HomeNARASIFILSAFATNglalu : Segenap Korban Dari Tirani Mayoritas

Nglalu : Segenap Korban Dari Tirani Mayoritas

FILSAFAT KEBUDAYAAN NARASI 0 0 likes 315 views

Kita hidup di sepotong zaman di mana agama tak lagi menjadi perkara rasa. Tak sebagaimana mestinya, kini beragama hanyalah masalah menyesuaikan diri dengan mereka yang berkuasa.

Aku mendengar kabar, bahwa guru dan sahabat kita—yang kita tahu sangat teguh dalam memegang prinsip tak (boleh) ada pemaksaan dalam (ber)agama itu—telah mati. Kepalanya dipenggal. Dan, sesaat seusai dikubur, jasadnya berubah menjadi seonggok bangkai anjing kudisan.

Lalu, mereka yang berkuasa itu, menggantungnya di perempatan jalan dengan menyertakan dengan sebaris tulisan pada sepotong papan: “Inilah akibat orang yang sesat dan menyesatkan.”

Tapi, apa sebenarnya hak kita memvonis sebuah keyakinan sebagai sesat dan menyesatkan?

BACA JUGA :   Eri Darmawan : Pakaian bisa jadi sumber ketidakadilan*

Aku kira dalam hal ini tak seorang pun memiliki hak itu. Sebab keyakinan, sekali lagi, adalah urusan rasa. Dan setahuku, rasa itu adalah sesuatu yang mudah untuk dijelaskan, bersifat sangat pribadi: dalam segala hal adalah aku, milikku, dan urusanku.

Dengan demikian, bukankah menjadi lucu sekaligus dungu apabila kita menghakimi sesuatu yang tak gampang dijelaskan?

Logika semacam ini tentu saja tak mungkin bersarang dalam nalar mereka yang berkuasa. Bagi mereka, persoalannya sederhana saja: “Rasa itu gila. Dapat menggiring pada sesuatu yang merdeka dan beda—dapat merongrong kuasa. Karena itu, ia berbahaya. Sekarang tinggal pilih: tunduk atau tersisih?”

BACA JUGA :   Memperebutkan Allah sebagai legitimasi Amanah Rakyat

Pilihan pertama, seandainya ingin selamat, berarti kita harus menyeragamkan diri dengan selera mereka, dengan mengorbankan keotentikan iman kita. Dan ini artinya, menjadi orang munafik. Adapun pilihan kedua, seandainya tetap ingin berbeda, kita mesti menyisih dari dunia yang tengah dikuasai mereka, sekali dan untuk selamanya.

Dan aku pun telah memilih. Aku akan menyisih dengan menyerahkan raga ini kepada mereka secara cuma-cuma. Terserah pada akhirnya mereka mau menyembelih atau merajamnya. Aku tak peduli.

Setidaknya, aku tetap menjadi diriku sendiri: dalam segala hal adalah aku, milikku, urusanku.    

*Gambar : Kantong Bolong,” 29×37 cm, goresan jari, abu rokok di atas kertas, 2017 oleh Heru Harjo Hutomo

Please share,