130 0

Nurse in Love

Kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana kita jatuh cinta. Bahkan kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan merasakan jatuh cinta itu. Layaknya sebuah misteri, kamu tidak pernah tahu. Sampai tiba waktunya kamu dan dirinya dipertemukan.

Mungkin kamu perlu membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu yang berjudul At My Worst. Seorang penulis muda yang berusia 23 tahun. Mungkin namanya masih terdengar asing di telingamu. Aku mengenalnya sebelum dia menjadi penulis sekarang ini. Saat itu usianya masih terlalu muda. Dia masih terlalu imut untuk aku pacarin. Sedangkan aku yang mulai beranjak dewasa saat itu hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan saja.

Mamanya mungkin akan marah jika mengetahui bahwa anaknya didekati seorang Tante. Jika kamu penasaran seperti apa aku, sebenarnya aku ini tidak terlalu tua. Bahkan sekarang wajahku masih imut alias baby face seperti orang-orang bilang. Dan umur bukanlah penghalang buat siapapun untuk merasakan jatuh cinta. Itu kenapa aku yakin cinta itu memang buta. 

Memang sepantasnya cinta itu harus buta. Kita tidak melihat kekurangan pada dirinya. Bahkan hal sesensitif apapun itu, kita tidak memperdebatkannya. Cinta yang tulus membuat kita tuli terhadap perkataan dan penilaian buruk tentangnya.

Kamu berada di level cinta paling tulus bukan hanya sekedar memberikan yang terbaik untuknya. Namun saat kamu berkata di dalam hatimu, aku mau memperjuangkannya. Lalu membuktikannya.

Tidak peduli apapun yang ada di depan sana. Jika harus melawan restu atau melawan dunia, tetap doa untuk kamu tidak pernah berubah. Sampai kau jadi milikku, kata Bang Judika.

Dan sekarang dia sudah beranjak dewasa sama seperti aku. Tetap saja secara umur memang lebih tua aku daripada dia. Bayangkan jika dulu dirinya masih duduk dibangku sekolah dasar sedangkan aku sudah menjadi anak sekolah menengah atas. Bisa dibayangkan seperti apa?

BACA JUGA :   Narno

Kamu akan mengetahui alasan kenapa aku tetap bertahan pada pilihan ku yang terdengar absurd ini, setelah kamu mengenal dirinya.

Kamu akan berkata, “Oh pantesan…”

Orang-orang akan merasa dia adalah pribadi cuek. Padahal aslinya dia sangat ramah ke siapa saja. Dan aku tidak pernah merasa cemburu dengan sifat baik hatinya. Biasanya seseorang akan merasa takut dengan sikap ramah pacarnya seperti ini, takut ada yang baper dan jatuh hati padanya. Lalu menjadi sainganmu. Aku belajar darinya arti istimewa. Bertahan karena memang ingin, bukan karena tidak ada pilihan lagi selain dirimu. Kamu harus melihat dirinya berada dipuncak, dikelilingi banyak wanita pilihan yang mungkin lebih baik darimu, cukup dan mungkin bergelimang harta. Kelak kamu akan paham kenapa dia tetap berdiri di sana dan menunggu untukmu seorang diri saja.

Yang membuatku lebih dari sekedar jatuh cinta padanya, aku jatuh hati dengan standar kebersihannya. Seseorang akan menganggap dirinya aneh dan mungkin gila. Dia tidak pernah mau bersentuhan atau aku peluk saat kami berdua di atas motor sehabis dirinya menjemputku dari rumah sakit. Aku berkontak dengan banyak pasien yang membuat dirinya takut tertular.

Dia mengidap gangguan obsesif kompulsif. Aku pikir itu kenapa dia selalu gagal dalam percintaannya. Wanita manapun mungkin tidak memandang itu sebagai kelebihannya. Dia sering terlihat sendiri bahkan aku pikir saat itu dia punya pacar namun tidak ingin terlalu di publish. Ternyata dia memang sengaja memilih untuk sendiri ketimbang ada gandengan. Salah satu mantannya pernah mengeluhkan soal ini padanya dan dengan kasar mengatakan, “Dasar orang aneh. Kurasa kau sudah gila. Pergi ke Psikiater sana!”

BACA JUGA :   Tak Ada Entah di Antah Berantah

Aku tidak percaya seburuk itu perlakukan orang-orang terhadap orang baik seperti dia ini. Masih sangat membekas dalam ingatan ini bagaimana dia bangkit sendiri dari keterpurukannya. Pergi ke dokter sendirian. Dan akhirnya memilih untuk hidup tenang dan damai hanya dengan dirinya sendiri. Menutup hatinya bertahun-tahun setelah kejadian pahit itu. Hingga aku hadir di dalam hidupnya, dia berhasil membuka semua topengnya itu. 

Aku merasa seperti menemukan separuh nyawaku hidup di dalamnya. Aku selalu gagal mencari dan tidak pernah berhasil menemukan alasan untuk pergi meninggalkannya, selain inginku yang begitu keras untuk selalu menemaninya.

Selain dia mengidap gangguan obsesif kompulsif, dia juga sering bergelut dengan gangguan pencernaannya. Aku yang merawatnya setiap kali asam lambungnya kambuh. Dia bilang euphoria itu adalah disaat dia berhasil memasukan semua jenis makanan dan minuman enak ke dalam mulutnya dan merasa bahagia tanpa memikirkan resikonya. Aku sering tertawa dengan semua filosofi yang dia punya. Cara berpikirnya juga membuatku setiap hari jatuh hati padanya.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dia datang menemui kedua orang tuaku setelah bertahun-tahun kami menjalin hubungan. Aku merasa ini mimpi. Cincin yang kami berdua beli di toko emas waktu itu sekarang sudah melingkar di jari manis kiriku. Rasanya seperti tuan putri, dia yang menyuruhku memilih cincin terbaik yang paling aku suka. Aku melihat jariku begitu manis semenjak kehadiran cincin ini.

Jadilah versi terbaik dengan segala kekuranganmu itu. Pilihanmu sangat mempengaruhi kebahagiaanmu. Cintanya tak akan lekang oleh waktu bila inginnya begitu keras untuk terus mencintaimu.

Foto : https://www.piqsels.com

Please share,
Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow Me