Pemilik Sepeda Tua

0 274 views share

Siang ini terik matahari di langit Desa Mrandu kian membuat angin menderu dengan sengit. Batang-batang padi yang mengepung desa terus dipaksa merunduk dan tertunduk oleh sapuannya, walau tanpa bulir di ujung tangkainya.

Debu-debu desa yang terbang terpilin tampak mengekor roda-belakang sepeda tua yang bersandar di salah satu tiang gapura. Dari dalam sepetak rumah, sepasang mata hanya dapat menatap penuh perhatian pemilik sepeda tua itu berkunjung datang. Sekali dalam seminggu. Dan seperti yang sudah-sudah, Wanto tahu kehadirannya akan selalu diabaikan. Begitupun kali ini. Pemilik sepeda tua itu langsung menuju ke rumah Rusman, suaminya. Tepat di depan rumah Rusman dia membungkuk, memulung daun, plastik, dan beberapa botol yang terserak di depan rumah suaminya itu untuk diletakkan di sudut pelataran. Tangannya digerakkan perlahan, menyapu, sesekali mencabut rumput yang tumbuh liar di sana.

“Semalam ada pesta,” kata Wanto. “Telah dua-tiga hari kami tak dibiarkan lelap. Tak hanya oleh riuh rendah warga yang gemar rerasan, tetapi juga deram mesin kendaraan ber-roda tebal yang berlalu lalang. Mereka menggetarkan tanah dan kerikil di jalan-jalan desa, tak rela malamnya kalah berisik dengan air di sawah yang gemericik.”

Perempuan itu tak peduli. Dia bersimpuh di depan rumah Rusman. Berbisik kepada daun pintunya seolah itu telinga suaminya sendiri.

“Kau tahu aku mencintaimu, Man,” bisiknya. Wanto mendekat. Berdiri tepat di samping perempuan itu.

“Dia tahu,” jawab Wanto.

“Kemarin,” katanya, “orang-orang suruhan Karjo kembali datang.”

***

Hujan kerikil di genting rumahnya beberapa hari yang lalu bukan lagi sesuatu yang ajaib bagi Limah, istri Rusman. Puluhan batang bambu pernah menghujam lebih hebat, melesat ke rumahnya seperti peluru menyerbu binatang yang sedang diburu. Dan Limah sudah terbiasa dengan itu sejak tahun pertama pernikahannya dengan Rusman.  Untuk hal yang demikian, mereka selalu bersepakat.

BACA JUGA :   Lena & Putih

“Mereka ingin bertarung,” kata Limah. “Tidak hendak berbicara. Teriakan-teriakan mereka mengabarkan tumbangnya gedebok-gedebok pisang di desa-desa.”

Rusman dan Limah memang dielukkan sebagai penjaga Desa Mrandu. Namun, tak hanya mereka yang berjaga, semua warga desa menyimpan juga naluri yang sama: desa, terbuka untuk yang baik kehendaknya, dan tertutup rapat untuk yang tak mengenal batas hasrat. Keberanian Rusman dan Limah adalah wujud dari naluri itu sendiri. Dengan naluri itu, Rusman dan Limah mengusir raksasa-raksasa yang terus mengintai untuk memangsa desa mereka. Dalam pertarungan terakhirnya lima belas tahun lalu, raga Rusman tak cukup kuat bertahan. Rusman meninggal. Warga desa menguburkannya dengan hormat, sebagai penjaga desa, menempatkan raganya yang penuh luka di samping makam pendiri desa, ibu dan ayahnya, Wanto Mrandu Alas. Setelahnya, tak ada lagi hujan kerikil dan lesatan batang-batang bambu di rumah Limah. Raksasa-raksasa itu telah terluka parah, setengah mati. Tetapi mereka tidak pergi, hanya tidur mendengkur kemudian mengukur tipis tebalnya naluri purba warga Desa Mrandu. Selama itu pula, Desa Mrandu bersuka atas segala usaha yang berbuah dari tanah-tanah yang telah diusahakan tangan-tangan mereka. Namun beberapa hari lalu auman raksasa terdengar kembali di desa. Menjadi rerasan warga yang digemparkan segala tata kehidupannya. Raksasa itu menjelma di dalam tubuh manusia, bernama Karjo, anak Rusman dan Limah.

***

“Sudahlah, Mak,” bentak Karjo. Suaranya terdengar hingga luar rumahnya. Dia berdiri memunggungi Limah, emaknya. “Desa ini tak akan pernah maju kalau hanya berharap pada tumbuhnya bulir padi atau butiran jagung di tanah-tanah itu, Mak. Dunia tidak dibangun di atas lembaran-lembaran daun pisang, tetapi keping-keping logam yang sanggup meratakan gunung dan mengeringkan lautan.”   

BACA JUGA :   Gara-Gara Nico (1)

Limah terkesiap mendengar kata-kata anaknya itu. Kulit wajahnya terasa terbakar dan dadanya bergetar menggemuruh meredam amarah yang mendesak dirinya. Butuh beberapa saat untuk Limah mendapatkan kesadarannya kembali.

“Apakah ini kudengar dari mulut anakku sendiri?” suaranya bergetar. “Kedatanganmu kuanggap sebagai niat baik, tetapi pendirianku tetap: tak ada sebulir padi atau sebutir jagung dapat tumbuh di atas keping-keping logam itu.”

“Dari dulu orang desa tak pernah mau berubah,” sergah Karjo. “Mereka selalu berpikir rumit untuk orang lain, tapi tidak untuk dirinya sendiri. Pengorbanan, pengabdian, kata mereka, kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah mereka kenal.”

Limah memandang kembali orang yang memunggunginya itu seksama. Tak ditemukannya lagi anak yang dibesarkannya. Dia menunduk. Orang di hadapannya telah mewujud raksasa.

“Mereka tinggal terima saja uang ganti sawah dan rumah mereka. Itu mudah, cepat dan aku tak keberatan mempekerjakan mereka di proyek-proyekku yang akan datang,” kata Karjo.   

Limah memakukan pandangnya pada punggung raksasa itu. Kemudian menggeleng pelan.

“Desa,” katanya lirih, “dibangun oleh orang-orang yang mau hidup bersama.”

Raksasa itu berbalik menghadap Limah.

“Kau boleh terus bermimpi,” kata Raksasa itu. Suaranya terdengar makin berat dan parau. “Besok, kalian boleh terus menunggu sawah-sawah kalian mengering. Tak ada air yang akan berani mengalir dan tak ada benih yang akan kalian tanam di bawah pematang sawah-sawah kalian.”

“Biadab!” seru Limah. Raksasa itu berjalan melenggang keluar. Memungut telepon genggam dari saku kemejanya. Menatapnya, kemudian menempelkan pada daun telinganya.

BACA JUGA :   Kegilaan Hidup dalam Veronika Decide to Die

“Kalian masih berpesta di sana?” Raksasa itu bertanya. “Segera selesaikan!” perintahnya. “Malam ini, warga Desa Mrandu tak boleh tidur tenang.”

***

Petang itu, beberapa bulldozer, excavator, dan dump-truck telah terparkir rapi di seberang makam Desa Mrandu. Lempung-lempung setengah kering masih terlihat menempel di permukaan rodanya. Beberapa orang ber-helm putih tampak duduk melingkar di depan bulldozer. Beberapa tampak berdiri berkerumun di depan pintu masuk makam. Beberapa orang yang lain berdiri di samping dump-truck, yang berbadan tegap berdiri bersandar di bak dump-truck. Salah satu dari mereka menyerahkan dua lembar kertas berwarna putih yang terlipat tidak rapi kepada Raksasa Desa Mrandu. Di samping Raksasa itu berdiri pula seorang yang tinggi badannya. Matanya tak kalah ganas dengan Raksasa.

“Sudah hampir semua nama di daftar bubuhkan ibu jarinya,” kata seorang berbadan tegap.

“Sisanya?” tanya Raksasa.

“Mereka menolak,” jawab orang berbadan tegap yang lain.

“Apa kata mereka?” tanya Raksasa.

“Ancaman yang telah kita lakukan jauh lebih mahal dari harga tanah yang kita tawarkan, katanya,” terang yang berbadan kurus. Raksasa tertawa.

“Sepertinya, bambu dan batuku mengenai  beberapa orang dari mereka,” kata seorang yang berbadan tegap.

“Berikan ancaman yang lebih ganas,” perintah Raksasa.

“Apa yang lebih ganas dari lemparan-lemparan batu dan lesatan-lesatan bambu ke rumah-rumah mereka?” tanya orang yang berbadan kurus. Raksasa tertawa.

“Kita mulai dari sana,” tunjuk Raksasa. Mata dan jarinya mengarah ke makam.

“Telah beberapa hari kami berpesta di sana,” sesumbar orang berbadan tegap. Raksasa tertawa.

“Pastikan esok hari makam-makam itu kembali tergali!” perintah Raksasa.

Mereka menoleh ke arah makam. Seseorang berteriak memberitahukan ada sesosok tubuh penuh darah di dalam makam. Raksasa bergegas menuju ke sana. Di gerbang masuk dilihatnya sepeda tua bersandar di salah satu tiang. Wajah Raksasa itu tertunduk. Tubuhnya kian berat. Kedua lututnya tak lagi dipaksa bertahan. Dia bersimpuh, dan ambruk. Menangis di hadapan sesosok tubuh perempuan yang memeluk makam. Makam seorang yang juga dikenalnya. Penjaga Desa Mrandu, Rusman Mrandu Alas, ayahnya. Air mata mengembalikan wajah manusianya, dan Limah berdiri di samping anaknya, bersama Rusman dan Wanto.

210520

Gambar : https://www.freepik.com

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *