HomeREFLEKSIDISKUSITinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN NARASI 0 0 likes 603 views

Kalau ditelusuri, memang masih belum banyak para pemikir atau penulis yang memberikan tanggapan atau komentar terhadap buah pikiran Driyarkara. Lebih banyak ditemukan adalah karangan-karangan atau tulisan yang menguraikan kembali pemikiran-pemikiran Driyarkara sebagaimana yang ditemukan dalam beberapa buku atau skripsi.

 

Namun hal ini tidak berarti bahwa tidak ada orang yang memberikan tanggapan atau komentar atas pemikiran Driyarkara. Ada beberapa tokoh yang secara sederhana memberikan sedikit komentar atas beberapa karangan-karangan Driyarkara, seperti Mudji Sutrisno.

Dalam karyanya yang berjudul “Driyarkara: Dialog-dialog panjang bersama penulis”, Mudji Sutrisno memberikan sedikit komentar atas pemikiran Driyarkara. Ia berpendapat bahwa seluruh pemikiran Driyarkara selalu bertitik tolak pada manusia. Hal ini berarti manusia menjadi kajian utama dalam buah pikiran Driyarkara. Driyarkara selalu menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Berkenaan dengan hal tersebut, Mudji berpendapat bahwa sedikitnya ada dua unsur pokok yang dimaksudkan Driyarkara dalam ungkapan di atas, yaitu: pertama adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. Hal ini menunjuk pada defenisi manusia sebagai subyek atau peristiwa yang sadar. Kedua, manusia adalah makhluk dalam dunia. Ini menunjuk pada defenisi manusia sebagai subyek atau persona yang mendunia atau berada di dunia. Berada di dunia berarti berada bersama dengan yang lain.

Baca juga : Gotong Royong Sebagai Relevansi Konsep Sosialitas Driyarkara

Satu yang hal dikagumi Mudji Sutrisno atas pemikiran Driyarkara adalah soal eksistensi manusia. Dalam konteks ini, Driyarkara menegaskan bahwa manusia sebagai persona senantiasa ada bersama yang lain. Konsep ada bersama tersebut kemudian disoroti sebagai sosialitas, yang mana dalam ada bersama tersebut manusia dipandang sebagai kawan bagi sesama (homo homini socius). Menurut Mudji Sutrisno, tesis Driyarkara mengenai “homo homini socius”, merupakan bentuk koreksi atau kritik Driyarkaya terhadap Thomas Hobbes mengenai ajarannya tentang kehidupan sosial masyarakat yang mana manusia dipandang sebagai serigala bagi sesama (homo homini lupus). Dengan memandang manusia sebagai kawan dalam hidup bersama berarti memberikan ruang gerak bagi manusia untuk berkembang dengan mengembangkan diri dan menghormati keunikan dari masing-masing pribadi. Dengan memberikan ruang gerak kepada manusia untuk mengembang diri dengan segala keunikannya maka akan lahir kebudayaan yang dapat memanusiakan manusia.

BACA JUGA :   Joana Liani : Jika Kamu Nilai Orang Lain Manusia, Kamu Sedang Menilai Diri Sendiri

Mudji Sutirisno menambahkan bahwa sosialitas juga ada karena beberapa faktor, antara lain bahwa hubungan sosialitas itu terjadi karena ada ikatan yang akrab entah karena kesamaan etnis, religi, bahasa dan sebagainya. Hubungan seperti ini lebih bersifat emosional dari dalam anggota kelompok-kelompok sosial itu. Selain itu, hubungan sosial itu terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. Hal seperti ini mau menunjukan bahwa manusia sadar akan dirinya bersama dengan yang lain.

Baca juga : Merunut Konsep Sosialitas dari Platon hingga Driyarkara

Selain Mudji Sutrisno, A. Sudiarja juga merupakan salah satu tokoh yang mencoba memberikan sedikit komentar mengenai karya-karya yang dihasilkan oleh Driyarkara. Dalam memberikan komentar terhadap pemikiran Driyarkara, Sudiarja pun sependapat dengan Mudji Sutrisno yang mengatakan bahwa konsep tentang manusia menjadi pemikiran sentral yang mendasari pemikiran Driyarkara yang lain, seperti tentang pendidikan, moral, kebudayaan dan kehidupan sosial lainnya. Menurut Sudiarja, dalam mengembangkan pemikirannya, Driyarkara terlebih dahulu memperlihatkan permasalahan inti dalam sebuah karangan, kemudian ia pun memakai banyak contoh sehingga mudah untuk dipahami. Driyarkara lebih banyak menulis karangan yang bersifat introduktif atau pengantar, sehingga tidak mendetail. Namun, bagi Sudiarja pemikiran Driyarkara merupakan sumbangan penting bagi kehidupan masyarakat dan Indonesia.

BACA JUGA :   Demokrasi Digital, Dari Gen Z To Alpha

Menurut Sudiarja, Driyarkara tampak tidak bermaksud untuk merumuskan sebuah filsafat yang utuh, menyeluruh dan sistematik. Hal ini tampak dalam beberapa ungkapan yang digunakan untuk menyatakan bahwa ia tidak bermaksud mengulas persoalan filsafat secara menyeluruh, sekalipun ia menjanjikan ulasan lebih lanjut pada kesempatan lain. Hal ini nampak dalam kata-kata yang ia gunakan, kelak masih akan kami paparkan, nanti masih akan kami terangkan dan sebagainya. Hal tersebut merupakan gaya bahasa yang dipakai Driyarkara dalam penulisannya. Sudiarja berpendapat bahwa dari sekian banyak tulisan Driyarkara, mungkin hanya karyanya tentang Pancasila dan Pendidikan yang dibahasnya secara menyeluruh dan selesai.

Relevansi Kosep Sosialitas Saat Ini
Dari uraian di atas tampak bahwa konsep sosialitas Driyarkara masih relevan dengan kehidupan saat ini, terutama dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang terdiri dari beranekaragam suku, agama, adat istiadat, ras dan sebagainya. Penulis berpendapat bahwa konsep sosialitas Driyarkara sangat membantu manusia untuk menghayati hidupnya sebagai persona yang selalu ada dan hidup bersama dengan yang lain. Pola relasi aku-engkau yang ditawarkan oleh Driyarkara sangat penting bagi kehidupan manusia, karena menyadarkan manusia akan pentingnya kehadiran sesama dalam hidup ini. Sesama adalah subjek yang harus dihormati.

Penulis berpendapat bahwa terjadinya konflik dalam kehidupan manusia disebabkan oleh cara pandang yang salah terhadap sesama. Seringkali dalam kehidupan bersama, sesama dijadikan sebagai objek. Apalagi dalam masyarakat yang serba majemuk, kaum mayoritas tidak segan-segan untuk menindas kaum minoritas. Situasi seperti ini, akhirnya menimbulkan konflik dalam masyarakat. Dalam situasi konflik, akhirnya nilai-nilai kemanusiaan diabaikan, seperti cinta kasih, keadilan dan sebagainya. Manusia hidup tidak lagi saling tolong menolong, saling menghargai satu sama lain.

BACA JUGA :   Resensi Buku Benedict Anderson : Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial

Baca juga : Driyarkara : Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

Untuk itu, prinsip-prinsip yang dapat menyatukan masyarakat perlu dihidupkan kembali. Di Indonesia, gotong royong merupakan salah satu prinsip yang dapat menyatukan kehidupan masyarakat. Dalam gotong royong terkandung nilai-nilai yang mengikat kesatuan masyarakat, seperti kerja sama, saling tolong menolong dan sebagainya, yang dapat mewujudkan atau menciptakan kesejahteraan bersama.

Konsep sosialitas Driyarkara merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia. Melalui konsep sosialitasnya, Driyarkara memberikan suatu pandangan akan pentingnya hidup bersama, sebab di dalam hidup bersama tersebut manusia bisa saling melengkapi satu dengan yang lain, saling menolong, membangun hidup bersama, demi menciptakan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, sosialitas merupakan hal penting untuk dilaksanakan dalam hidup setiap manusia.

 

* Oleh : Adrianus Aloysius Mite Lamba, Mahasiswa Fakultas filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pernah dimuat di Jurnal Wiweka 2016, atas kerjasama dengan www.idenera.com diterbitkan kembali agar bisa jadi bahan diskusi.

** Footnote dengan sengaja kami tidak cantumkan agar kita berusaha mencari dan membaca buku-buku terkait. Postingan ini sebagai pembuka diskusi.  Seri Pemikiran Tokoh : Driyarkara, akan diposting dalam 7 seri tulisan. 

Daftar bacaan :
SUDIARJA, dkk. (eds), Karya Lengkap Driyarkara
MOHAMAD INDRA, Peran Driyarkara terhadap Bangsa: Sebuah Tinjauan Umum terhadap Pemikirannya, FIB UI, Jakarta, 2009, 22.
MUDJI SUTRISNO, Driyarkara. Dialog-Dialog Panjang Bersama Penulis, Obor, Jakarta, 2000

Please share,