Narno

0 share

Narno bukan orang sembarangan. Dia legenda desa ini. Itu kudengar dari Kang Aris, pemilik warung teh dan gorengan di sini, tempat orang-orang desa bertukar cerita. Aku memutuskan mencari Narno di sana, dua malam lalu.

“Kalau kau beruntung, Kang,” katanya, “Narno yang akan mendatangimu.”

“Ini bukan tentang keberuntungan,” kataku. “Aku yang akan mencarinya, Kang.”

Sebelumnya tak aku ambil pusing cerita-cerita tentang Narno itu. Aku hidup tenang di desa ini. Membeli tanah-tanah di pesisir, membabat tinjang dan api-api, kemudian mengeruk tanah dan mendirikan tanggul-tanggul. Itu sudah berjalan bertahun-tahun. Kupikir dia tidak tahu. Dan dia harus diberi tahu, cerita-ceritanya telah mengusik ketenanganku.

Aku butuh uang. Untuk pupuk, benur, pakan, juga back-hoe yang angkat kerak kotoran di lantai tambak. Dulu, kubangkitkan tambak-tambak mati hingga yang empunya uang ramah padaku. Berani sodorkan pinjaman untuk usahaku. Kini, puluhan hektar tambakku tak bisa dibiarkan kembali menganggur. Semua naik, muka air laut naik. Hanya hasil tambakku memang menyusut, tapi tidak merugi. Labanya yang turun. Dan aku tak ingin cerita dari mulut Narno itu tenggelamkan semua usahaku. Apakah Narno tidak tahu? Kupikir dia tidak tahu. Dan dia harus diberi tahu, cerita-ceritanya telah mengusik ketenanganku.

Desa ini desa nelayan. Sebagian besar mereka mengarung lautan. Tapi perahu-perahu mereka tak lebih besar dari empat batang pohon kelapa yang dijajarkan, apa hendak diharapkan? Aku pun tahu banjang-banjang mereka telah tersebar menancap di dekat pesisir, jauh dari laut dalam, dan hasilnya hanya cukup untuk beberapa malam. Tambak-tambaklah yang menyambung hidup saat bulan berpendar terang dan banjang-banjang hanya terisi kotoran bersama plastik berbagai ukuran. Apakah Narno tidak tahu? Kupikir dia tidak tahu. Dan dia harus diberi tahu, cerita-ceritanya telah mengusik ketenanganku.

BACA JUGA :   Kopi (di) Larang

Ketika tiang-tiang listrik enggan menancap di tanah desa, tarian udang telah menjadikan generator bergemuruh, aerator berputar kencang, dan pesisir menjadi benderang. Tambak-tambak udang telah memberi makan mulut-mulut di banyak wilayah di berbagai benua.

Dan kemarin, keberuntungan itu datang padaku. Keberuntungan yang sementara waktu membuat mataku sukar terpejam: Narno. Dia duduk di hadapanku, tampak seperti seorang nelayan, tetapi juga petani. Bercerita tentang desa-desa yang digulung laut di pesisir utara.  Sawah-sawah mereka diterjang gelombang, dan padi-padi mereka telah diasinkan. Itu adalah masa depan desa ini, katanya.

“Kau mengutuk!” seruku

“Aku tidak mengutuk, Kang,” katanya. “Itu yang kusaksikan di beberapa desa.”

“Apa benar yang telah kau saksikan?” tanyaku memastikan. “Desa mereka tenggelam?”

“Benar, Kang,” jawabnya.

“Dan menurutmu karena tambak-tambak mereka?”

“Aku tidak berani mengatakan demikian, Kang,” jawabnya.

“Jika kau tidak berani pastikan itu,” kataku, “kenapa kau buat tambak-tambakku berhenti beroperasi?”

“Itu yang kuamati, Kang,” jawabnya, “tidak berani memastikan.” Suaranya terdengar tenang. “Aku juga tidak memaksa tambak-tambakmu berhenti,” tambahnya.

“Tapi kau menceritakan yang telah kau amati itu pada orang-orang desa?” tanyaku.

“Betul, Kang,” jawabnya datar. Kesabaranku mulai terkikis. Meja di antara kami tiba-tiba memekik.

“Itu tak beda kau keringkan tambak-tambakku,” kataku lantang. “Ceritamu telah membuat warga desa berhenti bekerja di tambak-tambak. Mereka takut desa mereka tenggelam. Takut kuburan leluhur mereka lenyap disapu gelombang.”

BACA JUGA :   Pentingnya pergi dari tempat kita saat ini dan Matilah di tempat yang jauh...jauh sekali..

“Itu juga kusaksikan di desa sana, Kang,” katanya datar.

“Apa lagi yang kau saksikan?” tanyaku.

“Sepuluh tahun yang lalu tak dapat kulihat tambak-tambak di desa mereka. Hanya hamparan hijau batas laut dan daratan ketika perahumu mencapai laut. Untuk sampai ke desa mereka, harus menembus hutan batas air asin dan tawar itu. Mungkin, sejauh tiga kilometer dari batas air asin, perahu dapat masuk ke kanal-kanal saluran air yang mengaliri tambak-tambak mereka. Aku punya seorang kawan yang tinggal di desa itu. Kami sering berbagi cerita tentang tempat-tempat ikan berkumpul.” Pandangannya dilempar ke hamparan tambak. Aku menyalakan rokok. Kami terdiam.

“Kemudian,” Narno melanjutkan ceritanya, “banyak teman-teman dari kawanku itu mencoba menambak. Dia tidak menyalahkan mereka. Hasil tambak memang sangat menggiurkan. Mereka mulai membabat hutan-hutan di tanah-tanah yang masih tersisa, di ujung daratan dekat tepian laut. Tetapi mereka lupa, kata temanku itu, tambak membutuhkan keberuntungan yang sama besarnya dengan ketepatan perhitungan. Dan teman-teman dari kawanku tidak memiliki keduanya. Pada awalnya, tanah yang mereka gunakan untuk tambak memberi hasil memuaskan. Mereka membeli kincir aerator, generator pembangkit listrik, pompa air untuk menaikkan air tanah ke dalam tambak-tambak mereka, pupuk, pakan berkualitas, hingga obat-obatan yang aku tidak tahu apa jenisnya itu untuk tanah mereka. Berharap hasil yang lebih besar keluar dari tambak-tambak mereka.” Narno berhenti sejenak. Mengambil rokok, menyalakannya, menghisapnya dalam kemudian menghembuskannya. Aku masih menunggu sambungan ceritanya.

“Itu hanya berlangsung dua tiga tahun saja,” tambahnya. “Setelah itu, hasil dari tambak tidak lagi tinggi, biaya produksinya lebih besar dari hasilnya. Udang-udang mereka tidak tumbuh maksimal, sebagian sudah terserang penyakit, dan terpaksa harus dipanen lebih awal dengan usia dan ukuran yang kecil. Mereka tidak menghitung itu. Hutan-hutan batas daratan dan lautan itu telah menipis, disusul air laut yang menusuk semakin cepat dan merangsek semakin dalam di kanal-kanal saluran air hingga sawah mereka ketika pasang tinggi, dan gelombangnya tak kenal menyerah mendobrak tanggul-tanggul tambak mereka. Nasib mereka terbengkalai, sama seperti tambak-tambak mereka.”

BACA JUGA :   Mencuci Piring di Hari yang Panjang

“Lagi-lagi kau mengutuk,” kataku menyela.

“Aku tidak mengutuk, Kang,” elaknya. “Itu yang kudengar dari temanku. Dari yang kami alami, bersamaan dengan itu, hasil ikan di banjang-banjang dan jala-jala kami pun menyusut. Mungkin ini dapat kau anggap kebetulan, Kang. Tetapi itu yang kami alami. Dulu kami biasa memasang perangkap kepiting di akar-akar tinjang atau api-api itu, lumayan sebagai tambahan hasil tangkapan kami. Kini kepiting itu sukar kami dapat, tak ada rumah untuk mereka begitupun dengan kawanku itu. Rumahnya juga sawahnya telah kandas terendam.”

“Dan kau menuduh aku dan tambak-tambakku menyebabkan itu?”

“Sama sekali tidak,” tegasnya. “Lanjutkan usahamu itu, Kang.”

“Apakah aku memohon izinmu?” tanyaku menantang.

“Tidak,” jawabnya datar. “Tapi harus kau kubur aku lebih dulu.”

Mendengar itu, amarah tak kubendung lagi. Dalam dua kedipan dia terhuyung dan tersungkur. Aku berjalan mendekat. Kutatap tajam dua matanya.

“Siapa kau?” tanyaku. Dia berdiri. Memandangku. Kedua matanya berubah menghijau. Dan semakin hijau.

“Kalpataru,” jawabnya.

***

“Kang, Kang Aris,” sapaku memecah lamunannya. Dia terlihat mengerjap. “Maaf, agak lama. Pas ramai warungnya, Kang.”

“Tak apa, Kang Narno,” katanya.

“Benar ini ya, Kang?” tanyaku. Kuserahkan secarik nota padanya dan meletakkan di atas mejanya kantung plastik berisi makanan pesanannya.

“Gurame satu setengah kilo, digoreng,… Kakap merah tujuh setengah ons, dibakar,… dan,” Kang Aris memeriksa daftar pesanannya, “udang setengah kilo, masak asam manis.”

“Yak!” serunya. Dia menyerahkan lima lembar uang padaku. “Ambil kembaliannya, Kang. Salam buat Yu Darmi.”

“Terima kasih, Kang. Nanti saya sampaikan,” kataku.

070520

Sudah dibaca 10 , Hari ini 1 

Please share,