Windi Doyan Ciarvi

388 0

Malam minggu yang sangat membagongkan. Diam dirumah sambil berkhayal kapan jadi miliarder. Hidup kalau sedih ditangisi, kalau bahagia dinikmati. Rasa syukur yang membuat hidup ini masih tetap berjalan. Bayangkan kalau gue milih buat gantung diri? Mungkin gue gak bakal cerita hari ini ke lo.

Ahhh….

Malam minggu kemana nih enaknya?

PING!!!

Eh, tumben si Rendi chat gue.

“Dimana lu woy jones?!”

“Apa lu?”

Rendi anak yang memang agak belagu tapi dia jenis temen yang cukup setia yang pernah gue temui di muka bumi ini. Nggak tahu kenapa manusia yang satu ini gak pernah pergi dari hidup gue. Padahal udah eneg banget liat mukanya.

Kita berteman lama sejak gue dan dia ketemu dibangku SMP. Awalnya gue kira nih anak jaim, aslinya bocor halus! Tapi gue langsung ngerasa klop dengan dia saat itu. Sampai akhirnya kebablasan deh sampai sekarang berteman baik.

“Ngapain lu dirumah? Betah banget! Keluar yuk…” ajak Rendi.

Aku padamu Rendi…

Nggak tahu kenapa Rendi itu selalu hadir disaat yang tepat. Contohnya disaat gue gabut begini.

“Yauda ayuk, mau kemane nih kita bosquee?”

“Café biasalah mau kemana lagi coba?”

Kebiasaan kami adalah nongkrong berdua di café sambil nyebat. Malam minggu ditemani segelas americano tanpa gula. Karena manisnya sudah pindah ke muka gue. Hehehe…

“Bree… Teringatnya Windi gimana? Perasaan lu punya pacar kok berasa kaya jones gitu?” Tanya Rendi.

Pertanyaan tersulit yang berhasil mengalahkan ujian fisika dulu. Maklum gue dulu sering remedial kalau fisika apalagi kimia. Ampun dah…

“Pertanyaannya sederhana sih memang bree tapi sulit buat dijawab..”

“Yah, gua heran aja gitu Windi pacar lu tapi kalian jarang banget jalan kencan gitu berdua. Kalian udah putus emangnya?”

“Belum kok breee… Masih jalan, semalam masih telponan tapi ya gitu deh cuma sekedar doang.”

Kalau kalian nggak tahu “Bree” itu apaan, itu sejenis panggilan yang sama kaya kita bilang “Bro” atau “Sob” gitu.

Aslinya gue punya pacar, namanya Windi. Cewek yang gak bisa dibilang sederhana karena memang gayanya spektakuler mengalahkan bentukan Lucinta Luna. Tapi pacar gue ini cewek tulen lho ya. Hahahaha…

Gue kenal Windi dari teman gue yang lain. Baru pacaran udah jalan 6 bulan. Tapi ya gitu deh, chatingan seadanya aja. Terus telponan juga harus dia duluan yang mulai. Awalnya sih gue gak merasa risih dengan itu. Tapi semenjak Rendi nanya kenapa sih harus dia duluan yang call, emang salah kalau gue yang call dia duluan? Alasannya takut mengganggu pas dia kerja. Gue jadi curiga kenapa cewek ini rada aneh beda sama cewek yang pernah gue temui.

Kalau inget yang dulu, Windi duluan lah yang coba deketin gue saat itu. Berawal dari dia yang terpuruk saat itu dan kebetulan gue hadir dalam hidup dia. Saat dia sakit gue yang mengurus dirinya. Bayangin gue menempuh jarak 40 km pulang-pergi setiap kali dia call gue nyuruh main ke kos nya. 

Usaha, waktu, dan bensin gue pertaruhkan. Apalagi harga BBM sudah naik lagi. Terkesan jadi cowok pelit tapi jelas ini uang bukan daun, berharga banget mending buat isi perut. Beserta abang penjual martabak langganan gue yang juga udah tanda banget setiap gue pesan martabak coklat keju pasti mau dikasih ke cewek gue. Hampir semua cowok pernah diposisi berjuang kaya gini. Bedanya, ada yang usahanya dihargai dan ada yang malah disia-siakan cewek.

Cup..cup.. Jangan sedih.

Hingga akhirnya perjuangan gue berbuah manis. Pandangan dia terhadap cowok yang dulunya negatif merasa semua cowok itu bajingan seperti bokapnya yang dulunya tukang selingkuh kini perlahan berubah semenjak Windi kenal gue.

Ciee elahhh…. Slebeww ~

Masa sulit yang nggak pernah gue lupakan disaat dia waktu itu butuh duit buat bayar kos tapi duitnya jatuh di jalan, gue bela-belain pinjam ke nyokap gue dengan alasan mau beli buku. Sejak kapan gue suka baca buku? Begonya kita itu di situ. Bucin ke cewek tapi giliran nyokap ngomel satu album chrisye, kita gak pernah mau dengar.

Heran ya liat diri sendiri kadang hehe…

Nemenin dia berproses mulai dari nganterin lamaran, nemenin dia panggilan interview kerja sampai akhirnya diterima kerja. Seneng banget gue saat itu karna dulu gue nemenin dia bersama motor butut gue ini, astuti. Kalau dia kecapekan biasanya dia suka gak sadar meluk terus ketiduran di bahu gue. Mengalahkan keromantisan dilan milea pokoknya.

Namun bulan-bulan berikutnya, perlahan semuanya berubah.

Hingga satu kali Rendi datang ke gue saat itu. Tiba-tiba saja Rendi pengen ngomong serius sama gue saat itu. Biasanya anak ini suka bercanda tapi kali itu rasanya seperti disambar petir di siang bolong.

“Bree… Dimana? Ada yang pengen gua omongin nih sama lo!”

Gue parkir astuti kesayangan gue.

“Mbak, americano satu ya. Nggak pakai gula soalnya saya udah manis,” canda gue ke mbak pelayan café.

Hingga akhirnya obrolan serius itu pun dimulai…

“Lu mau ngomong apaan? Penting banget emangnya?” tanya gue sambil kebingungan.

“Terakhir kali kapan lu jalan sama Windi?” tanya Rendi dengan raut wajah serius.

“Sebulan lalu…”

“What?! Parah berarti bener…”

“Napa sih lo? Ada apaan sih?” tanya gue penasaran.

Dan Rendi mulai menjelaskan panjang kali lebar kaya rumus balok.

“Mbak… Minta gulanya dong ya. Boleh?” Permintaan gue kepada mbak pelayan café. Americano ini harus manis. Harus manis! Mabok gula nggak peduli gue malam itu. Gue lemes banget malam itu. Selama diperjalanan di atas motor astuti gue, pikiran liar mulai menjalar kemana-mana. 

Untuk kesekian kalinya, cinta tidak pernah berpihak atau mungkin tidak akan pernah berpihak ke gue. Cinta berpihak pada mereka yang memiliki segudang harta.

Location unknown lagu dari honne mengiringi air mata gue yang mulai menetes tanpa gue sadari. Cowok juga boleh nangis kan?

Memang tidak senyaman kursi empuk mobil miliknya. Namun bisa membawamu kemana saja dengan hati yang tulus.

Wanita yang memang bukan tipe sederhana mungkin lebih pantas duduk disamping bukan dibelakang. Setir bulatnya mengalahkan stang motor astuti gue. Rendi bilang dia melihat wanita yang selama ini gue perjuangkan ternyata sering diantar jemput bahkan sudah pacaran dengan pria lain. Berduaan di restoran bintang lima membuatnya tersenyum daripada angkringan yang hanya membuat dirinya mengeluarkan kata-kata kutukan.

Menghela nafas…

Dan malam itu juga satu pesan singkat dari Windi.

“Kita putus aja ya. Aku udah nggak ada rasa lagi. Percuma kalau kita terusin.”

Tertegun…

Gue lemah seketika. Malam itu asam lambung gue kambuh.

Buyar…

Datang memberi luka, pergi meninggalkan trauma.

Rendi sulit menghubungi gue. Hingga akhirnya dia datang ke rumah gue. Merasa penasaran dengan keadaan gue, dia mendobrak pintu kamar gue. Sialnya, baut pintu itu pada lepas semua. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Putus cinta, malah harus ngeluarin duit buat perbaiki pintu kamar yang rusak ulah Rendi.

Tapi Rendi memang manusia yang selalu hadir disaat yang tepat. Manusia yang sengaja dikirim Tuhan untuk gue. Bayangin kalau gue nggak punya sahabat kaya Rendi, mungkin malam itu gue bakal berakhir bersama baygon yang ada disamping tempat tidur gue.

Hingga pada akhirnya, Tuhan tidak akan membiarkanmu sendirian. 

God always has a way to help you.

Hal indah butuh waktu untuk datang…

Foto : Andre Yuris


Ikuti Idenera di  Google News: Google will europäische Nachrichtenplattform starten - und ... Google News.


Terimakasih telah mengunjungi IDENERA.com. Dukung kami dengan subscribe Youtube: @idenera, X :@idenera, IG: @idenera_com


 

Please share,
Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *