HomeNARASIFILSAFATTik Tok, Pandemi Tanpa Virus?

Tik Tok, Pandemi Tanpa Virus?

0 327 views share

Bukan kebetulan bahwa dalam rentang tiga bulan selama masa pandemi Covid-19 tercatat aplikasi Tik Tok telah diunduh sebanyak 315 juta kali di seluruh dunia. Hal itu melampaui unduhan di Whatsshap yang terkonfirmasi hanya sebanyak 250 juta kali (katadata.co.id, 6/5/2020).

Data itu memperlihatkan betapa masifnya hasrat sebagian warga dunia terhadap media yang mampu memfasilitasi suatu “pertunjukan”, khususnya dalam gerak dan lagu. Pertunjukan yang dalam kajian budaya populer diibaratkan sebagai “sirkus” atau hiburan itu punya relasi yang sedemikian erat dengan “roti” atau komoditi. Artinya, keduanya setali tiga uang dan cenderung bermuara pada kepentingan bisnis/ekonomi. Maka tak heran jika “roti dan sirkus” dijadikan senjata yang ampuh oleh siapa pun yang berhasrat untuk berkuasa secara turun temurun.

Namun, penting untuk dicatat bahwa pandemi berlatar teknologi Tik Tok lambat laun hanya akan menghasilkan masyarakat yang busuk secara sosial. Hal itu telah dikaji oleh Patrick Brantlinger dalam bukunya yang berjudul Bread and Circuses: Theories of Mass Culture as Social Decay (2016). Di situ Brantlinger menunjukkan bahwa kebusukan sosial yang diakibatkan oleh budaya massa tak lepas dari strategi penguasa untuk mengendalikan rakyatnya. Di sini penguasa bisa berarti pemerintah ataupun pemilik media yang bernegosiasi demi mendapatkan keuntungan. Sementara, pengendalian itu berpretensi menempatkan rakyat hanya sebagai konsumen yang siap untuk melahap dan menikmati apa yang disajikan sebagai “roti dan sirkus” tersebut. Jadi, rakyat memang hanya sekadar dibuat terhibur agar tidak mudah menjadi gelisah, apalagi berontak.

BACA JUGA :   AJI Surabaya dan LBH Lentera Buka Posko Aduan Pekerja Media Terdampak Covid-19

Terbukti, selama pandemi Covid-19 yang tampak menakutkan ini berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, begitu terhibur dengan permainan Tik Tok ini. Bahkan para pahlawan Covid19 pun dengan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap rela untuk berbaris dan bergoyang dengan iringan lagu “Suling Sakti Spongebob”. Segalanya dapat terekam dalam video pendek dan dipertunjukkan secara audio-visual di mana pun dan kapan pun. Sebuah pertunjukan yang sepuluh tahun lalu boleh jadi masih sulit untuk dibayangkan, apalagi ditampilkan.

Tapi inilah sesungguhnya jenis pandemi yang tanpa virus. Dengan kata lain, pandemi jenis ini sama sekali tidak menakutkan, melainkan justru menyenangkan. Padahal di situ ada ironi dan kontradiksi yang menghasilkan masyarakat tanpa kejelasan. Hal itu digambarkan dengan baik oleh salah seorang perupa dari Yogyakarta yang pada akhir April lalu memamerkan sebuah lukisan berjudul “Dancing in the Dark” (TribunJogja.com, 24/4/2020). Lukisan yang menggambarkan jati diri pelukisnya saat dituntut untuk menari ketika melepas jenazah ayahnya menghadirkan ironi yang mirip dengan beragam tarian dengan aplikasi “tik tok” di medsos, khususnya di sepanjang pandemi Covid-19 ini. Ironinya, kedua jenis tarian itu sama-sama adalah bahasa penghiburan yang dihadirkan untuk menunda persoalan. Tarian di depan jenazah adalah bentuk penundaan atas kedukaan. Sedangkan tarian melalui aplikasi Tik Tok merupakan wujud penundaan dari kegelisahan. Jadi, keduanya memiliki kemiripan sebagai penghiburan di atas penderitaan.

BACA JUGA :   Persepsi Dan Aspirasi Politik Generasi Milenial :  Dari Politik Santri, Media Sosial Hingga Politik Uang

Begitu pula halnya dengan lagu berjudul  “Corona” atau “Comunitas Rondo Merana” yang didendangkan oleh biduan muda Alvi Ananta asal Banyuwangi pada awal Maret silam. Lagu yang sempat viral namun diprotes, di-bully, dan disomasi oleh para “netizen +62” itu sesungguhnya hanyalah penampakan dari apa yang telah dipopulerkan oleh Lord Didi Kempot dengan istilah “ambyar”. Penampakan yang justru digemari oleh kalangan milenial masa kini itu memberikan tanda bahwa hiburan  yang mampu membuat rakyat tetap tenang meski sedang dilanda kegelisahan adalah “roti dan sirkus” yang paling tepat untuk dijadikan pandemi. Sebab di sana penularannya bukan dengan sesuatu yang “bikin stres”, melainkan melalui dendang dan goyang lagu yang teramat menikmatkan. Itulah mengapa terlepas dari kekacauan yang sedang terjadi, segala carut-marut akibat pandemi Covid-19 seolah-olah dapat dilalui meski tetap menanggung derita dan menjadi kaum marginal tanpa daya.

BACA JUGA :   Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Pertanyaannya, sesudah pandemi  Covid-19 berlalu, akan takutkah kita pada pandemi yang bukan hanya dapat menularkan virus belaka, tetapi juga jasa informasi dan hiburan yang berkepentingan menaklukan/menundukkan kehidupan bersama? Dalam konteks ini, para pemasok aplikasi yang selalu mampu meraup keuntungan dari penjualan produksi kontennya yang digilai dan dielu-elukan sebenarnya telah mendapatkan pendapatan yang berlipat ganda dari porsi kue iklannya. Bukankah itu berarti bahwa pandemi tanpa virus itu tidak hanya membuat warga dunia akan terpapar, tapi sekaligus terkapar meski donasinya untuk penanganan Covid-19 di Indonesia  mencapai 100 milyar (Selular.id, April 2020)? Karena nyatanya dengan/tanpa virus pun, rakyat kecil sudah ambyar dalam gelisah yang serba-serbi rasanya, yaitu: “anxious (cemas), trembling (gemetar), unmoored (tanpa pegangan), expectant (menanti-nanti)” (Anderson, 2015).

Penulis : A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta.

Please share,