HomeNARASIKEBUDAYAANLenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

KEBUDAYAAN NARASI SEJARAH 0 0 likes 365 views

Adalah Arya Banyak Wide atau yang kelak dikenal sebagai Arya Wiraraja yang secara genealogis maupun ideologis menurunkan para visioner nusantara. Satu di antaranya adalah Mada.

Semasa bocah, pengucap sumpah palapa itu ditempa oleh Kuda Anjampiani, anak Ranggalawe, cucu Arya Wiraraja. Ada satu kabar bahwa sebelum menjadi penguasa di Songenep, Sumenep kini, Arya Wiraraja muda suka berguru ilmu dan pernah bermukim di Wengker, perbatasan dengan Kediri. Mada pun, menurut salah satu versi, pernah mengawali karirnya di Wengker sebelum menyelamatkan Jayanagara dari pemberontakan Kuti.

Adakah kisah itu yang mempertautkan Ponorogo, Wengker di masa lalu, dengan Madura, pakaian hitam yang khas beserta celana komprangnya dan karakter mereka yang cenderung lugas—satu hal yang tak kita temui di daerah Jawa Timur lainnya yang dikenal sebagai daerah “mataraman”?

Mengulik sejarah dan budaya Ponorogo tak dapat dilepaskan dari reyog. Kesenian khas Ponorogo ini juga tumbuh dan berkembang dalam sejarah. Ia tak tiba-tiba terbentuk sebagaimana yang kita saksikan sekarang. Bahkan ada pula kisah ketersisihan dan cara penyikapan di baliknya.

Pagelaran Reyog di Ponorogo. Foto : Heru Harjo

Reyog tak semata seni pertunjukan, tapi juga sebentuk penyikapan para leluhur terhadap situasi dan kondisi tertentu. Dilihat dari segi pertunjukannya reyog pada dasarnya adalah seni arak-arakan yang menggunakan jalanan sebagai panggungnya. Sampai sekarang, di samping menjadi seni panggungan dengan berbagai modifikasi (sendratari), reyog masih melakukan fungsi klasiknya sebagai seni arak-arakan.

BACA JUGA :   Reforma Agraria: Keadilan Sosial (tanpa) “Jualan Obat”?

Sifat arak-arakan reyog sejatinya tak semata pilihan estetis, tapi lebih pada politis. Seperti happening art di masa sekarang yang cukup politis, berabad-abad lalu orang Ponorogo sudah melakukan fungsi politis kesenian itu dengan reyognya. Arak-arakan dan longmarch merupakan cara orang Ponorogo di masa lalu menyampaikan kritiknya secara satir dan parodis kepada para penguasa. Orang-orang Ponorogo sudah melakukan apa yang kini disebut sebagai demonstrasi sejak berabad-abad yang lalu.

Ekspresi-ekspresi seni reyog, baik tari maupun musik, sangat tak tampak “keratonan,” cenderung lugas dan sigrak (bersemangat), cocok sebagai sarana untuk menyampaikan kritik. Karena fungsi politis inilah seni reyog di masa lalu cenderung memilih jalanan beserta segala karakteristiknya sebagai panggung.

Terdapat satu versi sejarah reyog yang mengaitkannya dengan pembangkangan seorang Kettu Wijaya yang kelak tenar dengan sesebutan Ki Demang Suryongalam atau Ki Ageng Kutu. Sebermulanya Kettu Wijaya merupakan punggawa kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V. Karena kecewa dengan ketaktegasan sang raja yang konon didikte oleh salah satu isterinya yang berasal dari Campa, ia memilih meninggalkan Majapahit dan menepi di wilayah antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis: Wengker. Adakah keterkaitan antara Ida Bagus Wangbang Manik Angkeran, Ida Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja, dan Kettu Wijaya atau Ketut Wijaya? Ketiga nama tersebut identik dengan nama-nama Bali. Adakah, selain berarti wewengkon angker (wilayah wingit), Wengker juga punya kaitan dengan legenda Manik Angkeran?

BACA JUGA :   Review film Children of Heaven : Antara Sepatu dan Surga

Sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan ketersisihannya, Kettu Wijaya kemudian membuat paguron untuk menggembleng para warok dan sebuah pertunjukan arak-arakan yang bersifat satir dan parodis. Kepala macan (singobarong), sebagai perlambang sang raja (Brawijaya V), yang ditunggangi oleh seekor merak yang tengah mekar ekornya, sebagai perlambang sang isteri. Macan itu, karena ditunggangi seekor merak yang elok, meski berwibawa, tak lagi segesit dan segarang dahulu. Jathil, sejenis kuda kepang yang dahulu dikendarai para lelaki muda yang anggun dan luwes—di mana sekarang ditunggangi para penari perempuan muda—adalah sebentuk satire para prajurit Majapahit yang seturut dengan karakter sang raja.

Adapun sang penasehat muda, pujangga anom, bujang ganong atau ganongan adalah representasi dari Kettu Wijaya. Dilihat dari bentuk topeng yang dikenakan, ganongan memiliki sepasang mata yang besar, hidung yang panjang, dan senyum lebar dengan seringai gigi kelinci. Ganongan merupakan karakter yang gecul, jenaka, seperti Joker dalam film Batman. Gerakan-gerakannya cenderung akrobatik, kayang dan jumpalitan, tampak ngece, mengejek sang macan. Untuk ukuran subasita (sopan-santun) keraton jelas hal ini sangat tak pantas.

BACA JUGA :   Anastasius Welerubun : Saat kebhinekaan bangsa kita terancam

Ganongan diiringi pula oleh sekumpulan warok, para karakter yang gagah, berangasan, dan bersuara lantang. Pakaian mereka cenderung hitam-hitam, prasaja, tanpa motif apapun. Ikat kepala (udheng) yang tampak tak teratur, atau beda dengan gaya ikatan mataraman. Ikat kepala para warok menampakkan tiga sudut lipatan: depan dan sisi kanan-kiri atas. Dan tak lupa, bukanlah keris senjata utama mereka, melainkan kolor lawe wenang dan lawe telon sebesar lengan bayi.

Pagelaran Reyog di Ponorogo. Foto : Heru Harjo

Pramoedya Ananta Toer, dalam novel sejarahnya, Angrok-Dedes, pernah mengatakan bahwa istilah “Rok”—di mana kemudian istilah warok diturunkan—pada nama Ken Angrok memiliki arti jago kelahi, gelut atau gulat. Barangkali, eksistensi para warok sudah ada pada zaman Ken Angrok (Kediri dan Singasari) di mana mereka adalah laskar yang dikepalainya sebelum berhasil merebut tampuk kekuasaan Tumapel.

Dalam perjalanan sejarahnya reyog kemudian berusaha untuk dilenyapkan sisi politisnya. Pada dekade 80-an kesenian yang memadukan tangga nada slendro dan pelog itu dimodifikasi menjadi sebuah seni panggungan yang memadukan seni drama dan tari, tak lagi berarak di jalanan. Ketika menjadi seni panggungan ada satu kharakter khas yang dominan di sana: Prabu Klana Sewandana yang berpusakakan pecut Kyai Samandiman. Tentu, kisahnya tak lagi tentang pembangkangan Ki Demang Suryongalam pada Brawijaya V, tapi kisah perkawinan antara raja Bantarangin dan putri Kediri, Dewi Sanggalangit. Fungsi politis reyog kemudian menjadi mati, tergantikan fungsi estetik-romantik semata.

Please share,