HomeNARASIFILSAFAT“Roti dan Sirkus”: Ironi di Tengah Pandemi

“Roti dan Sirkus”: Ironi di Tengah Pandemi

0 310 views share

Menarik bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini ada ungkapan klasik yang berbunyi “roti dan sirkus” (panem et circenses) bergaung di kalangan para pesepakbola Eropa, khususnya dalam kompetisi Bundesliga atau Liga Jerman (Kompas, 5/4/2020).

Ungkapan itu digaungkan oleh salah seorang legislator dan pakar epidemiologis di Jerman yang menolak dengan tegas penyelenggaraan liga bergengsi itu pada pertengahan atau akhir bulan Mei 2020. Alasannya, tentu saja lantaran pandemi global di atas belum sepenuhnya selesai mengingat masih ada beberapa pemain sepakbola yang dikarantina karena terpapar virus tersebut. Bahkan ada pemain yang justru merasa resah dan gelisah, meski telah dinyatakan negatif, jika liga yang sudah dijadwalkan dan didukung oleh menteri olahraga setempat tetap dilangsungkan.

Memang ungkapan yang sudah berumur puluhan abad itu punya cerita dan makna yang sedemikian historis. Ceritanya bermula dari penyair Romawi pada abad ke-2 Masehi bernama Juvenal dalam karyanya Satire X memberi gambaran tentang masa Kekaisaran Romawi yang gemar menyajikan gandum (roti) dan hiburan (permainan) demi mengendalikan kehidupan masyarakatnya. Sementara maknanya bahwa kedua jenis sajian itu dapat dibaca sebagai strategi penguasa untuk menciptakan “keamanan dan ketertiban” (rust en orde) yang menjadikan rakyatnya hanya sebatas massa “pelahap” dan “penikmat”. Dampaknya, rakyat seperti kehilangan kuasa (power), apalagi kehendak (will),, selain mengkonsumsi, dan jika perlu menghabisi, apa yang telah disajikan. Maka tak heran jika rakyat jarang memberontak/melawan dan menjadi sedemikian patuh/tunduk asalkan kedua sajian itu selalu tersedia.

BACA JUGA :   Lydia Angela : Potret Keadilan Antara Manusia Dan Lingkungan

Hal itulah yang oleh Patrick Brantlinger dalam bukunya Bread and Circuses. Theories of Mass Culture as Social Decay (2016) disebut sebagai “pembusukan sosial”. Busuk karena rakyat yang dalam pengaruh kebudayaan massal seperti itu tak lebih dari sekadar “Tempat Pembuangan Akhir (TPA)”. Di sinilah segala sisa hasil dari komoditi ditempatkan dan menjadi tak berguna lagi. Intinya, di sanalah sampah-sampah yang bearoma tak sedap menjadi pemandangan yang tak menarik lagi untuk dinikmati, apalagi disyukuri.

Hanya masalahnya, kebusukan yang dihasilkan dari pola dan gaya hidup masyarakat, terutama di masa kini, justru  amat diidam-idamkan. Itulah mengapa tak sedikit orang yang merasa bahwa di tengah pandemi ini antara “roti dan sirkus” tak bisa dipisahkan. Hubungan keduanya ibarat “derau dan suara” atau “kata dan perbuatan”. Singkatnya, apalah arti kehidupan tanpa hiburan? Sebab hiburanlah yang membuat kehidupan menjadi lebih hidup seperti kerapkali diiklankan.

BACA JUGA :   Ziarah : Kait Mengait Sejarah, Kuasa dan Personal

Bagaimanapun hiburan memang bukan sekadar “tontonan”. Tetapi di situ ada pula “tuntutan”. Maka masuk akal jika para pesepakbola yang sudah menjadi bagian dari industri hiburan global terlampau sulit untuk tidak tampil sebagai tontonan. Karena di sana ada beragam “pemain” yang bukan hanya berperan sebagai pesepakbola, tetapi juga pengiklan, penjual tiket, penyiar pertandingan, atau petugas yang lain. Mereka adalah para operator yang memungkinkan kompetisi atau liga dari jenis olah raga apapun menjadi sebuah tontonan. Maka tuntutannya adalah “berlaga atau berlagak”. Itu artinya, kompetisi atau liga dapat berjalan sesuai rencana atau hanya bergaya hidup sehat di tengah pandemi ini.

Inilah sesungguhnya pembiaran (denial) yang tak terbayangkan sebelumnya. Pembiaran ini berisiko amat dahsyat dan tak tertanggungkan karena hanya beraroma industrious (berlebih-lebihan) belaka tanpa mengindahkan keselamatan bersama. Hal itu setara dengan pernyataan yang berpretensi merelaksasi PSBB agar ekonomi dapat tetap berjalan, padahal kenyataannya kasus baru selama pandemi ini masih terus bertambah. Atau, senada dengan pesan-pesan yang berintensi menyapa warga dan bersumber dari warisan “adi-luhung”, namun masyarakatnya justru sedang “adi-linglung” dengan menutup jalan masuk dan gang-gang sembari dipasangi spanduk bertuliskan “lockdown atau smackdown” misalnya. Ironis bukan?

BACA JUGA :   Paus Fransiskus mengunjungi UEA : Kita Bersaudara Dalam Satu Pelukan Kasih

Tentu, ungkapan “roti dan sirkus” bukanlah sekadar kata-kata yang bergaung historis. Namun, ungkapan itu justru menyimpan cerita dan cita-cita tentang bagaimana dan mengapa masyarakat begitu mudah ditaklukkan. Maka, gaung ungkapan itu di tengah pandemi ini sesungguhnya menjadi dering peringatan kritis bahwa ada yang tidak beres dalam kehidupan bersama kita. Bukan semata-mata oleh karena pandemi ini, melainkan lantaran “permainan” yang sedang dipanggungkan lewat ungkapan itu semakin licin dan samar-samar untuk dijelaskan. Itu artinya, rakyat semakin rawan dan rapuh untuk dibuai dan dibuat terlena oleh beragam jargon yang benar-benar kosong alias tanpa makna. Meski patut diingat bahwa rakyat selalu punya siasat untuk berbahasa secara kreatif dan tak jarang subversif dalam menghadapi politik kebudayaan massal seperti itu. Para suporter sepakbola sedunia, jeli dan waspadalah selalu!

Penulis : A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta.  Gambar : ECLESALIA.NET

Please share,