HomeREFLEKSIBUKUMenjadi Oposisi Sepenuh Hati

Menjadi Oposisi Sepenuh Hati

0 share

Tidak banyak orang mau mempertaruhkan hidupnya, apalagi bila pertaruhan itu hanya menyangkut hal yang dianggap remeh dalam hidup atau sesuatu yang masih dapat dikompromikan atau digantikan dengan yang lain. 

Sebaliknya, sebagian orang yang lain mau mempertaruhkan hidupnya karena beberapa hal diyakini sebagai hidup itu sendiri, misalnya kebebasan, kemerdekaan, kemewahan, kebahagiaan, keluarga, dsb.

Tema tentang pertaruhan hidup itu saya baca dalam cerita pendek karya Anton Chekhov berjudul “The Bet. Salah satu hal yang saya pikir cukup menarik dalam karya itu adalah cara Chekhov bercerita. Chekhov, sejauh yang saya tangkap dalam karya itu, membuat dua karakter utamanya tampil saling berhadapan satu sama lain, yang satu “melawan” yang lain, saling beroposisi satu dengan yang lain.

Gaya penceritaan dengan karakter yang saling bertentangan ini sebenarnya lumrah digunakan dalam cerita-cerita mitos atau tradisional. Ini bukan berarti bahwa cerita-cerita mitos atau tradisional itu melulu bersifat sederhana, tetapi sebaliknya, bahwa sifat oposisi itu dapat meresap dalam bagian-bagian yang lebih detil yang menciptakan kompleksitas tersendiri yang tidak dapat lagi dipandang secara klise.

Siapa, misalnya, yang meragukan kompleksitas lapisan-lapisan makna kakawin mahakrya Mpu Kanwa berjudul Arjunawiwaha? Namun demikian, seseorang juga dapat sekaligus menceritakannya dengan lebih sederhana dengan gaya bercerita “oposisi”, pertarungan antara kahyangan/swarga dengan Manimantaka, antara dewata dengan raksasa, antara kebaikan dengan keburukan (untuk hal ini, nanti dulu)? Sampai di sini, setidaknya, gaya bercerita oposisi lebih mudah digunakan untuk menyampaikan suatu pesan, meskipun, sekali lagi, tampak mereduksi kompleksitasnya.

BACA JUGA :   Katolik Radikal dan Silent Majority

Chekhov tidak menyebut nama untuk karakternya, tetapi menyebut predikatnya atau profesinya –yakni  tuan rumah, jurnalis, banker, pengacara, dan penjaga– atau  kadang-kadang penampakan karakter utamanya – misalnya seorang yang tua atau kurus. Dengan penceritaan yang demikian, mungkin, Chekhov tidak bermaksud menitikberatkan pada karakter utamanya tetapi pada pesan yang hendak disampaikannya meskipun sangat berpotensi terjebak dalam stereotyping-stereotyping pada profesi-profesi tertentu. Tetapi, selanjutnya, saya pikir justru ini pesan yang hendak disodorkan oleh Chekhov: mendobrak stereotyping dengan “kepercayaan bahwa seseorang akan berubah”; bahwa seseorang “mengalami perkembangan”, baik fisik maupun pemikiran; menimbang masa lalunya, melakukan aksi di sini dan saat ini, dengan proyeksi tertentu tentang masa depannya.

The Bet adalah oposisi pemikiran dan keyakinan terhadap satu tindakan tertentu. Dalam cerpen tersebut, tindakan itu adalah pilihan antara “hukuman penjara seumur hidup”, atau “hukuman mati”. Satu pihak masih mempertimbangkan bahwa salah satu tindakan di antaranya lebih bermoral, sedangkan pihak yang lain menganggap bahwa keduanya sama-sama tidak bermoral.

BACA JUGA :   "Si Vis Pacem, Para Iustitiam” Jika kamu menginginkan perdamaian, tegakkan keadilan.

Dari kedua oposisi pemikiran dan keyakinan itu, agaknya, Chekhov memilih sebagai pihak dengan pemikiran dan keyakinan yang kedua, dan melanjutkan jalan cerita dari pandangan pemikiran dan keyakinan ini, dengan alasan bahwa kedua hukuman tersebut sama-sama cenderung “mencabut kehidupan”. Namun demikian, seandainya salah satu dari kedua tindakan itu tetap harus dilakukan, Chekhov memilih “hukuman penjara seumur hidup”, setidaknya seseorang masih dijaga kehidupannya. Tentu pilihan itu juga mendapat oposisi, dengan adanya pendapat bahwa orang tidak akan bertahan lama di dalam sel dan sendirian. Dari titik inilah mulai harus dicari pembuktiannya.

Sayangnya, pemikiran dan keyakinan yang beroposisi ini tidak dapat dibuktikan (baik dan buruknya, ataupun benar dan salahnya) hanya dengan berdialog, tetapi dengan tindakan, bukan oleh orang lain tetapi oleh orang yang memegang pemikiran dan keyakinan itu sendiri. Beroposisi sepenuh hati.

Menariknya, dalam cerita tersebut, pemikiran dan keyakinan seseorang itu juga turut berkembang, untuk tidak mengatakan berubah, ketika didudukkan atau dilaksanakan di dalam rentang ruang dan waktu tertentu, berhadapan dengan kenyataan dan tantangan hidupnya sehari-hari. Hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa selama kehidupan dan kebebasan itu sendiri juga dijaga dengan baik, kehidupan seseorang akan berubah dan mengalami perkembangan, entah lebih baik atau lebih buruk. Namun demikian, dalam cerita tersebut, Chekhov menegaskan kembali satu hal yang memperbesar potensi perubahan kehidupan seseorang menjadi “lebih” baik selain kedua hal itu, yakni: Pendidikan.

BACA JUGA :   Wahyu Mahatara : Struktur sosial dan sejarah bangsa dipengaruhi oleh kondisi ekonomi

Kemudian siapa pemenang dalam pertaruhan itu? Sejauh ketiga hal itu dipandang sebagai dasar tindakan, saya pikir, kedua pihak saling mengembangkan. Dan, pertanyaan tentang menang atau kalah menjadi sesuatu yang tak lebih berat dari ketiga hal itu untuk dicari jawabannya. Demikian juga beroposisi satu sama lain tidak harus menjadi hal yang harus dihindari, sejauh ketiga hal itu tetap dijaga, sebagaimana dulu Mangunwijaya pernah menulis juga tentang bagaimana menjadi oposisi-loyal, dalam buku kumpulan tulisannya berjudul “Menuju Republik Indonesia Serikat”.

Sudah dibaca 512 , Hari ini 1 

Please share,