HomeNARASIKEBUDAYAANMencuci Piring di Hari yang Panjang

Mencuci Piring di Hari yang Panjang

0 share

Saya seringkali keliru menangkap maksud dari suatu pertanyaan atau pernyataan, sama seringnya dengan kelirunya jawaban atau tanggapan yang saya berikan untuk hal itu. Beberapa hari yang lalu, ketika berkunjung ke rumah seorang kawan, saya mengalami hal itu.

Kawan saya mengundang beberapa kawan untuk acara syukuran sederhana di rumah kontrakannya yang baru. Beberapa kawan saya kenal, dan beberapa lainnya beberapa kali bertemu wajah. Beberapa datang sendiri, dan beberapa yang lain mengajak serta istri dan anaknya. Saya termasuk yang terakhir.

Setelah beberapa saat bercengkrama, tuan rumah menawari kami makan. Dia telah memasaknya sendiri. Kami bersiap menyantapnya.

Beberapa piring keramik dipersiapkan, dan beberapa piring plastik sekali pakai juga dikeluarkan. Tentu ini bukan karena membeda-bedakan kawan yang satu dengan yang lain, tetapi karena memang jumlah kami melebihi piring keramik tuan rumah.

Saya kebetulan mendapat piring keramik untuk digunakan. Kawan yang lain menggunakan piring plastik, termasuk istri saya.

Kami lahap menyantap masakan tuan rumah. Saya dan satu orang kawan saya makan terlampau cepat, dan selesai lebih cepat dari kawan-kawan yang lain.

Sejenak kemudian saya menuju ke dapur, tempat wastafel berada. Mencuci piring dan mencuci tangan. Ini biasa kami lakukan. Tidak hanya karena kami sudah akrab, tetapi juga karena kebiasaan di rumah.

Kawan saya yang telah selesai makan lebih cepat bersama saya tadi, berada di belakang saya.

BACA JUGA :   Buku Mengeja Cahaya : Artikulasi Keprihatinan Relawan Kemanusiaan

“Gak dicucikan istrimu?” tanyanya.

“Ah, ndak,” jawab saya. “Dia pakai piring plastik,” saya menambahkan. Kalau piring plastik kan memang sekali pakai dan tidak perlu dicuci, pikir saya.

Mendengar jawaban itu, kawan saya tertawa.

“Maksudku, ‘apakah piringmu tidak dicucikan istrimu?’” katanya menjelaskan. Saya tetap menjawab: “tidak”. Dan kawan saya tetap tertawa.

***

Nah, beberapa hari sebelumnya lagi, saya membaca beberapa cerita pendek dan puisi berbahasa Inggris. Cerita-cerita pendek ini saya baca di situs americanliterature.com dan salah satu buku kumpulan cerita pendek terbitan Oxford University Press.

Banyak cerita pendek di situs tersebut, dan sebagian besar memang karya klasik. Sebagian karya yang telah saya baca di situs tersebut terbit pada abad 19 hingga awal abad 20. Sedangkan cerita-cerita pendek di dalam buku itu diterbitkan awal abad 20.

Saya yang awam dengan dunia sastra jelas tergagap-gagap ketika membacanya. Tidak hanya karena saya belum akrab dengan bahasa yang digunakan, meskipun telah lebih dari enam tahun bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib di sekolah menengah, tetapi juga hal yang diacu oleh kata-kata yang digunakan dalam karya-karya tersebut, mengingat tahun atau masa ketika karya itu diterbitkan terpaut puluhan tahun dengan masa saya.

BACA JUGA :   Maria Menjadi Ibu Yesus Bukan Semata Karena Takdir

Untungnya, seolah melengkapi, buku tipis kumpulan cerpen yang diperuntukkan bagi sekolah menengah yang ada pada saya, disertai dengan pertanyaan-pertanyaan panduan terhadap karya yang telah selesai saya baca. Misalnya, pertanyaan tentang pemilihan kata, kenapa bukan a atau b, bagaimana jika digunakan kata yang lain, peristiwa apa yang menunjukkan a atau b, seperti apa karakter tokoh a atau b ditunjukkan dalam cerita tersebut, dsb.

Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak saya untuk berpikir lebih dalam tentang karya tersebut, tentang detil-detil kecil yang sering kali saya lewatkan atau abaikan. Dan, lagi-lagi, untungnya, dalam situs tersebut juga dilengkapi informasi juga pertanyaan yang cukup untuk menjadi panduan terhadap karya-karya dengan tema-tema khusus, misalnya tentang rasialisme, diskriminasi, feminisme, perang saudara, perbudakan, dsb.

Dalam beberapa karya, saya kesulitan membayangkan ketika karya tersebut dikaitkan dengan waktu atau musim tertentu, misalnya dalam karya Ray Bradbury berjudul “Marionettes, Inc.” Pada paragraf awal pembukanya disebutkan “…at about ten in the evening, …”. Dalam bahasa Indonesia, pukul sepuluh mungkin sudah termasuk malam, dan merupakan waktu yang dipandang tidak pantas untuk bertamu.

Namun, jelas berbeda dengan dunia di hadapan Bradbury. Baginya, pukul sepuluh hanya terpaut tak lebih dari satu jam setelah matahari terbenam, apalagi di musim panas. Dan hal itu, mungkin juga terkait dengan, beberapa saya temukan dalam karya-karya pengarang yang lain — penyebutan “hari yang panjang”.

BACA JUGA :   Orang Helong, 'Betawinya' Kota Kupang

Saya pernah menafsirkannya sebagai kata konotatif, dan ternyata saya dapati hari (“day” lawan dari “night”), dalam hal ini siang, memang lebih panjang. Langit telah terang sekitar pukul empat pagi, dan tetap terang hingga pukul setengah sembilan atau sembilan malam (?).

Berlawanan dengan hal itu, saya juga menemukan dalam suatu karya disebutkan, saya terjemahkan secara bebas saja, “cahaya lampu telah berpendar pada pukul empat sore,” dan baru saya tahu di musim dingin matahari telah terbenam sekitar pukul setengah tiga atau tiga sore hari.

Tentu saja permasalahan itu tidak hanya terkait dengan penerjemahan dan pemahaman bahasa, tetapi juga terkait dengan pengalaman dalam ruang hidup yang disebutkan oleh pengarang melalui karyanya. Mungkin, mungkin lho ini, menjadi tidak mengherankan apabila beberapa peneliti mendatangi ruang hidup pengarang karena tertarik oleh karya-karya yang telah dibacanya karena kesemuanya itu mempengaruhi penafsiran terhadap karya, demikian juga dengan pesan yang dibawa (andaipun ada) di dalamnya.

Lalu, apakah pengalaman saya mencuci piring di awal tulisan ini butuh ditafsirkan seperti itu?

Ah, kamu bercanda. Tentu saja tidak.

150720 (Sebelumnya dipublish pada :https://kepadaharibiasa.wordpress.com)

Image : Background vector created by freepik – www.freepik.com

Sudah dibaca 3 , Hari ini 1 

Please share,