121 0

Sebentar Lagi Kau Menuai

Di bawa bercanda. Di bawa santai. Mau sampai kapan?

Candamu sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan. Bagaimana kalau latarmu kujadikan bahan lelucon? Aku tahu semua latarmu. Apapun yang kau ceritakan, kau merasa nyaman.

Ucapnya dengan mudah, jangan baper. Itu saja sudah baper.

Mungkin aku lagi laper, candaku. Hati sudah tergores, hanya diam saja. Menghitung pasir yang ada di pantai itu mustahil. Begitu pula dengan maafmu mudah menyembuhkan luka. Mustahil!

Seseorang pantas mendapatkan kesempatan kedua, katanya. Jika dia dengan secara sengaja menyia-nyiakannya, apa itu namanya khilaf?

Semua orang pernah melakukan kesalahan, katanya. Lantas apa dibenarkan jika kesalahan yang sama di ulang kembali lalu mendapat maaf yang sama?

Andai saja lidah bertulang…

Kehidupan bukan hanya tentang tawamu saja. Candamu mungkin hari ini merajai obrolan di tongkrongan. Gelak tawamu diatas kesedihan orang lain. Kau lukis senyum palsunya sambil menepuk bahunya dengan santai berkata hanya bercanda saja.

Rodamu terus berputar bahkan semakin cepat tanpa kau sadari karena leluconmu tentang kelemahan orang lain. Seperti cerita balok dan selumbar. Keluarkan dulu balok di mata kita sendiri. Kau akan sadar kalau ternyata kau pun tidak sempurna.

BACA JUGA :   Pentingnya pergi dari tempat kita saat ini dan Matilah di tempat yang jauh...jauh sekali..

Hidup itu kejam, katanya. Mungkin karna orang-orang di sekitar yang kejam sampai kita tidak menikmati indahnya hidup itu.

Candamu kusambut dengan canda. Sedangkan candaku, ku simpan karna ku tahu canda tidak sebercanda itu. Canda juga ada aturannya. Jika kau tidak mengetahui aturannya, berhentilah bercanda.

Guraumu bukan gurauku. Guraumu kelewat batas, sedangkan gurauku memikirkan batasnya. Kau akan terlihat apakah kau teman yang baik atau bukan, dari caramu bergurau. Ini bukan soal kondisi hati lawan bicaramu, ini soal akal dan hatimu.

Tidak masalah, canda memanglah sebuah canda. Seseorang menerima meski hatinya terluka. Namun seseorang yang lainnya dengan berani menghentikan itu. Mungkin dia sudah memaafkanmu berulang kali. Tapi tanah dan langit mungkin tidak melupakannya. 

Kelak tawamu yang paling keras saat itu berubah menjadi tangis yang paling dahsyat saat dibalas oleh realita yang ada. Bibirmu bergetar sambil berteriak dan bertanya kenapa dunia tidak adil? Tiba-tiba kau amnesia dengan semua perbuatanmu selama ini. Kau lupa hukum tabur tuai. Kau pikir hidupmu selalu penuh canda. Kau lupa ada banyak elemen dari hidup ini. Kau pikir kehidupan selalu berpihak denganmu. Kau hampir tidak pernah mengambil waktu untuk dirimu sendiri. Menepilah sebentar. Setiap perjalanan panjang butuh istirahat yang cukup. Kelak kau akan mengerti jika kau sudah paham aturan bercanda. Jika hatimu keras setelah membaca peringatan ini, selamat untukmu. Kau mulai menyadari ada yang salah dengan dirimu.

BACA JUGA :   Marsuki Melawan Sultan

Tulisan ini untukmu, dariku yang sering kau ajak bercanda. Aku berhenti menjadi humoris. Meski menjadi kaku terasa membosankan bagi orang lain, aku sadar aku hidup bukan untuk menyenangkan orang lain. Kesehatan mental diri sendiri lebih utama, begitu katanya.

Foto : Berbunga Tiga by Andre Yuris

Please share,
Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow Me