HomeREFLEKSIDISKUSISenjakala Bhineka Tunggal Ika
Bhineka

Senjakala Bhineka Tunggal Ika

DISKUSI FILSAFAT REFLEKSI 0 8 likes 328 views

Betulkan ide Bhineka Tunggal Ika sudah senja ?. Gagasan atau prinsip  Bhineka Tunggal Ika telah berlangung lama. Prinsip ini menjadi fundamentum berdirinya NKRI. Roh persatuan dalam kemajemukaan menjadi kesadaran awali dalam peristiwa genesis entitas jamak yang bernama Indonesia. Namun entah kenapa belum jadi kesadaran umum.

Kesadaran ini tersendat oleh primordialisme, dogmatisme dan fundamentalisme agama. Secara jujur harus diakui masalah agama di bumi pertiwi kita sangat rentan konflik. Ada kecenderungan untuk menyobek nilai-nilai  bhineka dan menyulamnya dengan ajaran agama yang dianggap paling baik. Jelas ini menjadi musuh roh pluralisme.

Kata plural yang ramai diwacanakan berasal dari istilah Latin pluralis. Pluralis sendiri berasal dari kata plus yang berarti lebih.  Artinya suatu realitas yang tersusun atas kejamakan, misalnya dalam hal keanggotaan, susunan, dan jenis. Pluralisme merupakan suatu keadaan masyarakat yang terdiri dari ragam etnik, agama, kelompok budaya yang ko-eksis atau mengada bersama dalam suatu negara (Morris, American Heritage Dictionary of English Language, 1009).

Indonesia adalah bangsa plural karena terdiri dari suku, agama, ras, yang majemuk yang terjalin dalam sebuah lanskap demokrasi berlandaskan Pancasila dan prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Norbert Djegalus menyatakan bahwa dalam kerangka Pancasila kita bisa memandang kemajemukan suku dan agama itu sebagai sein dan sekaligus sebagai sollen. Kemajemukan merupakan kenyataan hidup berbangsa yang tidak dapat disangkal, das sein. Fakta kemajemukan itu tetap eksis bila setiap komponen dari kemajemukan itu menyadari dirinya hanya sebagian dari yang lain, das sollen (Lumen Veritatis, vol. 3 April-Desember 2009,12-13).

Dari fakta itulah prinsip Bhineka Tunggal Ika menjadi sesuatu yang subtil. Djegalus membahasakannya dengan ungkapan Latin, ex pluribus unum. Artinya, bangsa Indonesia memiliki suatu penggilan kepada kesatuan. Kesatuan yang bukan berarti menyeragamkan melainkan kesatuan yang membuka ruang bagi koeksistensi setiap perbedaan-perbedaan yang ada.

Pluralisme adalah kesediaan untuk menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat ada cara hidup beragama dan cara hidup berbudaya yang berbeda, serta kesediaan untuk hidup, bergaul dan bekerja bersama serta membangun negara bersama mereka. Bagi bangsa Indonesia yang majemuk suku dan agama, semangat pluralisme itu merupakan syarat mutlak agar ia tetap eksis sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Seorang pluralis adalah dia yang menghormati dan menghargai sesama manusia dalam kekhasan identitasnya, dan itu juga berarti dalam  perbedaannya. Sementara sikap pluralis menunjuk pada kesadaran dan keterbukaan untuk mengakui bahwa cara hidup dan cara beragama memiliki perbedaan satu sama lain. Sikap pluralis tidak menyangkal adanya fakta mayoritas dan minoritas. Justru sebaliknya seorang pluralis sejati menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar. “Gitu aja kok repot,” kata Gus Dur.

Apa yang ditentang oleh roh pluralis adalah hegemoni, opresi, dan diskiriminasi dalam bentuk apapun oleh kelompok mayoritas, baik itu agama maupun suku karena menjadi momok perusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Hegemoni melahirkan diskriminasi. Diskriminasi berujung pada opresi atau penindasan.

Menjadi aneh kalau ada kelompok agama yang mengharamkan pluralisme. Ini menunjukan bahwa secara sistem mereka sangat terkungkung dalam primordialisme, fundamentalisme,dan  dogmatisme. Isme-isme inilah yang menghambat pertumbuhan  dalam tenunan hidup berbangsa dan bernegara.

Kalau haram meng-haramkan, kafir-mengkafirkan, fitnah-memfitnah jadi budaya mayoritas maka bisa jadi Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika mungkin sudah menjelang tamat.

 *Diolah bersama Fian Roger & Andre Yuris

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *