HomeREFLEKSIBUKUResensi Buku Benedict Anderson : Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial

Resensi Buku Benedict Anderson : Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial

BUKU DISKUSI FILSAFAT SEJARAH 0 0 likes 146 views

Anarkisme sering disalahpahami sebagai kebrutalan dan kekerasan. Dalam filsafat politik, Anarkisme berarti paham yang menyatakan masyarakat bisa berjalan tanpa otoritas negara.[1] Sejarah Anarkisme memiliki keterkaitan dengan gagasan sosialisme dalam hal cita-cita politik untuk membebaskan pekerja dari alienasi dan komitmen terhadap kaum tertindas. Namun demikian, Anarkisme menolak efek terburuk dari sosialisme yang mungkin terjadi yaitu totalitarianisme rezim.[2]

Benedict Anderson dalam Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial (Judul asli: Under Three Flags: Anarchism and The Anti-Colonial Imagination) menampilkan jaringan kompleks gerakan aktivis anarkis dan nasionalis di seluruh dunia yang antara lain mencakup Asia, Eropa dan Amerika. Anderson memotret perpolitikan global akhir abad ke 19 ini melalui interaksi intelektual antara dua tokoh utama yang merupakan penulis besar Filipina yaitu José Rizal dan Isabelo de los Reyes. Sebagaimana tercatat dalam sejarah dunia, pada dekade akhir abad ke 19 terjadi pemberontakan nasionalis yang nyaris serempak di beberapa tempat yaitu Kuba (1895), Filipina (1896) dan protes-protes anti-imperialis di Tiongkok dan Jepang. Hal ini oleh Anderson tidak dibaca sebagai suatu kebetulan, melainkan menunjukkan adanya relasi saling membaca karya di antara para aktivis nasionalis bahkan saling berkoordinasi dalam aksinya.[3]

Baca juga : Perempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi

Bab awal dari buku ini meneliti usaha Isabelo de los Royes melawan kolonialisme Spanyol di Filipina melalui karyanya yang berupa kumpulan cerita rakyat Filipina (El Folk-lore Filipino). Isabelo sebenarnya memaknai cerita rakyat sebagai el saber popular atau ‘kearifan rakyat’.[4] Dalam karya tersebut, Isabelo bermaksud untuk mengangkat martabat penduduk lokal Filipina agar sederajat dengan kaum imperialis, sebab kemampuan sastra dan puitis di kalangan naturales (penduduk lokal) tidak kalah dengan orang-orang Kreol dan Spanyol Semenanjung. Di samping itu, melalui karya ini Isabelo menjungkirbalikkan dominasi Gereja reaksioner di Filipina.[5] Secara epistemologis, naturales sering dipandang sebagai orang-orang yang tidak rasional, terbelakang dan percaya takhayul.  Dalam El Folk-lore Filipino, Isabelo membalik anggapan ini. Ia menyatakan bahwa takhayul-takhayul justru pertama kali dibawa oleh orang Spanyol.

Bagian berikutnya, menyelidiki novel José Rizal yang berjudul El Filibusterismo. José Rizal mengakui kedekatan novelnya dengan Max Havelaar karya Douwes Dekker. Max Havelaar merupakan novel yang mengisahkan penderitaan rakyat kolonial di Banten. Novel ini menghasilkan impresi yang begitu kuat bagi penduduk di daerah koloni dan politisi-politisi kolonial. Dendam politik anti-kolonial dalam Max Havelaar menginspirasi José Rizal dalam El filibusterismo.[6] Anderson menunjukkan bagaimana José Rizal dalam novelnya mampu meramu berbagai sastra avant-garde Perancis, Belanda dan Spanyol untuk menghasilkan novel yang melawan kolonial.[7]

Benang merah dari karya Isabelo de los Royes dan José Rizal ialah keduanya dipengaruhi dan mempengaruhi situasi perlawanan global terhadap kolonialisme. Kedua tokoh ini membaca karya-karya sastra avant-garde dunia dan menghasilkan novel yang mampu menularkan semangat kemerdekaan hampir di seluruh benua di dunia. Dengan kata lain, sastra dapat membangkitkan imajinasi global tentang penderitaan rakyat kolonial dan aksi-aksi yang harus dilakukan. Interaksi kedua penulis ini dengan aktivis anarkis global tidak hanya berhenti pada pembentukan imaji, tetapi juga mewujud dalam aksi. José Rizal, misalnya, sempat berupaya mendirikan basis perlawanan orang Filipina di timur laut Kalimantan karena terpengaruh keberhasilan José Marti untuk membuat basis pemberontakan di Tampa, Florida.[8]

Baca juga : S.K. Trimurti, Umi Sardjono dan Ilmu Sejarah yang Androsentris

Kekuatan dari buku Benedict Anderson ini ialah paparannya yang begitu mengalir. Membaca buku ini seperti kita sedang membaca sebuah novel. Namun demikian, sisi keterangan dan sumber ilmiah tak pernah luput dalam penjelasan-penjelasan historisnya. Foto-foto sebagai bukti historis juga sangat membantu pembaca untuk memasuki konteks dari uraian historis Anderson. Pembagian dalam sub bab-sub bab yang pendek membuat pembaca tidak lelah dalam mengikuti uraian Anderson. Namun demikian, bagi  pembaca yang asing dengan sastra-sastra avant-garde dunia, diperlukan penelusuran lebih lanjut mengenai karya-karya sastra tersebut, sehingga didapatkan pemahaman atas narasi yang disampaikan penulis.

Akhir kata, buku ini sangat penting bagi mereka yang sedang mempelajari filsafat politik kontemporer dan anarkisme global serta bagi mereka yang tertarik untuk terus mengikuti perkembangan pemikiran Benedict Anderson setelah karyanya yang termasyur Imagined Communities (Komunitas Terbayang).

Data Buku:

Image result for di bawah tiga benderaJudul Buku       : Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial (Judul asli: Under Three Flags: Anarchism and The Anti-Colonial Imagination)

Pengarang       : Benedict Richard O’Gorman Anderson

Penerjemah    : Ronny Agustinus

Penerbit          : Marjin Kiri

Tahun              : 2015

Tebal buku      : 359 halaman

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Arete, vol. 6,no.1, 2017 (tulisan ini merupakan edisi perbaikan).

Catatan kaki: 

[1]  Ted Honderich, The Oxford Companion, Oxford University Press, New York: 1995, hal 30.

[2] John Moore and Spencer Sunshine (Eds.), Aku Bukan Manusia, Aku Dinamit, Filsafat Nietzsche dan Politik Anarkisme, Ninus D. Andarnuswari, Marjin Kiri, Tangerang:  2014, hal.pengantar

[3] Benedict Anderson, Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial (Judul asli: Under Three Flags: Anarchism and The Anti-Colonial Imagination), Ronny Agustinus (Penerj.), Marjin Kiri, Tangerang: 2015, hal. 3.

 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *