Jangan melakukan hal jahat seperti yang dilakukan penjahat atau pembunuh. Itu sangat tidak diperbolehkan. Itu yang membuat polisi beda dari penjahat, malaikat dan setan, adab dan biadab.

Kedua , Jangan menghakimi hanya untuk cari muka. Seperti para politisi dan pemuka-pemuka yang cepat cepatan menghakimi biar dapat pujian rakyat.  Kalau ada diantara kita yang seperti ini, dia layak kena maki dan sembur ludah. 

Orang yang cari muka, nasibnya akan seperti  perwira tentara yang didamprat Maria ketika memberi sambutan pada acara pemakaman Wildan suaminya dan Riko anaknya yang ditabrak Unimog tentara yang sedang  menuju Timor Leste. Bahkan setelah perwira itu menghafal ayat kitab Keluaran, toh tidak mempan juga. Ia tetap dapat maki karena memang tidak ada niat baik sejak dari pikirannya.

“Kesatuan Negara? Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu?. Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya, keparat tolol……Puih!Anjing!”

Kemarahan Maria sangat beralasan. Bagaimana mungkin, dalam perjalanan memburu orang  yang tidak bersalah, masih sempat membunuh orang yang tidak tau apa-apa dan tidak bersalah”. Jahat  sekali bukan? Jadi stop bikin diri inti dan cari muka.

BACA JUGA :   Aku yang memegang kendali ke mana arah hidupku dan setiap arahnya menuju kesempurnaan

Ketiga, Jangan pake itu teori konspirasi, bahwa pembunuh itu diciptakan elit global untuk melemahkan kaum kita. Teori konspirasi itu hanya bagi yang malas baca, malas cari tahu lebih banyak di luar apa yang dia sudah ketahui dan pasti sedang mabuk miras oplosan. Jadi, cukup Om Martin Kabiti yang bilang kekalahan Brasil dari Prancis di Piala Dunia karena konspirasi Amerika Serikat.

Ingat ya, ada tiga prinsip plus pesan Am Siki.

Kalangan cerdik pandai di universitas, tokoh-tokoh agama dalam rapat bersama politisi dan birokrat sudah merumuskan ragam cara menghadapi penjahat atau pembunuh. Ragam cara itu mereka diwujudkan dalam proyek-proyek. Ada proyek #sayapancasila, perubahan kurikulum, program de-radikalisasi dan masih banyak lagi. Untuk program deradikalisasi ini mungkin bagi pemerintah para penjahat terlampau radikal sehingga harus dikembali ke jalan yang lurus sesuai maunya pemerintah.

BACA JUGA :   Aan Anshori : Ketakutan dan kesalahpahaman saya terhadap Tionghoa mencair setelah ketemu Gus Dur

Ada cara yang murah dan mudah untuk meyakinkan para penjahat atau pembunuh ini bertobat. Cara ini sering digunakan. Cukup sediakan beberapa botol sopi kepala (bukan oplosan), panggil semua preman, pencuri, pemabuk bodok dan anak sekolah yang sering tawuran. Intinya semua yang pernah dihajar Sersan Ipi. Hadirkan penjahat atau pembunuh itu ditengah-tengah. Semuanya duduk melingkar dan saling berdempetan, tidak usah jaga jarak.  Kunci keberhasilan satu-satunya adalah Sersan Ipi tidak boleh ikut minum dan dilaksanakan menjelang malam.

Biasanya menjelang matahari terbit sudah terlihat hasilnya. Ini biasanya berhasil.

Coba saja dulu biar kau percaya…

*Inspirasi tulisan ini dari novel ORANG-ORANG OETIMU, karya @Felix Nesi. Bagi yang penasaran dengan novel ini, segera beli di https://marjinkiri.com. Sudah ada cetakan ke dua dengan kover baru yang ciamik. Penulis beli cetakan pertama.

Sudah dibaca 14 , Hari ini 1 

Please share,