HomeNARASIKEBUDAYAANSasaran Debatnya Milenial, Tapinya Caranya Kolonial

Sasaran Debatnya Milenial, Tapinya Caranya Kolonial

KEBUDAYAAN NARASI TEKNOLOGI 0 2 likes 268 views

Saya Alfredo Vicrorio dos Santos, 25th. Saya generasi milenial yang ikut menyaksikan Debat Pilpres 2019 pada 17 Januari 2019 lalu.

Malam lalu, saya menonton reportase  Kompas TV  yang dibawakan Aiman Witjaksono yang bertajuk “Pindah Suara Pasca Debat”. Data dari Litbang Kompas  menunjukkan ada sekitar 44% pemilih yang masih bingung menentukan pilihan. Lebih menarik lagi saat sesi wawancara dengan Agus Sudibyo dari New Media Watch; yang juga menyatakan bahwa ” sasaran debat adalah milenial tapi menggunakan cara kolonial ” dan pendapat itu yang menyentil saya untuk menulis opini ini.

Saya sudah menentukan pilihan sejak 2014 dan tidak akan berubah. Saya mengapresiasi  penyelenggara debat karena mau membuka wawasan baru tentang capres dan dihadapkan dengan masalah2 pelik di negeri ini seputar ideologi, politik, budaya dan keamanan seperti pelanggaran HAM berat, korupsi, terorisme, dll.

BACA JUGA :   Histeria dan Neurosis Obsesional Dalam Diskursus Politik Kontemporer Indonesia

Saya sependapat dengan Agus Sudibyo karena masih menggunakan cara kolonial. Bagi saya debat tersebut bukan panggung pertunjukan demokrasi, tapi mirip kuis cerdas cermat atau pilih-pilih undian berhadiah. Pihak penyelenggara kurang tegas dan berimbang dalam debat.

Kurang tegas mengenai boleh tidaknya paslon melihat contekan sehingga menjadi bahan olokan dari kubu lain. Walaupun kubu lain juga melihat contekan tapi narasi yang ditampilkan pendukungnya seakan-akan tidak mencontek. Bagi saya, melihat contekan dalam debat itu sangat baik agar alur terarah dan memang punya kesan paslon tidak sendirian, karena paslon adalah calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin negeri ini dengan mekanisme trias politica yang sudah diatur dalam Undang-undang. Jadi dalam melihat contekan bagi saya adalah latihan untuk menjalankan trias politica tersebut. Presiden sebagai eksekutif tidak sendirian, melainkan ada legislatif dan yudikatif yang membantunya menjalankan roda pemerintahan. Sementara kubu yang tidak menggunakan contekan terkesan otoriter. Gagasan dan retorika yang diungkapkan tidak matang dan tanpa data yang valid.

BACA JUGA :   Kornelius : Kemerdekaan katanya bawa keadilan sosial

Saran saya sebagai generasi milenial, hendaknya semua paslon mempersiapkan data yang akurat dan valid. Dan saat debat bisa dipresentasikan dengan baik, misalnya menggunakan teknologi 3D seperti augmented reality  untuk menarik generasi milenial yang lebih tertarik pada data berbasis visual.

Jadi tiap paslon diberikan waktu pemaparan visi misi  atau bahkan menyanggah dan menjawab pertanyaan dengan model presentasi berbasiskan data  yang akurat menggunakan augmented reality.

Reportase KOMPAS TV “Pindah Suara Paska Debat”.

Pihak penyelenggara kurang berimbang karena Pasangan Calon (Paslon) 01 sudah menjadi Presiden sedangkan Paslon 02 belum pernah, walupun sudah bertarung dua kali. Rasanya starting pointnya tidak sama-sama dari titik nol. Paslon 01 sudah unggul dalam segala hal karena pengalaman, paslon 02 hanya unggul soal pembelokan fakta.

BACA JUGA :   Masyarakat yang bersedia radikal setara jumlah pemilih DKI Jakarta

Ada baiknya jika debat dilakukan secara berimbang dengan cara Paslon 01 dengan rendah hati tidak membawa semua karya yang sudah dibuat selama menjadi presiden, anggap saja mulai dari 0. Sedangkan paslon 02 memaparkan visi misi yang lebih kongkrit, berbasis data valid, dan mudah diaplikasikan ketika menjadi presiden nanti.

Oleh : Alfredo Dos Santos.

Please share,