HomeNARASIKEBUDAYAANSupersemar di Mata Sastrawan

Supersemar di Mata Sastrawan

0 58 views share

Menarik bahwa dalam novelnya berjudul “Maya” (KPG, 2013), Ayu Utami membahas tentang Supersemar yang sampai kini masih menjadi misteri dalam dunia perpolitikan di Indonesia.

Misterinya bukan hanya karena belum ditemukannya bukti otentik dari surat bersejarah itu. Tetapi, juga lantaran adanya kepercayaan yang mengisahkan bahwa surat yang asli telah hilang dan digantikan dengan batu mustika yang muncul begitu saja.

Batu yang bergambar tokoh pewayangan ternama Semar dengan dua garis seperti angka 11 di dalamnya menjadi penanda utama dari restu roh nusantara terhadap pemerintahan Orde Baru. Berkat batu yang dihadirkan secara gaib itulah, roda kekuasaan yang dijalankan secara militeristik dapat bertahan selama satu dasawarsa. Maka, setiap 10 tahun batu tersebut selalu dicari oleh setiap orang yang percaya bahwa melalui batu itu restu kekuasaan dapat diperoleh.

Narasi sejarah yang dituturkan lewat karya sastra seperti novel di atas merupakan bentuk penulisan yang “harus dicatat, dapat tempat dan harus dibaca”. Sebab keduanya tidak dapat lagi dipisahkan secara positivistik mengingat baik novel maupun sejarah adalah “rekaman sejarah intelektual.” Dengan demikian, sejarah Supersemar yang diceritakan dalam novel dapat menjadi dokumen yang membangun semacam monumen untuk mengingat-ingat dan belajar dari peristiwa d(ar)i masa lalu. Itulah mengapa Supersemar yang selalu dicurigai hanya sebagai “fiksi” justru dapat dimaknai sebagai “fakta” yang bernilai sastrawi.

Di sinilah saatnya sejarah yang selama ini disterilkan dari cara pandang sastrawi mendesak untuk dikaji ulang. Itu artinya, surat perintah yang tinggal salinannya belaka itu dapat pula dipertanyakan dengan pendekatan yang tidak melulu kronologis dan bahkan faktual. Tetapi justru secara tersamar melalui kisah yang kebetulan tersusun dalam imajinasi naratif seperti cerita tentang batu Supersemar. Maka, batu akik yang dipandang mampu memberi legitimasi kekuasaan secara gaib itu dapat pula menjadi “(nara)sumber sejarah” yang adil dan manusiawi.

BACA JUGA :   “Kenapa Filsafat?” (Merenungkan Filsafat sebagai Vokasi)

Sejarawan Bambang Purwanto (2005) pernah menawarkan penulisan ulang historiografi Indonesia yang tidak semata-mata terkurung dalam mitos objektivitas sejarah. Melainkan memberi tempat pada realitas keseharian orang kecil. Tawaran yang mengajak para sejarawan akademik keluar dari bingkai ideologis yang bersifat doktriner ini menjanjikan sebuah kehidupan intelektual dengan cara berpikir yang berdimensi kritis dan manusiawi.

Dengan kata lain, sejarah tidak lagi sekadar menghadirkan peristiwa dari/di masa lalu, tetapi juga mampu mengisi kekosongan yang selama ini terlanjur dikonstruksi dalam (dis)orientasi sejarah yang dipandang akademik dan/atau ilmiah. Kekosongan itulah yang salah satunya telah diisi oleh para “sejarawan amatir” seperti novelis, cerpenis, atau arsitek sekalipun, untuk menjadikan sejarah sebagai media pencerahan. Singkatnya, sejarah difungsikan benar-benar sebagai sebuah kritik sosial yang oleh sejarawan Kuntowijoyo (2004) telah dirintis lewat beberapa kajiannya tentang “sejarah kejiwaan, sejarah mentalitas, sejarah sensibilitas.”

Dengan tawaran seperti di atas, sejarah Supersemar pun sah-sah saja untuk ditulis dalam kajian sastrawi. Kajian yang bukan sekadar menyuratkan tanda-tanda dari/di masa silam ini mampu menubuatkan apa yang akan menjelang di masa depan tatkala di masa kini Supersemar masih diperlakukan sebagai mustika, jimat, atau fetish yang ampuh sebagaimana dikisahkan dalam novel di atas. Fetisisme yang memberi keamanan dan keselamatan ini di satu pihak dapat dibaca sebagai bentuk kehausan atau kerakusan pasar terhadap tanda-tanda dari dunia hidup sehari-hari, baik yang real maupun yang virtual.

BACA JUGA :   Hiduplah Sebagai Sahabat bagi Semua Orang

Namun di lain pihak juga masih tersedia kemungkinan untuk menafsirnya sebagai bentuk pelecehan, bahkan perlawanan, atas kekuasaan yang tidak pernah puas mencari atau memburu kebanggaan dan kenikmatan demi kepentingan diri/kelompoknya sendiri. Maka, Supersemar menjadi penanda sejarah yang penting bagi masyarakat Indonesia untuk menemukan konstruk kehidupan sosial, politik, dan budaya dari pemerintahan Orde Baru yang pernah berkuasa lebih dari 30 tahun lamanya.

Penting untuk dicatat bahwa konstruk kekuasaan yang dilegitimasi melalui Supersemar itu didahului dengan pembunuhan massal terhadap ribuan, bahkan jutaan, orang yang diduga berkaitan dengan komunisme. Diikuti pula dengan pembuangan dan pen-cap-an terhadap siapa pun yang berurusan dengannya tanpa melalui mekanisme hukum yang jelas. Meski peristiwa-peristiwa tak layak didengar, apalagi diceritakan, syukurlah pendekatan yang sastrawi memberi tempat untuk menyuarakannya secara lebih nyaring. Tak heran, sejarah Supersemar yang dikisahkan melalui pendekatan itu mampu menuliskan hal dan masalah yang langka dan dibuang dari pikiran, termasuk peristiwa 1965-1966.

BACA JUGA :   Paus Fransiskus mengunjungi UEA : Kita Bersaudara Dalam Satu Pelukan Kasih

Penulisan ulang sejarah Supersemar dengan pendekatan sastrawi memang menjadi titik balik untuk merekonstruksi sejarah Orde Baru. Sejarah yang dikendalikan dan dibentuk dari “dapur” kemiliteran itu praktis menyimpan banyak kenangan yang tersembunyi dalam catatan, bahkan ingatan, tentang sisi-sisi militeristiknya.

Masuk akal jika tidak mudah lagi untuk membongkar, apalagi menyebarluaskan, berbagai peristiwa yang sarat dengan kekejamannya. Supersemar yang telah menjadi “jimat” untuk mensterilkan segala akibat yang tak tertanggungkan dari/di masa lalu itu tampak mendesak untuk dikaji ulang. Bukan semata-mata karena hilangnya sebagian rekam jejak dari ”surat sakti” itu, tetapi lantaran ada kekejaman yang selalu ditegakkan dengan bahasa kosong.

Supersemar sesungguhnya adalah bahasa kosong yang dipakai untuk melegitimasi kekuasaan Orde Baru. Bahasa itu berfungsi untuk meratakan, menghaluskan dan memperlancar jalannya kekuasaan yang dibangun di atas landasan rezim militeristik. Karena itu, bahasanya selalu dirawat dan dijaga agar tidak mencelakakan, bahkan mengancam, para penggunanya.

Syukurlah, bahasa yang selalu tampil bersih dan rapi itu lambat laun kelihatan bolong-bolong atau retak-retaknya. Artinya, Supersemar hanya dipandang sebagai bahasa “resmi”, sementara ada bahasa “tak terdengar” yang menganggapnya sebagai klenik atau gaib yang tak terjelaskan, bahkan membingungkan. Di sinilah perspektif dari pendekatan sejarah yang sastrawi dapat memberi penjelasan terhadap sesuatu yang tidak jelas agar masyarakat tidak tinggal dalam kebingungan untuk menafsir masa lalu dari Supersemar.

Please share,