class="post-template-default single single-post postid-6742 single-format-standard mobile_nav_class jl-has-sidebar elementor-default elementor-kit-3894">

Suicide Note

169 0

Seseorang di balik cermin kamarku sedang menatapku. Tatapan kosong dan hanya kesunyian disana. Matanya penuh dengan rasa sepi. Bibirnya membisu terjahit oleh kehampaan. Bahkan tubuhnya kaku tidak berdaya. Dia membeku berharap seseorang mampu mencairkan. Sialnya, ini sudah bertahun-tahun lamanya.

Aku bertanya padanya, apa yang dapat membuatmu lebih baik? Seseorang di balik cermin itu tetap saja diam dan hanya menatapku. Dia memaksa dirinya agar mau bersahabat dengan kesepian. Walau kesepian itu sangat berbahaya baginya, dia mencobanya. 

Hanya suara detik jam yang terdengar di dalam sana. Ruangan yang sangat gelap dan tidak layak dihuni oleh siapapun. Bahkan dirinya tidak ingin berada disana. Adakah seseorang yang bisa mengeluarkan dirinya dari dalam sana? Miris sekali, tidak seorang pun peduli padanya.

Aku melihat kedua bola matanya, dia menangis tanpa setetes air mata keluar. Pipinya butuh sentuhan lembut. Rambutnya ingin dibelai seperti dulu kala. Seorang wanita yang dulu teramat dia cintai pergi meninggalkannya. Temannya datang dan pergi kapanpun mereka ingin. Dia berdiri disana menyambut siapapun dengan senyum ramahnya itu. Siapapun tidak mampu berada di posisinya.

Mereka melihat dirinya kuat. Aku melihat kerapuhan. Detak jantungnya masih berdetak demi orang-orang yang dicintainya. Padahal dia selalu membahas tentang kematian karena itu yang dia mau sebenarnya. Tidak seorang pun yang berhasil “menelanjangi” dirinya. Namun seseorang yang terlihat di balik cermin itu selalu dalam kondisi “telanjang” saat menatapku.

Dia berteriak saat berada di sudut ruangannya. Melempar semua kertas dan mengoyaknya. Padahal kertas itu teramat penting baginya. Penuh amarah yang tak terkontrol dia membanting barang yang berada disekitarnya. Lalu terduduk sambil menangis. Menyadari bahwa hidupnya sangat kacau. Dari dulu hingga sekarang dia menghadapi semuanya sendirian.

Beberapa kali melihat kesempatan untuk bertemu dengan kematian itu namun selalu saja gagal. Alam semesta menggagalkan semuanya. Tapi dia merasa sudah sangat kesepian. Semangat yang semakin redup. Tidak ada lagi kedamaian. Untuk apa hidup di dunia tanya seseorang yang ada di balik cermin kamarku itu. Dia menampilkan senyum palsunya itu padaku. 

Apa yang harus ku lakukan agar kau merasa lebih baik? Aku bertanya padanya. Hingga suatu hari dia pergi dan memberanikan diri untuk membuka pintu seorang dokter. Aku lelah mencari seorang teman. Aku membutuhkannya agar aku tidak kesepian. Dokter itu melemparkan senyumnya. Dia diam dan hanya mendengarkan berbagai keluh kesahku. Hingga akhirnya dia meresepkan beberapa obat untuk aku minum.

Aku tidak pernah merasa baik sebelumnya. Hingga aku merasa bergantung pada obat resepnya. Kesepian itu datang lagi menghancurkanku lebih dari kemarin. Aku ingin mati saja. Aku pikir memang begitu cerita akhirnya. Aku hanya mengganggu beberapa orang demi membasmi sepi ini. Mereka terpaksa melakukannya. Nyatanya, mereka tidak peduli. Mereka hanya penasaran saja dengan apa yang terjadi padaku.

Lalu aku kembali mendatangi dokter itu. Aku benci senyumannya. Setiap aku keluar dari ruangannya, sepi itu membunuhku lebih kejam dari kemarin. Bahkan aku butuh dosis yang lebih banyak lagi dari sebelumnya. Hingga aku mencari cara mendapatkannya demi membasmi sepi ini.

Kamu tidak memiliki keluarga bahkan teman. Kamu berpikir dua kali bagaimana caranya berteman dengan orang baru. Dia pasti menolakmu, pikiranmu menghantuimu. Siapa yang ingin berteman denganmu? Pikiran itu mulai membunuhku secara perlahan. Sialnya, aku berpikir hal yang sama. Mana mungkin ada yang mau berteman denganku. Aku sangat pemalu. Aku pernah memulainya hingga berujung penolakan. Itulah alasan kenapa sampai sekarang aku masih sendiri dan tidak memiliki seorang teman.

Dinding yang sama masih saja menertawakanku. Kenapa aku masih betah hidup di dunia walau nyatanya tidak pernah bahagia? Mau sampai kapan? Tempat tidurku jijik dengan tubuhku yang semakin hari semakin lunglai lemas terbaring di sana tanpa secerca harapan cerah.

Aku mencoba menghirup udara segar di luar sana. Aku sudah mencobanya!

Aku benci meja bodohnya. Dan kertas yang berisi resep obat yang dia tulis untuk ku tebus. Membaik itu hanya sebuah ilusi. Saat aku kembali ke rumahku, aku melihat pintu rumahku menertawakanku. Karna yang ku kejar tidak akan pernah kuraih. Layaknya dikutuk, aku tidak akan pernah mendapatkan apapun yang kuinginkan selama ini.

Aku benci mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku benci bertemu Rabu lagi. Atau bahkan aku membenci aku. Seseorang akan menghalangiku jika aku berkata jujur. Jika atap rumahku roboh dan menimpaku, aku yakin tidak seorang pun tahu bahwa aku mati dalam kesepianku. Aku hanya akan diangkat dan dipindahkan ke tempat yang seharusnya.

Kesepian! Kesepian! Kesepian! Dinding kamarku penuh coretan itu. Siapa yang melihatnya? Tidak ada! Hingga akhirnya seseorang di balik cermin kamarku itu menyerah. Dan seseorang itu adalah aku. Selamat tinggal dunia, tulisku pada cerminku dengan darah segar yang masih mengalir. Aku mengakhiri semuanya dengan caraku. Karna ku tahu orang-orang hanya penasaran, bukan peduli.

Please share,
Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Me